
Tjokro Style, Hotel Bintang Tiga yang Stylist di Jogjakarta | Hotel Review & Travel | April 2026
Selalu ada alasan seru untuk kembali mengunjungi Jogjakarta. Kali itu dalam rangka mengantar si sulung. Cuma tiga hari dua malam saja. Tapi saya lagi-lagi menemukan beberapa tempat yang layak untuk diulas. Termasuk Tjokro Style Hotel ini
Saat itu saya mendadak teringat akan salah satu hotel dengan jejaring bintang lima yang sudah bulanan mengundang saya untuk menginap di tempat mereka dan menghadirkan profil mereka di blog saya ini. Pucuk dicinta ulam pun tiba. Alasan untuk ke Jogjakarta itu pun tiba juga. Saya langsung menghubungi untuk menyampatkan diri menginap di tempat mereka. Tapi karena mereka memfasilitasi penginapan gratis hanya satu malam, saya pun mencari hotel lain untuk malam berikutnya.
Meski pilihan hotel berhamburan di OTA, saya kali ini mencoba menyusur referensi dari Google saja. Keyword yang saya gunakan saat itu adalah hotel unik dan stylist di Jogjakarta. Dan ternyata yang muncul berlimpah ruah. Ada kali ratusan. Omakjang. Pencarian pun akhirnya berlarut-larut karena saking banyaknya.
Seleksi berikutnya jatuh pada harga. Menyesuaikan dompet saja. Yang pasti tidak boleh lebih dari 600-an ribu (termasuk pajak). Tampak agak sulit tapi ternyata masih juga tetap banyak. Puluhan. Yasudah berarti memang harus sabar menyusur sana sini. Hingga pilihan itu jatuh pada sepuluh teratas, keputusan langsung saya berikan kepada suami. Bintang empat langsung dieliminasi karena saat saya browsing ke beberapa tautan eeehh harganya berbeda dong. Antara yang ditampilkan dengan saat kita nge-klik tautannya. Ada taktik tersembunyi dalam menampilkan harga.
Lupakan. Prioritas pada bintang tiga saja kalau begitu.
Kenapa tidak karena alasan lokasi? Karena saya akan menyusur banyak tempat dengan lokasi di pinggiran kota, saya tidak memaksakan diri untuk picky pada urusan ini. Yah seluas-luasnya dan sejauh-jauhnya Jogjakarta, rentang waktu yang dibutuhkan untuk transportasi tuh masih acceptable. Apalagi saya datang bukan di peak season atau masa liburan.
Long story short, reservasi kamar tipe Superior di Tjokro Style Jogjakarta pun tersambung di WA saya. Hotel bintang tiga yang stylist dan berada di seputaran Umbulharjo, Sleman.


Menyusur Rangkaian Foto Menarik
Sesaat setelah konfirmasi pesanan kamar tersebut hinggap di WA, saya langsung menyusur akun IG @tjokrostyleyogyakarta untuk menikmati sekian banyak informasi tentang hotel bintang tiga ini. Lalu ditambah dengan ekstra waktu untuk mengintip www.tjokrostyle.com sebagai official website mereka.
Ada beberapa hal yang langsung menjadi poin penting dan istimewa untuk hotel ini. Sebagai seseorang yang puluhan tahun bergelut di dunia kreatif, hal pertama yang lama saya perhatikan adalah tentang sentuhan kaya warna yang ada di Tjokro Style ini. Tempatnya berkelimpahan produk atau karya handmade indah yang menemani.
Atmosphere nya unik dan menyenangkan banget. Menggabungkan sentuhan desain modern dengan nuansa etnik sekaligus unik. Cocok banget untuk mereka yang suka dengan fotografi dalam ruang. Rangkaian tata keindahan ini juga menampilkan suasana alam serta kekayaan budaya tanah air. Kain batik dengan corak beragam mendampingi kayu dengan warna-warna mencolok, diikuti oleh furniture yang dihadirkan lewat banyak shocking color.
Bagaimana dengan hasilnya? Apakah yang difoto setara dengan apa yang saya lihat langsung?
Gak perlu kalimat berpanjang-panjang, semua sudah saya rekam dan tampilkan di sini. Entah berapa puluh foto yang saya sortir dan sangat terpaksa saya kembalikan ke folder karena sulitnya bagi saya untuk memilih. Berapa waktu yang saya butuhkan dalam merinci dan lelahnya mata mengamati dan ikut menyeleksi. Hingga akhirnya tak bisa membatasi diri dengan hanya puluhan foto saja.
Jadi, selamat menikmati beberapa hasil jepretan saya di sini ya. Semoga bisa mewakili kesan artsy dan stylist yang dihadirkan oleh Tjokro Style Hotel Jogjakarta.


Menemukan Banyak Sudut Indah
Saya tiba di Tjokro Style Hotel di kawasan Umbul Harjo setelah sempat nyasar ke Grand Tjokro Hotel di kawasan Caturtunggal. Keduanya berada di Sleman dan di bawah manajemen yang sama yaitu SAS Hospitality. Hanya berbeda kelas aja. Jika Tjokro Style berbintang tiga, Grand Tjokro berbintang empat.
Saat itu sudah lewat jam awal check in. Sekitar pukul 16.00 WIB. Jadi saya tidak mengalami kesulitan dan antrian saat mendaftar masuk.
Bangunan/gedungnya sendiri agak menjorok ke dalam di atas tanah memanjang. Di halaman depannya digunakan untuk parkir kendaraan dengan susunan miring kanan dan kiri. Jadi keluar masuk kendaraan cukup tricky juga. Harus atret jika parkiran penuh.
Ceiling tinggi dan jangkung langsung terlihat saat berada di teras depan pintu masuk utama. Selangkah masuk, indra penglihatan saya langsung diserbu oleh serangkaian sudut indah yang menyegarkan dan mengganti suhu panas di luaran. Banyak dekorasi dalam ruang bertebaran yang membuat hotel ini terlihat berbeda dan punya ciri khusus. Tidak mewah tapi menyegarkan.
Atap dengan potongan-potongan kain berwarna-warni dengan motif beragam terpasang di langit-langit. Di bawah nya terdapat beberapa sofa yang terbungkus kain berwarna gonjreng. Ada juga sebuah outlet terbuka yang menawarkan banyak produk UKM di bidang fashion (baju, celana, outer batik) lalu ada aneka tas, kemudian beberapa buah tangan dalam beberapa bentuk (gantungan kunci, tempelan kulkas, sandal, dll.). Saya bolak-balik ke sudut ini hingga akhirnya mengadopsi celana panjang dan outer batik, sling bag batik berkombinasi dengan kulit. Semua ditawarkan dengan harga kompetitif, bahkan ada yang di bawah harga pasar umum Jogjakarta dengan kualitas yang oke banget. Untuk pencatatan dan pembayaran kita bisa langsung menghubungi receptionist yang sedang bertugas. Pembayaran cash atau cashless akan diterima dengan baik.
Di ruang besar penerimaan tamu ini juga ada kursi pijat besar yang bersebelahan dengan meja khusus welcome drink. Sayang minumannya sedang habis karena saya memang datang terlalu sore. Jadi tidak sempat saya nikmati.
Di dekat pintu masuk tadi, ada sebuah becak dengan dudukan lebar yang menarik hati. Becak ini berada tak jauh dari tangga menuju lantai satu (lantai di atasnya), di mana berbagai function room berada. Becaknya lucu banget. Dibuat dengan dudukan lebar. Muatlah sekitar tiga orang perempuan seukuran saya dengan nama hotel di atapnya. Pokoknya wajib berfoto di sini ya. Angle nya bisa dari tangga biar lebih unik. Lebih oke lagi kalau mengenakan kebaya dan kain batik. Duh, nuansa pas dan bagus banget.
Di dinding besar tinggi dekat sofa colorful tadi, ada dua poster besar terpampang. Salah satunya adalah Marylin Monroe dengan posenya yang khas. Model, blonde bombshell, dan bintang film fenomenal Amerika ini sempat diisukan memiliki hubungan terlarang dengan John F. Kennedy. Di sebelahnya ada poster seorang lelaki dalam balutan jas dengan rokok tertambat di bibirnya. Jika saya tidak salah duga, sepertinya itu adalah Johnny Cash. Penyanyi dan arranger asal Amerika yang karirnya tak begitu saya ikuti. Keduanya punya tempat istimewa di dunia atau bisnis entertainment di sana.
Satu lagi yang terlihat istimewa di lantai ini adalah ruang kerja para penerima tamu. Awalnya saya tidak begitu memperhatikan. Tapi saat saya sedikit berbincang dengan salah seorang petugas untuk menanyakan tempat makan yang recommended di sekitaran hotel, saya melihat backdrop yang klasik dengan ide brilian. Di dinding belakang itu ada setumpukan gelondongan kayu-kayu kecil yang disusun apik sedemikian rupa. Ya ampun cakep banget. Touch of art yang menonjolkan suasana natural dan sedap dipandang mata.
Dari obrolan dengan petugas tentang resto ini, saya akhirnya baru ngeh kalau Tjokro Style Hotel berada tak jauh dari Roka Ramen. Resto ramen yang sudah berulangkali saya sambangi dengan banyak orang berbeda dan tentu saja memegang rating tinggi dari serangkaian kedai ramen yang sudah saya coba. Ulasan tentang Roka Ramen ada di tautan di bawah ini ya.


Yuk. Sekarang lanjut dengan penemuan saya berikutnya.
Penasaran dengan apa yang saya lihat di media sosial, saya kemudian menyusur tangga yang tersedia di dekat pintu masuk hotel. Melihat posisinya, saya kemudian menyadari bahwa tangga inilah yang menjadi jembatan bagi para tetamu yang akan berkegiatan di beberapa function rooms di lantai atas dengan berbagai sudut area menunggu yang artistik betul.
Persis di ujung tangga, saya menemukan area menunggu yang estetik. Ada sofa dengan karakter yang sama dengan yang ada di lobi tadi. Salah satu dinding dipenuhi oleh berbagai jendela kayu warna-warni dan disusun tidak seragam. Ada yang tegak berdiri dalam posisi vertikal dan ada juga yang horisontal. Peletakannya juga tidak selalu simetris. Begitu pun dengan ukuran dan modelnya.
Nyeni banget lah pokoknya. Kebetulan saat saya berfoto suasana lagi sepi. Jadi puas memotret dalam berbagai sisi.
Menapaki jalan menuju beberapa function rooms di lantai ini, saya kembali terpana dengan hiasan kain batik berwarna-warni di bagian atap yang dibuat mirip seperti yang saya lihat di ruang penerimaan tamu di lantai bawah. Persis di depan lift ada beberapa sofa berwarna dan rangkaian poster indah. Salah satunya menampilkan Al Pacino yang bernama asli Alfredo James Pacino. Aktor kelas VIP asal Amerika ini sudah memainkan banyak film laris dan mendapatkan penghargaan internasional. Udah gak terhitung prestasinya. Dari sekian banyak karya sinema yang dia mainkan, saya begitu terkesan dengan perannya sebagai don Corleone untuk serial film Godfather.

Sentuhan Artistik di Citrus Restoran
Saya bangun cukup kesiangan di pagi itu. Kelelahan mengikuti rangkaian kegiatan di hari sebelumnya dan pergi makan malam bersama si sulung hingga larut malam, membuat saya tak sanggup melepaskan diri dari selimut yang nyaman. Begitu pun si sulung.
Perut keroncongan dan sinar matahari yang mulai meninggi lah yang membuat kami terbangun dan bersegera bersiap diri. Si sulung masih ingin ke beberapa tempat dulu di Malioboro sebelum akhirnya menuju Stasiun Tugu untuk kembali ke Jakarta. Untungnya di malam sebelumnya baju-baju sudah rapi di dalam koper. Baju yang akan dikenakan hari itu sudah saya siapkan di gantungan. Jadi hanya tinggal baju tidur yang dikenakan saat itu beserta perlengkapan mandi yang harus dibereskan.
Dan karena datang di waktu yang mepet dengan batas sarapan, hidangan pun – sepertinya – tak sebanyak yang saya harapkan. Gak banyak pilihan. Jadi harus rela makan seadanya. Yah gapapa. Begitulah resiko nya kalau bangun kesiangan. Dan eh si sulung pun sebenarnya dah ngincer sarapan di tempat lain.
Asyiknya datang di late time, pengunjung biasanya sudah gak banyak. Kondisi ini justru membuat saya jadi lebih bebas memotret.
Citrus Restoran yang ada di lantai dasar ini kemudian membuat saya kembali terjebak dalam kekaguman. Bukan karena makanannya tapi keindahan dekorasinya. Konsep desain atapnya sama persis dengan apa yang saya lihat di sepanjang jalan lantai dasar dan lantai satu. Tapi karena ruangan di restoran ini lebih luas, kehadiran dekorasi jendela itu terasa lebih mudah menarik perhatian. Terasa lebih “menguasai” apa pun yang ada di bawahnya.
Sembari duduk di salah kursi kayu, saya menatapi langit-langit ini penuh kekaguman. Kebayang ya bagaimana keras usaha para pekerja dekorasi untuk memasang sekian banyak hiasan kayu ini, karena mereka harus memastikan sisi keamanannya bagi para tamu hotel. Ada satu yang menurut over expose dan atau tidak tepat dikombinasikan dengan dekorasi atap itu. Wallpaper nya, menurut saya, akan lebih baik jika menggunakan yang polos saja agar pusat perhatian tamu tidak terpecah. Jika pun ada dekorasi dinding, sebaiknya tidak begitu banyak dengan warna yang terkombinasi apik dengan cat dindingnya.
Di beberapa sudut saya juga melihat beberapa gentong besar yang diwarnai. Ini digunakan untuk alas sajian pilihan minuman. Beberapa dinding juga dipasang mural. Jadi memang Tjokro Style Hotel ini berusaha menampilkan berbagai keunikan dengan deretan warna yang menarik perhatian.




Selesai menghabiskan makan pagi seadanya, saya bergegas di sisi paling belakang dari lantai dasar ini. Ternyata di bagian ini ada kolam renang dengan beberapa tempat duduk dan pepohonan di bagian pinggir. dengan alas pijakan terbuat dari kayu. Kalau mengamati ukurannya sih sepertinya kolam ini lebih diprioritaskan lebih untuk anak-anak atau sekedar jadi tempat nongkrong yang asyik bagi tamu dewasa.
Saat saya melangkah ke sini, banyak tamu (khususnya bapak-bapak) yang mengobrol sambil ngopi, menikmati beberapa kue, sambil merokok, dan tentu saja berbincang seru. Tawa mereka mengisi hampir semua udara yang ada di belakang sini.
Oia, sarapan yang saya nikmati biasa saja. Tidak ada yang istimewa. Saya menikmati omelette serta sedikit bihun goreng yang saya ambil dari piring si sulung. Kemudian menutupnya dengan semangkuk kecil buah-buahan. Selebihnya saya isi dengan kopi, infused water, dan sedikit juice serta beberapa jajan pasar khas Jogja. Standard hotel bintang tiga lah.
Sarapan sesungguhnya adalah di sebuah resto ramen yang ada di seputaran Malioboro. Resto yang sehari sebelumnya sudah diincar oleh si sulung. Dan ternyata keputusan ini sangat memanjakan rasa karena kuahnya yang membangkitkan selera dan sesuai dengan apa yang saya bayangkan akan semangkuk ramen.

Kamar yang Cukup
Ya ampun. Saya hampir lupa menceritakan tentang kamarnya ya. Daritadi fokus aja membahas dengan interiornya Tjokro Style Hotel ini.
Saya menempati kamar dengan tipe terbawah. Kamar Superior dengan luas sekitar 18m2. Layaknya kamar standard dengan queen size bed, Tjokro hotel menyediakan lemari terbuka untuk digunakan. Bisa untuk menaruh koper dan menggantungkan baju. Compliments dan kulkas mini juga diletakkan di lemari terbuka ini. Kemudian ada meja kerja dengan table lamp yang bentuknya unik dengan lampu sorot kekuningan. Cocok untuk menyertai waktu-waktu tidur.
Di sudut tempat tidur ada nakas yang di atasnya ada telepon. Di atas nakas ada lampu gantung yang bohlam kekuningan. Sederhana tapi menarik. Yang membuat ruang kecil ini punya greget adalah dekorasi dinding yang ada di atas bed head. Sekali lagi saya bertemu dengen rangkaian jendela kayu warna-warni yang eye-catchy. Konsisten dengan apa yang dipasang di atap dalamnya Citrus Restoran.
Ada yang menggelitik? Ada. Saya menemukan karpet kamar begitu lembab. Jadi kurang nyaman untuk diinjak dengan kaki telanjang. Slipper nya juga gak ada. Tapi untung saya selalu bawa sandal kamar di setiap bepergian. Shower kamar mandi juga butuh perbaikan karena alat pancurnya mulai oglek-oglek (apa itu bahasa Indonesia). Jadi saat dinyalakan bagian ujungnya melonjak-lonjak. Kayak ngajak saya joget-joget tapi dengan gaya yang terlalu seru. Takut malah nimpuk kepala saya.
Saat saya ceritakan ke si sulung, dia malah ngakak-ngakak.
Kasurnya empuk seadanya tapi yang bikin saya senang adalah bantal panjangnya. Cocok banget buat saya yang jika tidur harus pakai guling karena tidurnya selalu miring.
Selebihnya still acceptable karena semua saya nilai sesuai dengan kelas bintang tiga nya.
Setelah kembali ke kamar setelah sarapan dan kembali merapikan bawaan, tak lama saya pun memutuskan untuk early check-out. Si sulung ternyata punya barisan keinginan yang bererot untuk diwujudkan. Dan itu yang menjual ada di beberapa tempat. Jadi memang harus berkejaran dengan waktu sebelum sekitar jam tiga sore harus naik kereta via Stasiun Tugu, pulang ke rumah.
I see you when I see you Jogjakarta. Semoga Dia mengizinkan saya menjadikan mu sebagai kota terindah tempat saya menghembuskan napas terakhir.




IG @annie_nugraha | Email: annie.nugraha02@gmail.com



Saya yakin kalau menginao di sana, bakal menuh-menuhin memori hp. Karena saya juga bakal ambol banyak foto dan video. Banyak banget ya spot menariknya. Kamarnya juga kelihatan nyaman. Cocok nih buat liburan tipis-tipis tapi lagi gak ingin di pusat kota Jogja.
Hahahaha bener banget Myra. Ini juga mensortir dan memilih foto-fotonya butuh waktu lumayan lama. Saking banyaknya pilihan yang apik. Tapi semoga yang ditampilkan di sini cukup mewakilkan.
Wah bisa jadi referensi kalau tahun depan ke Jogja bareng keluarga nih. Hotelnya lumayan bagus ya kak untuk kelas bintang 3 sudah mewah banget ini ibuku pasti suka banget aku ajakin nginap disini
Hotelnya boleh bintang tiga. Tapi artistic banget dah kayaknya. Warna-warni sofanya keren.
Pasti aku nggak tahan buat nggak foto-foto di sana. Ah, jadi pingin nginap di sana juga. Staycation di Jogja seru kali ya.
kesannya rame banget ya?
baca perbedaan Tjokro Style berbintang tiga dan Grand Tjokro berbintang empat, jadi auto searching yang di Cihampelas Bandung karena Blogger Bandung pernah diundang waktu pembukaannya
Ternyata yang di Bandung termasuk Grand Tjokro, sayang saya lupa (dan menyesal dulu gak ditulis, cuma posting din IG)
Selain itu, mungkin karena dulu bangunan baru, dan kita juga gak dapat kesempatan nginap jadi gak ngalamin karpet kamar yang lembab dan shower yang oglek-oglek :D
Intinya nginep di hotel ini tuh pas banget buat foto-foto ya yuk. Artistik dan banyak spot foto menarik.
Saya setuju sih di YK Kalau mau pilih hotel masalah lokasi jadi pertimbangan terakhir saja karena toh kemanapun relatif dekat dan aman ditempuh jam berapapun.
Hotel Tjokro banyak yah. Aku baru sempet nginep Tjokro di Klaten, satu²nya bagus sih kayaknya.
Hotel Tjokro Style Yogya, lucu banget semua sudut Instagramable. Aku suka yg backdrop pintu/jendela tuh. Mirip yg di Bali.
Aku pun kalo sarapan selalu nyari omelet loh…Apalagi pas liat bikinnya…