
Di akhir pekan biasanya kalian ngapain aja? Banyak pasti ya. Akhir pekan biasanya diisi dengan banyak kesibukan bersama keluarga atau pun melakukan aktivitas sendiri. Me Time istilahnya. Buat saya dan keluarga salah satunya adalah melali ke pasar kaget yang ada di Jababeka Cikarang. Satu kawasan yang bertetangga dengan Lippo Cikarang, di mana saya tinggal.
Biasanya jika ada rencana untuk menyusur pasar kaget yang ada di Jababeka Cikarang ini, saya dan suami harus janjian dulu. Khususnya tentang waktu karena di pagi akhir pekan saya biasanya ada rutinitas yang tak bisa ditinggalkan atau bersengaja bangun siang lalu membaca dan melahap buku yang sudah berada di barisan rak meja kerja. Quality and me time yang begitu berharga buat saya pribadi.
Kalau sudah sepakat, biasanya kami sarapan dulu di luar. Di kawasan atau tempat yang berdekatan dengan pasar kaget ini. Tujuannya sih demi efisiensi dan efektivitas aja. Gak buang-buang waktu hanya untuk urusan transportasi. Apalagi lokasinya pun sangat berdekatan dengan rumah makan di mana kami biasa sarapan.
Yang pasti kegiatan melali ke pasar kaget Jababeka ini setidaknya saya dan suami lakukan sekali dalam sebulan. Meski apa yang kami temukan rata-rata bahkan (mungkin) hampir semua sama setiap minggunya, entah kenapa selalu ada kesenangan saat menyusur sepanjang jalan, melihat berbagai keunikan dagangan yang ditawarkan, dan memperhatikan berbagai kegiatan publik.
Baca Juga : Sarapan Nikmati dengan Bubur Ayam dan Soto Pemalang Mbak Wulan di Jababeka Cikarang


Berbagai Hal Menarik yang Ditemukan
Saya kurang paham mengapa ada sebutan pasar kaget. Tapi dari seorang teman saya akhirnya mendapatkan sedikit pencerahan yang cukup masuk akal. Mungkin, mungkin ya, kata “pasar kaget” ini muncul karena jenis pasar ini terbentang/terjadi begitu saja di satu tempat. Diikuti oleh beragam penjual dan hanya diadakan pada waktu tertentu saja. Tidak dikelola di tempat khusus yang biasanya dengan bangunan permanen yang telah disediakan.
Seperti halnya pasar kaget Jababeka Cikarang ini. Para penjual langsung aja gelar peralatan lenong dan dagangan dengan tempat yang mereka tentukan sendiri. Tempat yang tentu saja sudah diarahkan oleh manajemen kawasan Jababeka pastinya ya. Ada yang bisa digunakan tapi ada juga yang tidak diperbolehkan. Karena jika saya perhatikan ada beberapa titik yang ditandai dengan tiang dan semacam pembatas. Area yang saya yakin tidak diperbolehkan tersebut.
Penampilan para penjual ini pun bermacam-macam. Ada yang hanya mengandalkan meja kecil, ada yang hadir dengan gerobak khusus, ada yang membentang dagangan hanya di atas alas seperti tikar, dan ada yang punya tenda sendiri hingga membawa box kaca khusus seperti misalnya penjual kue dan atau bakery.
Saya dan suami biasanya sengaja memarkirkan mobil di titik tengah, di sebuah deretan ruko, lalu melanjutkan penelusuran dengan berjalan kaki. Lumayan bisa sekalian olah raga di pagi hari.
Setelah berkali-kali mampir ke sini, pedagang apa saja yang kami temukan?

Yang pasti banyak banget.
Layaknya sebuah pasar kaget, apa yang ditawarkan kepada publik tuh berlimpah banget. Seperti barang kebutuhan atau peralatan rumah tangga, barang pecah belah, kebutuhan primer seperti pakaian, makanan atau jajanan, sayur, buah, produk digital (tawaran jasa internet), mainan anak-anak bahkan hewan-hewan peliharaan. Tapi yang paling banyak adalah jualan makanan dan minuman.
Saya bahkan pernah bertemu dengan sepasang suami istri yang menawarkan 5 ekor kucing ras Siamese yang saat itu berusia 3 bulan. Mereka gelar aja kandang kucing-kucing itu di pinggir jalan. Dan itu langsung dikerubungi oleh banyak orang termasuk saya yang kebetulan berada di sekitar situ. Sejujurnya saat itu tidak ada niatan sama sekali untuk mengadopsi kucing lagi karena yang ada di rumah (3 ekor) saya rasa sudah cukup dengan tingkat kebandelan yang sudah ampun-ampunan.
Tapi saat saya mendekat dan melihat salah seekor diantaranya terus menatapi saya, mendadak hati saya runtuh. Ya ampun. Apalagi saya belum memiliki kucing dengan ras Siamese dengan wajah gosong begitu. Suami pun mendadak ikutan jatuh cinta. Lucu banget memang.
Alasan si penjual merelakan 5 ekor ini untuk diadopsi adalah karena di rumah mereka sudah terlalu banyak pasukan. Kalo gak salah sekitar 10 ekor. Mereka merasa tidak sanggup merawat dan menghidupi jika ditambah dengan 5 ekor lagi.
Yoweslah. Akhirnya seekor Siamese yang kemudian saya beri nama Miko Polin itu sah menjadi anggota baru keluarga kami.
Tentang Jababeka Cikarang : Menyesap Lezatnya Masakan Rumahan di Dapur Coet Jababeka Cikarang

Yok lanjut menyusur dagangan lainnya.
Sebagai materi jualan terbanyak, saya menemukan limpahan masakan yang terbentang dari ujung awal hingga akhir. Nyaris sulit untuk mengingatnya satu persatu saking banyaknya.
Ada masakan panggangan, gorengan, dan berkuah dari berbagai produsen. Yang sebagian besar digelar untuk makan langsung di tempat atau sudah disiapkan dalam bungkusan. Segala macam lauk-pauk seperti masakan rumahan (olahan ayam, ikan, dan aneka sumber protein lainnya) tersedia nyaris lengkap dan tampil begitu menyelerakan. Aneka lauk biasanya ditawarkan di harga 15K – 25K/bh. Sementara sayuran sebagian besar harganya adalah 5K/bks. Cukuplah untuk sekali waktu makan.
Lalu juga ada aneka jajanan yang penggemarnya sangat banyak. Dim sum, cireng, donat, jagung manis, bakso, batagor, dan berbagai produk bakery kekinian. Kemudian ada aneka camilan yang sudah terbungkus plastik dan ditawarkan dengan harga 5K/bks. Ada juga penjual macam-macam kerupuk. Ditaruh di dalam plastik dengan ikatan kuat yang beratnya adalah sekitar 300-500gr. Kerupuk-kerupuk ini bisa kita beli seharga 10K – 25K per bungkus. Ada juga yang secara khusus hanya menjual aneka minuman manis dingin dengan berbagai rasa. Harga per gelasnya adalah 5K.
Dalam sekali waktu saya juga menemukan penjual tanaman hias, sandal, sepatu, dan kebutuhan harian pembersih rumah, sabun, cairan pel, alat pel, tisu, lalu banyak banget sayuran mentah. Suami pun langsung ngejogrok tekun di tempat penjual sayur ini. Satu persatu di lamati hingga akhirnya terbelilah stok sayur setidaknya untuk seminggu di rumah. Menurut suami sih harganya selisih 500perak hingga 1K/bks. Tapi ya sutralah ya. Penjual sayur ini kan juga butuh effort dan mau mendapatkan profit sepantasnya.
Bener-bener bikin takjub lah pokoknya. Sepagian itu betapa banyak masyarakat yang melakukan transaksi perdagangan.
Anak-anak pun ada fasilitasnya. Ada penyewaan andong dan kuda, mainan kereta-keretaan, memancing ikan di dalam baskom, dan sederetan jajanan seperti di depan atau di dalam sekolah. Dan eh sembari menunggu suami berjibaku belanja sayur, saya malah nongkrong bareng bocah-bocah ngeliatin keong-keong kecil yang masih hidup di dalam sebuah baskom besar. Keong-keong ini sudah dicat dan dilukis cangkangnya untuk menarik perhatian pembeli.
Astaga kok kreatif betul ya. Saya aja sampe termangu-mangu ngeliat setumpuk binatang kecil yang sibuk bergerak-gerak kesana kemari. Apalagi anak-anak ya. No wonder kalau di tempat ini, banyak ibu-ibu yang senewen dengan permohonan anaknya. Heboh lah pokoknya.
Oia, pasar kaget Jababeka Cikarang ini hanya ada di akhir pekan ya. Biasanya mulai ramai saat waktu menginjak pkl. 09:00 wib dan terlihat bubar menjelang makan siang. Minggu yang biasanya penjualnya lebih banyak.
Kapan temen-temen mau menghabiskan waktu akhir pekan di Cikarang, kuy kabarin saya. Kita makan lesehan sembari ngobrol dari Sabang sampai Merauke di pasar kaget Jababeka Cikarang. Dijamin seru. Pulangnya pasti bawa gembolan se-RT. Kalau terniat belanja, jangan lupa bawa kantong belanjaan sendiri ya. Kalau punya keranjang beroda, situasinya akan lebih baik lagi.


Tentang Kuliner Cikarang : Dua Rumah Makan dengan Sajian Bebek yang Enak di Cikarang

Tentang Kuliner Cikarang : Bubur Ayam Al-Azhar Jababeka, Belasan Tahun Menjamu Warga Cikarang dengan Kelezatannya


IG @annie_nugraha | Email : annie.nugraha@gmail.com



Mbaakkk, harga 5K โ 25K itu emang jebakan betmen. Karena nggak kerasa, tiba-tiba tas penuh, daan saldo e-wallet tinggal kenangan huhuhuh
Hahahaha bener banget. Tau-tau berat aja bawaan.
Gak bisa dilewatkan deh pasar kagetnya.
Promonya banyak, kudu kekepin dompet dan bikin list biar yang dibeli memang yang sesuai bukan disesuaikan ala yang tersedia alias gak kalap haha.
Se-asik itu yang tersedia di sana.
Memang seru kalau menyusur pasar kaget. Kadang bahkan sering kita terpaku dengan beragam jualan yang jarang kita temui. Asyik aja menyusur kesana-kemari.
Keknya uang berapaaa aja yang dibawa ketika ke Pasar Kaget tuh gak cukup yaa, ka Annie..
Aku jadi inget, awal pindah Bandung dan lalu diberi rejeki punya momongan, beli apa apaaa aja peralatan baby tuh yaa.. ke Pasar Gasibu.
Mungkin seperti ini juga gambaran pasar kaget Jababeka Cikarang yaa, ka Annie..
Sagala aya..
Tapii yaa.. kayanya lapak-lapaknya uda nge-booked deeh..
Soalnya kami hobi kulineran lontong kari, tempat si aa-nya uda pasti di Gasibu bagian lapangan.
Aku gak ngebayangin kalo seandainya si lapak itu dipakai orang lain. Pelanggan kaya aku gini, bakalan kebingungan carinya yaa..
Betol banget.
Kebayang keseruan Gasibu di zaman masih buka ya Len. Kebetulan rumah saudara-saudara suami ada di Jl. Gagak. Walking distance dengan Gasibu. Sering banget suami mengajak saya dan anak-anak untuk sekalian silaturahim ke ninih dan aki yang tinggal di sana.
Semenjak sudah dibubarkan jadi lama gak main ke kawasan itu.
Saya selalu suka pergi ke pasar Kaget begini karena yang jualan tuh unik-unik dan harganya bersaing.
Apalagi kalau di kota besar seperti pasar Jababeka, Cikarang ini ya.
Ohya, Bu Annie, saya nungguin foto gantengnya si Miko Polin nih.
Sama banget Mbak Annisa. Pasar kaget tuh selalu seru buat ditelusuri.
Aaahh foto-foto pasukan bulu di rumah sering saya upload di FB saya Mbak. Seringnya sih foto dengan gaya khas yang bikin gemes. Termasuk Miko Polin, si bungsu dari ras Siamese ini.
waaaa ……. mupenggg
saya tuh kudet banget Mbak,
saya belum pernah ke Cikarang! ndeso banget ya?
selama ini kalo ke Jakarta, cuma tidur di rumah adik (sekitar pondok aren), trus ke lokasi acara (Danone, Kompasiana) trus ya balik lagi
Jadi pingin ah jalan-jalan ke Cikarang, kali aja ketemu keong-keong yang dicat seperti di atas. Adaaaa…..aja cara kreativitas UMKM ya?
Hahahahaha. Jarang orang mau ke Cikarang Mbak. Kota industri yang rata-rata isinya adalah para perantauan dari daerah yang kebetulan kerja di banyak pabrik yang beroperasi di sini. Saya aja pindah ke sini karena kebetulan kantor suami di sini dan dulu kantor saya juga di sini.
Kelomang, dulu anak-anak kecil kalau diajak ke car free day pasti pulangnya bawa ini mbak, sejenis keong dengan cangkang berwarna warni, plus rumahnya juga.
Kalau ke pasar kaget gini saya tuh suka kalap, apalagi harga kalau ketemu harga 5 ribuan. Sering berhenti dan bertransaksi, sampai ujung bawaan makin banyak
Kalau ke pasar kaget begini, aku lebih suka mencari cemilan gitu, Kak. Entah gorengan atau apa gitu. Apalagi kalau ketemu cemilan yang jarang ditemukan gitu. Kayak pempek, es pisang ijo dan teman-temannya.
Kalau di Cianjur pasar kaget seperti itu pas car free day. Kebanyakan datang bukan buat olahraga tapi buat belanja atau cuci mata
Btw saya penasaran mana Miko Polin kucing yg diadopsinya?
Penasaran lucunya bagaimana…
Miko ini jantan kan?
Weekend paket lengkap sih ini, ibu bapak dan anak-anak pada happy semua. Ada makanan, koleksi/hobi, juga mainan untuk anak-anak. Menghabiskan akhir pekan dengan jalan-jalan ke pasar kaget jababeka bisa jadi pilihan nih.