
Saya mengetahui tentang Obelix Hills dari media sosial. Sejak dibuka pada Mei 2021, tempat ini tampaknya ramai dikunjungi banyak wisatawan. Memiliki pemandangan alam yang menawan, Obelix Hills mendadak hits dengan begitu banyak foto yang beredar di ruang publik
Rasa penasaran saya semakin menjadi-jadi saat beberapa teman di Yogyakarta turut menginformasikan tentang popularitas Obelix Hills dengan pemandangan alam yang menawan dan banyak spot foto yang instagrammable. Jadi saat memutuskan liburan ke Yogyakarta bersama si bungsu, Obelix Hills langsung masuk ke dalam salah satu agenda kami.
Tak boleh terlewatkan pokoknya.
Setelah berdiskusi dengan Mas Yudi, driver mobil sewaan, sehari sebelum menjelajah dia mengusulkan saya untuk ke Candi Boko, Pantai Parangtritis, dan Tebing Breksi terlebih dahulu sebelum akhirnya ke Obelix Hills di hari yang sama. Semua diatur dengan tujuan agar arah dan waktu bisa diatur se-efisien dan se-efektif mungkin.
Setelah melihat google maps dengan lebih teliti dan memenuhi permintaan si bungsu untuk sedikit berlama-lama di Pantai Parangtritis, akhirnya saya memutuskan untuk melewatkan kunjungan ke Tebing Breksi. Seperti skenario yang biasa terjadi dan dalam rangka menerapkan konsep slow traveling, dalam sehari memang baiknya maksimum hanya 3-4 destinasi saja.
Yah setidaknya kita tidak diuber-uber waktu dan bisa explore sepuas mungkin tanpa harus terburu-buru. Siapa tahu juga menemukan banyak hal menarik di tempat yang sedang dikunjungi dan sayang untuk dilewatkan begitu saja. Toh kita melakukannya dalam rangka liburan. Masa di mana waktu seakan berjalan santai dan wajib dinikmati dengan hati gembira di setiap detiknya.
Tentang Yogyakarta : Keraton Ratu Boko. Saat Keindahan Sejarah Terukir di Yogyakarta
Mas Yudi sebelumnya sempat menginformasikan bahwa the best time untuk berada di Obelix Hills adalah di waktu sunset. Bener sih. Saya juga lihat berbagai keseruan para tamu saat sunset yang ditampilkan di akun IG Obelix Hills. Tapi karena di malam itu saya dan si bungsu sudah mengatur waktu untuk makan malam di restoran Roka Ramen yang sudah lama diincar si bungsu, program ngubek-ngeubek Obelix Hills pun direncanakan tidak akan lama. Setidaknya maksimum pkl. 16:00 wib kami sudah turun dan masuk jalur menuju dalam kota Yogyakarta kembali.
Pengaturan ini ternyata sangat tepat. Karena ternyata perjalanan menuju Obelix yang berliku-liku dengan jalur jalan yang cukup sempit, melewati pegunungan dan rumah penduduk, membuat jalur ke dan dari Obelix Hills cukup memakan waktu. Secara teori hanya 1 jam sekali jalan, nyatanya harus lebih dari itu. Apalagi di saat saya menyusur jalan, volume kendaraan cukup padat. Sempat pula berpapasan dengan sebuah bis yang makan jalan dan mengakibatkan mobil-mobil pribadi harus mengalah. Jalannya lumayan sempit dan berkelok-kelok soalnya. Jadi meskipun yang lewat adalah bis 25 seats, tetap aja harus hati-hati dalam berbagi jalur.
Masukan dari Mas Yudi ini cukup bikin saya terpana. Saya dan si bungsu yang akhirnya pulang pkl. 17:00 wib, harus menunggu antrian penjemputan karena tamu-tamu semakin banyak yang baru datang. Tentu saja karena mengejar sunset. Saking ramenya, mobil-mobil pun harus mengantri menurunkan tamu dan pelan-pelan menggapai area parkir. Kebetulan saat itu area parkir ini sedang ada perluasan dan perbaikan. Jadi cukup riweh bagi kendaraan untuk memutar dan atau mengatur posisi parkir di tempat yang tepat.
Tentang Yogyakarta : Mengukir Kenangan Mengenakan Kebaya di Malioboro Yogyakarta
Menyusur Berbagai Fasilitas di Obelix Hills
Tepat seusai makan siang dan melewati tantangan jalur berliku-liku, saya tiba di Obelix Hills sekitar pkl. 13:30 wib. Saat itu suasana lobby dan halaman depan masih terlihat sepi. Hanya ada beberapa tamu yang sedang bergerombol di depan. Setidaknya tidak seramai dan sepadat yang saya bayangkan.
Antrean membeli tiket tidak memanjang. Selain karena masih sepi, loketnya lumayan banyak. Jumlah dan keberadaan petugas sangat membantu mengarahkan jadi proses pelayanan pun tidak mengalami hambatan.
Dengan membayar Rp30.000,00/orang saya dan si bungsu sudah bisa melenggang masuk ke dalam destinasi wisata ini untuk menikmati puluhan sudut fasilitas foto istagenic yang tersebar di berbagai area. Karcis seharga ini belum termasuk beberapa spot foto berbayar seperti swings (Rp30.000,00 – Rp50.000,00), eagle nest (Rp15.000,00), dan sky walk (Rp25.000,00).
Yuk ah kita kemon. Saya sudah menyiapkan tenaga sebanyak-banyaknya agar bisa menyusur setiap fasilitas yang ada satu persatu, di atas tanah dan perbukitan batu seluas 8 hektar ini.

Tentang Yogyakarta : Menyusur Cerita Lawas Pasar Beringharjo Yogyakarta
Dari pintu masuk utama, persisnya di sebelah kiri jejeran loket tadi, saya dan si bungsu sengaja berbelok ke kiri. Di belokannya itu ada gerai gelato dan makanan Italia dengan gedung mini yang terlihat sangat menarik perhatian. Di depan kedua gerai ini bertebaran tempat duduk yang tentu saja disediakan untuk tetamu mereka. Di sampingnya ada pagar besi hitam, sederetan taman bunga dan penghijauan yang cukup mengesankan.
Di atasnya ada tempat yang lapang dengan konsep roof top untuk para tamu duduk-duduk. Untuk menggapai area di atas itu kita melewati sebuah teras terbuka yang menjorok ke arah jurang serta pemandangan Pantai Selatan dari kejauhan.
Ada tangga besi kokoh yang mengantarkan kita ke lantai atas. Berhenti sebentar di teras dekat tangga besi ini, saya melihat luasnya hutan di sebuah perbukitan, lalu ada bangunan besar yang sepertinya adalah juga tempat hiburan, yang semuanya menghadap ke pantai selatan.
Di sini tersedia kembali teras yang sangat luas dengan banyak tempat duduk yang sepertinya bisalah menampung sekitar hampir 100 orang. Di salah satu sisinya kemudian ada tangga yang memungkinkan kita menyusur bukit berbatuan dan terhubung dengan sisi lain dari berbagai fasilitas yang ada.
Di salah satu tautan, saya sempat membaca bahwa deretan bebatuan ini adalah sebuah warisan sejarah yang sudah ada sejak ribuan tahun yang lalu. Karena itu mereka menyebutkan bahwa bebatuan ini adalah batuan purba. Banyak pengunjung yang melangkah ke arah ini karena saya yakin di atas ketinggian tersebut, jarak pandang dan pemandangan indah yang lebih luas bisa dinikmati di sana.
Melihat bertebarannya batu-batu besar dan kokoh di area ini, saya mendadak teringat akan film dan komik OBELIX. Lelaki keturunan Romawi dengan tubuh tambun dan tinggi besar. Obelix berkumis dan memiliki rambut rada panjang yang dikepang dua. Dia mengenakan celana garis-garis putih biru dan sebuah ikat pinggang besar di pinggangnya. Topinya juga unik. Bentuknya seperti mangkok besar yang menutupi setengah kepalanya. Dalam beberapa foto atau coretan komik karakter, Obelix seringkali ditampilkan sedang membawa atau memanggul batu menhir yang besar dan tinggi. Menunjukkan bagaimana kuatnya seorang Obelix.
Obelix bersahabat baik dengan ASTERIX. Seorang lelaki kecil yang cerdik, pandai tapi terkadang pandir. Asterix mengandalkan otak sementara Obelix mengandalkan tenaga dan kepolosannya.
Kombinasi karakter yang saling mengisi.
Mungkin gak sih cerita tentang Obelix di komik tersebut lah yang mengilhami manajemen Obelix Hills dalam pemilihan nama dari tempat wisata alam dan photography serta aneka entertainment ini?
Bisa jadi ya. Karena penokohan atau karakter Obelix sendiri dilukiskan sebagai orang yang setia, konsisten, dan bisa dipercaya serta patut untuk dijadikan profile image.


Tentang Yogyakarta : Menyusur Keindahan Taman Sari Yogyakarta
Usai menikmati setiap sudut di sisi yang penuh dengan tumpukan batu-batu besar ini, saya menuju mengajak kaki untuk melangkah ke sisi yang lain. Tadi saat berada di teras atas, saya melihat sebuah bangunan besar tinggi dengan jembatan yang meliuk indah. Tempat yang belakangan saya ketahui adalah Resto Pulen Kopi Ponti. Sebuah restoran yang menghidangkan banyak masakan tradisional nusantara, khususnya kuliner khas Yogyakarta.
Saya awalnya berniat untuk ngopi di resto ini karena mereka memiliki area teras terbuka yang menjorok dan menghadap ke berbagai spot foto yang ada di bawahnya. Area pandangnya sungguh luar biasa. Tapi niat ini terpaksa saya urungkan mengingat waktu yang sangat terbatas. Apalagi kemudian saya lihat restoran ini sangat penuh oleh serombongan wisatawan domestik yang sepertinya sudah memesan resto untuk acara mereka. Gak enak juga ya nyempil di salah satu sudut dan jadi “orang asing” di antara sekelompok homogen.
Melewati jalan yang ada di bawah resto dan jembatan meliuk itu, saya melihat space dengan rumput buatan. Di atasnya bertebaran bean bags warna-warni. Lumayan banyak jumlahnya. Terlihat para tamu gegoleran santai atau orang tua yang anteng menunggu anak-anaknya bermain di situ. Mungkin akan lebih seru kalau bisa piknik sembari membawa camilan di sini ya.
Yuk jalan lagi.
Saya kemudian menyusur jalan setapak yang sungguh lebar. Jalan ini terbagi 2. Saya memutuskan untuk ke arah kanan. Saya tertarik ke sisi ini karena di sebelah kanan ada serangkaian dudukan dengan dinding bebatuan yang tertata begitu estetik. Di sisi paling ujung ada sebuah bangunan dengan sentuhan warna tanah yanyang sangat menarik perhatian. Dan seperti yang saya perkirakan, bangunan ini adalah resto dengan beberapa booth yang menjual banyak jenis jajanan. Lalu ada toilet dengan banyak pintu yang terjaga kebersihannya.
Di sisi yang paling ujung dan mendekat ke sebuah bukit yang masih menghijau, ada spot foto skywalk. Tempat berfoto dengan lantai kaca yang sangat dinikmati oleh banyak orang. Ngantrinya yahud banget deh.
Satu yang paling menarik di sisi ini adalah sebuah lahan pertunjukkan terbuka dengan barisan tempat duduk berbentuk setengah lingkaran dan berkonsep theater. Lantai tempat performance nya sendiri berbentuk lingkaran dengan sebuah pemandangan asri berupa perbukitan hutan dan pantai selatan. Lantainya sendiri bertuliskan nama salah satu jenama skincare yang cukup populer di tanah air. Rangkaian tempat duduknya sendiri hadir dengan shocking colors yang tersusun indah. Jadi tak kaget saat saya tempat ini dinamakan Mozaic Amphitheater.
Saat saya mendekat, panggung sedang bersiap-siap menampilkan sebuah band. Kalau lihat dari pakaian yang mereka kenakan, tampilannya persis seperti Dewa 19. Salah satu band domestik yang berdiri dan mulai popular saat saya masih di bangku SMA. Bener aja. Persis sesuai dugaan genre nya dominan di lagu-lagu seangkatan saya meski banyak juga menampilkan lagu-lagu dangdut populer seperti “Rungkat” dan masih banyak lagu lain yang diminta oleh para pengunjung. Yang pasti mereka sangat komunikatif dan melibatkan penonton untuk mau tampil di lingkaran panggung. Heboh luar biasa.
Request saya agar mereka memainkan lagu dari Queen dan Bon Jovi pun dikabulkan. Sang vokalis malah sempat sambil bercanda ngomong begini “Kalau lihat dari request nya ketahuan banget ini kelahiran tahun berapa.” Saya ngakak dan melambaikan tangan lalu mengacungkan jempol.
Sang vokalis sempat mengajak saya tampil berduet dengan lagu I Was Born to Love You (Queen) dan Bed of Roses plus Living on Prayer (Bon Jovi) yang saya minta. Tapi janganlah senekat itu ya. Takut taik telinga orang berloncatan dan ayam mati seketika karena mendengarkan suara saya.
Saya sempat hampir lupa waktu di sini kalau si bungsu tidak mengingatkan untuk segera beranjak. Tapi sebelum pergi tentu saja disempatkan memberikan tip bagi mereka. Ada kotak kayu dengan bolongan yang bentuknya persis kotak amal di masjid atau bisa juga melakukan transaksi keuangan lewat QRIS. Mereka menyediakan loh barcode yang bisa kita scan. Memudahkan bangetlah pokoknya.
Oia, saya sempat menilik akun resmi IG milik Obelix Hills dan menelusur informasi tentang panggung ini. Ternyata banyak yang menarik loh. Selain band kekinian, mereka juga menghadirkan berbagai pertunjukan seni tradisional atau menggabungkan antara sentuhan tradisional dengan seni modern. Tampilannya gemerlap dan bikin kita berdecak kagum.
Yok sekarang kita pindah lagi ke sisi yang berbeda.


Nah di sisi yang berbeda ini saya menemukan 2 buah spot foto berbayar. Swings dan Eagle Nets. Di dekatnya ada area duduk yang luas banget dengan bean bags dan banyak meja berwarna-warni. Saya memutuskan untuk mencoba Eagle Nets yang saat itu sedang tidak ada antrian.
Rasanya? Beeuuhhh sensasi dan tantangannya lumayan sih. Maklum. Posisinya ada di atas jurang dengan jalinan tali yang lumayan jarang-jarang dan diameter yang tidak terlalu besar. Melangkah pun gak bisa sambil berdiri. Harus merangkak. Saya coba meloloskan kaki diantara lubang jaring itu. Ukurannya bisa tembus sampe ke paha atas saya. Si Mas dan si bungsu meminta saya meraih posisi paling ujung tapi baru setengah perjalanan saya sudah menyerah.
Selepas perjuangan di Eagle Nets sesiangan itu, saya dan si bungsu memutuskan untuk menyudahi kunjungan kami. Keramaian pengunjung yang mulai penuh sesak membuat saya mulai kurang nyaman. Apalagi setelah mempertimbangkan kemauan si bungsu untuk menikmati sajian makan malam di dalam kota Yogyakarta. Kami setidaknya butuh minimum 1 jam agar bisa menikmati lalu lintas yang ternyata diramaikan oleh hujan deras.
Destinasi wisata yang berada di Sleman ini sudah meninggalkan kesan yang sangat menyenangkan buat saya. Kekaguman saya akan kelihaian manusia dalam menata dan mendirikan bangunan yang kokoh, cantik, breath taking, serta dengan tetap mempertahankan bebatuan purba tersebut, tidak surut saat duduk di teras depan Obelix Hills.
Sebelum keluar dari kawasan hiburan ini, semua pengunjung diarahkan untuk melewati sebuah toko atau rumah oleh-oleh dengan aneka produk pilihan yang menarik hati. Si bungsu sempat membeli salah satu kaos sebagai kenang-kenangan.







Menikmati foto-fotonya kakak di Obelix Hills ini emang bagus banget sih. Terus kayaknya emang bener dah. Pemilihan nama lokasinya emang ada sangkut pautnya sama karakter Obelix.
Main ke sini bersama keluarga Mbak Yuni. Tempatnya luas, nyenengin, dan cocok untuk rekreasi keluarga. Banyak tempat main, foto-foto, dan kumpul-kumpul. Saya juga pengen balik balik untuk menikmati sunset.
Apaa? Bu Annie request lagunya Bon Jovi? Wuaaah.. Mana judul lagunya itu lagi, lagu kesukaan senior daku itu soalnya Bu hahah.
Daku bekum pernah ke Sleman. Membaca ini bisa masuk itinerary nih, soalnya sepanjang perjalanan asikยฒ dari yang Obelisk sampe Eagle Nets. Apalagi cuaca nya bersahabat buat pepohonan jadinya cerah
Hahahaha iya dong Fen. Di zaman gue SMA, Bon Jovi, Nirvana, Queen, dll tuh sedang di masa/puncak popularitas mereka. Waktu itu lagi musim poster-poster dinding dan produk musik masih dalam bentuk kaset. Saya bahkan rutin nonton live performance mereka di Jakarta dan Surabaya. Seru banget lah pokoknya. Un forgettable pastinya. Apalai terus perginya bareng temen2 sefrekuensi.
Memang sejak baca nama destinasi wisatanya pikiran langsung melayang ke si Obelixnya Asterix Mbak.. Bisa jadi karena warna bebatuan alaminya juga agak kemerahan seperti warna rambutnya ya.
Duh jadi kangen baca komiknya huehehe
Kayaknya saya bakal enjoy kalau main ke sini karena kedai gelato-nya aja warnanya pink favorit sama banyak spot foto dari ketinggian yg saya suka banget
Saya pengen balik lagi. Pengen nongkrong berlama-lama di sky restaurant itu. Menghabiskan waktu dengan makan enak dan memandangi sunset. Kebayang senengnya.
Waah seru banget memang ya ke obelix ini, di setiap sudutnya pengen diabadikan. Semua saking cantiknya. Next pengen kesini bareng suami ah .. kapan hari kesini hanya dengan teman-teman soalnya
Yuk Mbak. Bikin banyak foto tuliskannya di blog. Buat kenang-kenangan dan bisa jadi referensi bagi para pelancong untuk berkunjung ke Obelix.
Foto-foto mba Annie di Obelix Hills sukses membuat penasaran untuk melihat view alamnya yang memang menawan banget. Spot foto kekinian bonus tambahan yg membuat objek wisata ini maki oke. Masuk list kunjungan kalau ada rezeki main ke Sleman.
Aamiin Yaa Rabbalalaamiin. Semoga ada rezeki waktu dan kesehatan untuk sampai di OBELIX ya Mbak. Datang bersama keluarga bakal seru banget.
Bener-bener slow travelling ya mbak annie. Sy kok penasaran itu gimana caranya nyisihiin budget untuk bisa travelling sesuai ekspektasi. Karena menyimak dan baca ulasannya mbak annie aku merasa ikutan travelling online . Apa karena tulisannya enak dibaca ya ?
Dan, daku baru tahu ada obelix hills. Kalau gelato di jogja sudah pernah.
Biasanya rencana traveling tahun yang berlangsung sudah direncanakan di tahun sebelumnya. Apalagi yang butuh dana besar dan persiapan yang cukup panjang. Jadi intentionally nabung dan mengatur waktunya. Tapi kalau untuk perjalanan domestik, rencananya biasanya hanya dalam hitungan bulan.
Nah gelato yang ada di Prawirotaman mau saya tuliskan setelah ini. Sempat mampir juga ke sana dan foto-foto.
Begitu lihat judul Obelix Hills langsung inget temennya Asterix yang bertubuh tambun dan kuat mengangkat batu ini
Ternyata Mbak Annie juga tahu tentang komik yang berasal dari Perancis ini ya?
Jadi tergelitik pingin nanya, mereka udah minta izin belum ya?
Nama ini pastinya merupakan hak cipta Renรฉ Goscinny dan Albert Uderzo, jadi gak bisa dipake begitu saja
Nah perlu dikulik juga ini kali ya Mbak. Karena tentunya penamaan OBELIX sudah ada hak patennya. Semoga sudah diuruskan oleh manajemen sebelum tempat ini beroperasi secara resmi.
Bagus banget view nya ya jadi kangen Yogya euy,.. btw warna terakota ubinnya mengingatkan saya pada sesuatu di sebuah tempat tapi lupa namnya heheh cantik banget ya warna ubin seperti itu..
Ubin dengan design lawas memang lagi happening nih Yu. Saya juga jadi jatuh cinta dan pengen pasang di ruang kerja. Warna ademnya juga menyegarkan mata.