
Suami mengajak saya dan si bungsu untuk berkunjung ke Indramayu dalam rangka menghadiri resepsi pernikahan salah seorang staff perusahaan di mana suami bekerja. Saat berada di jalan besar menuju pusat kota, saya melihat sebuah masjid yang megah terlihat dari kejauhan. Suami pun kemudian berjanji akan mampir ke masjid ini dalam perjalanan pulang keesokan harinya
Saya pernah bercerita pada suami bahwa mulai 2025 saya ingin punya banyak kesempatan mampir di berbagai masjid. Dimana pun masjid itu berada. Di tanah air maupun saat berkesempatan berkelana ke luar negeri. Tujuannya gak banyak dan simpel aja. Saya ingin memotret dan mengukir memori lalu menuliskannya di blog ini. Setidaknya ini menjadi salah satu ikhtiar saya dalam mengenalkan keindahan dan kemuliaan rumah ibadah dari keimanan yang saya anut.
InshaAllah, mudah-mudahan, tulisan ini juga bisa menjadi referensi bagi siapa pun yang ingin berwisata religi di tempat/daerah yang pernah saya datangi. Indramayu ini salah satunya.

Masjid yang Luas dan Megah
Sesuai janji, sehabis sarapan dan sempat menikmati suasana pagi di sekitar hotel Swiss-Belinn tempat kami menginap, suami langsung mengarahkan kendaraan mengikuti jejak pulang lewat jalur kemarin datang, supaya bisa kembali bertemu dengan masjid luas dan megah yang kami lewati kemarin.
Masjid yang saya kunjungi saat itu ternyata adalah masjid teristimewa yang dimiliki oleh Kabupaten Indramayu. Namanya pun sungguh mengesankan. Masjid Islamic Centre Syekh Abdul Manan.
Mencoba menarik makna dari penamaan ini, Islamic Centre, masjid ini tentunya diperuntukkan bagi pengembangan agama Islam di kawasan kabupaten Indramayu dan sekitarnya. Masjid yang juga diharapkan bisa menjadi wadah bagi umat muslim untuk bukan hanya beribadah, tapi juga mendalami ilmu yang digali dari Qur’an, termasuk melakukan berbagai kegiatan sosial serta keagamaan sepanjang tahun. Seperti misalnya tarawih selama bulan Ramadan, salat Idul Fitri, Idul Adha, dan kegiatan-kegiatan lain yang bisa menjadi pusat kajian serta amalan dari apa yang terkandung dalam Qur’an.
Sementara nama Syekh Abdul Manan sendiri diambil dari seorang ulama besar yang disegani dan berjasa menyebarkan agama Islam di Indramayu.
Dari beberapa referensi yang saya baca, Masjid Islamic Centre Syekh Abdul Manan ini berdiri di atas tanah seluas 12 hektar. Memiliki 2 kubah besar dengan 4 minaret di ke-empat sudutnya. Gedung intinya sendiri terdiri dari 2 lantai dan bisa menampung sekitar 2.000-an jamaah.
Di depan bangunan inti ada rangkaian selasar berbentuk segi empat dan sebuah lahan luas yang dipasang rumput sintetis. Dengan luasnya lahan terbuka berwarna hijau ini, Masjid Islamic Centre Syekh Abdul Manan tentunya bisa menampung banyak sekali jamaah.
Masjid ini dibangun selama 2 tahun (2016-2018) semasa pemerintahan Bupati Anna Sophana lalu diresmikan pada 1 Juni 2018 oleh Gubernur Jawa Barat, Ahmad Heryawan (Aher). Berada di Simpang Lima dengan sebuah bundaran besar dan minaret yang tinggi menjulang, masjid ini sangat mudah terlihat dari salah satu jalan utama yang mengantarkan kita memasuki dan keluar kabupaten yang sekarang (saat saya menulis artikel ini) dipimpin oleh Lucky Hakim. Mantan aktor yang sudah beberapa tahun ini aktif di dunia politik.
Menurut beberapa artikel yang membahas tentang masjid ini, sebagian besar penulis tersebut berpendapat bahwa rumah ibadah yang megah dan luas ini memiliki rancang bangun ala Timur Tengah. Khususnya pada pewarnaan dan dominasi tiang serta garis-garis dindingnya. Apalagi kemudian dilengkapi dengan banyak kaligrafi dan beragam mozaik Islami. khususnya yang ada di dalam gedung utama masjid.
Bagi saya pribadi, pilihan warna yang dilekatkan pada bangunan dan minaret, yang ditata dan digoreskan selaras dengan keindahan komposisi warnanya, mampu menumbuhkan kekaguman siapa pun yang melihat masjid ini. Karena warna-warna indah itulah yang membuat publik yang lewat di depannya akan langsung menoleh dan terjerembab pada rasa syukur yang tidak terkira.
Itu juga yang sesungguhnya terjadi pada saya. Bahkan jujur saya tidak menyangka bahwa di sebuah kabupaten kecil seperti Indramayu, ternyata terhampar salah satu rumah-Nya yang indah bagai pualam bumi.
MashaAllah.
Baca Juga : Bertamu ke Masjid Raya Mujahidin Pontianak, Rumah Allah yang Indah di Garis Khatulistiwa

Usai memarkirkan mobil di salah satu sisi yang adem dan berada persis di depan deretan warung, saya dan suami bertemu dengan sekelompok besar ibu-ibu pengajian yang tampaknya datang dari luar Indramayu karena mereka menggunakan bahasa daerah yang jelas bukan bahasa Sunda.
Sapaan hangat yang mereka haturkan membuat saya tersenyum manis dan mengangguk sesopan mungkin.
Tak ingin membuang waktu, saya lalu menyegerakan diri masuk ke dalam gedung utama.
Layaknya sebuah bangunan dengan 2 lantai, langit-langit masjid terlihat sangat menjulang. Di bagian tengah terdapat bagian dalam kubah yang menampilkan gambar langit lengkap dengan awan-awan yang berarak. Di bawah kubah ini ada chandelier, lampu kristal berwarna putih. Hanya sayangnya lampu ini tampak disanggah tali (mungkin tali besi) ke berbagai arah. Entah memang seperti ini dari awalnya atau dibuat karena demi keamanan.
Tiang-tiang dan ornamen bergaris yang ada di dalam gedung ini didominasi oleh warna emas dan hijau. Sementara karpetnya dibuat bergaris yang tentunya sangat memudahkan jamaah untuk berada di posisi berdiri atau shaf yang benar. Berbeda dengan halaman luar yang tampak panas diterjang matahari, bagian dalam ini terasa lebih sejuk. Setidaknya tubuh kita terlindungi oleh pendingin ruangan meski tidaklah dominan.
Baca Juga : Terjebak dalam Kekaguman di Masjid Raya Al-Jabar Bandung
Usai menunaikan salat tahiyatul masjid, saya melangkah keluar dan membenamkan diri pada selasar segi empat dan tanah lapang beralas rumput sintetis yang berada di tengah dan tadi sempat saya lewatkan.
Sejenak turun dari tangga untuk memasuki gedung utama tadi, saya menemukan dua payung besar di sisi kanan dan kiri. Payung yang modelnya mirip dengan apa yang kita lihat di Masjid Nabawi yang ada di Madinah. Ukuran, fungsi, dan ketinggiannya saja yang berbeda. Di sini payung ini menjadi pelindung tempat untuk berwudhu yang dilengkapi dengan beberapa kran air serta undakan semen berbentuk segi enam.
Solutif untuk mereka yang tak mau menghabiskan waktu mengambil wudhu di bagian bawah masjid. Setidaknya bagi kaum lelaki yang tak perlu repot melepas penutup kepala. Beda halnya dengan perempuan. Jadi tempat wudhu terbuka ini cocoknya memang untuk jamaah lelaki saja atau para perempuan yang tidak/belum mengenakan hijab.
Saya mencoba menjejak rumput sintetis yang tampak luas banget itu. Di tengah matahari yang gonjreng bersinar terang, rumput ini terasa begitu panas di telapak kaki. Saya langsung melejit dan berlari tunggang langgang karena efek panasnya yang sangat nyelekit menyentuh kulit tipis kaki saya. Efek yang sungguh bikin saya kaget tak terkira. Jadi, jika ada yang niatan salat di atas rumput sintetis ini, mungkin lebih baik menunggu waktu malam saja.
Tapi herannya ada sekelompok bocah piyik tampak betah berlari kesana kemari di atas rumput itu. Astaga. Apa saya aja ya yang merasakan panas gak ketulungan tadi. Mereka bahkan cuek bermain tak menghiraukan panas yang menerpa tubuh. Teriakan-teriakan bahagia anak-anak ini begitu membahana dan membuat saya turut merasakan keseruan mereka.
Saya kemudian berlarian menuju salah satu selasar yang ada di sisi depan masjid. Di sini saya temukan sebuah beduk raksasa yang tersanggah oleh rangkaian balungan kayu jati berukir yang sungguh besar dan kokoh. Salah satu sisinya bertuliskan “Masjid Roudhotul Janna Islamic Centre Syekh Abdul Manan Kabupaten Indramayu” sementara di sisi lain tertulis serangkaian ayat suci Al-qur’an yang tak mampu saya baca dengan benar dan lancar.
Dari sebuah referensi saya memahami bahwa beduk raksasa setinggi 3 meter dengan diameter 2.25 meter ini dikerjakan selama 1 tahun di Cirebon dan baru bisa dihadirkan di masjid ini pada 2021. Selain menggunakan kayu jati sebagai rangka utama, kulit bedug ini dibuat dari kulit sapi dan kulit kerbau. Menelan biaya sekitar 175 juta rupiah yang dananya didapatkan dari infaq publik, beduk raksasa ini telah menjadi ikon dari Masjid Islamic Centre Syekh Abdul Manan. Bahkan kabarnya, beduk ini sedang diusulkan untuk menjadi beduk terbesar di nusantara dan tercatat resmi di MURI (Museum Rekor Dunia Indonesia).
Baca Juga : Menelusur Kemegahan Masjid Raya Baiturrahman Banda Aceh

Usai menumpahkan kekaguman tanpa henti pada beduk yang jangkung dan besar ini, saya mencoba menyusur selaras dari ujung ke ujung bersama si bungsu sembari melewati berbagai kelompok keluarga yang asyik bercengkrama menikmati makanan, minuman, dan ngobrol dengan begitu akrabnya. Sekali lagi bahkan berkali-kali kemudian saya bertemu dengan beberapa kelompok keluarga yang menggunakan bahasa daerah yang tidak biasa saya dengar.
Dari mana mereka ya? Saya mengenal banyak bahasa daerah di Pulau Jawa tapi bahasa mereka tidak saya kenali sama sekali. Pun bukan menggunakan bahasa orang Sumatera. Pulau yang sudah saya kelilingi mulai dari ujung barat hingga Lampung yang terletak di bagian bawah. Jika mereka datang dari luar kedua pulau ini, saya sungguh takjub. Luar biasa semangat mereka untuk bertamu ke salah satu rumah-Nya yang berada di kabupaten Indramayu.

Megah di Antara Kehidupan Bersahaja Masyarakat Indramayu
Saat mengelilingi dan mengitari masjid ini dengan mobil yang berjalan pelan, saya meminta suami untuk berhenti di beberapa titik terjauh dari serangkaian area parkir yang terlihat begitu lapang. Hal ini memberikan kesempatan kepada saya untuk memotret sisi luar masjid dengan keindahan minaret nya. Semua berbaur indah dengan langit membiru dan serangkaian awan putih tipis menyebar di sana-sini. Suasana dan nuansa yang sangat membantu saya mendapatkan hasil foto yang cerah, ceria, dan indah tak terkira.
Selain bangunan yang berfungsi selaras dan membentengi salah satu sisi masjid, saya melihat sederetan tanaman yang pernah saya sentuh di beberapa masjid di tanah suci. Saya lupa namanya ya tapi kalau melihat dari karakter fisiknya, pohon ini cocok bertumbuh kembang di tanah atau area tropis. Batangnya gemuk dengan lembaran daun yang tebal-tebal. Pohon kurma? Mungkin saja. Tapi saya tidak tahu persis karena memang (sangat) tidak menguasai dunia flora dan tanaman.
Saat melewati gerbang di mana kami masuk tadi, hati saya mendadak sendu. Bukan hanya karena telah meninggalkan kesan istimewa pada masjid ini tapi juga serangkaian harapan yang mudah-mudahan dapat diwujudkan oleh pemerintah daerah setempat.
Apa itu?
Sepanjang saya berkeliling tadi, saya melihat banyak sekali kerusakan fisik yang terjadi di beberapa sudut bangunan. Ada yang terlihat mulai runtuh, ada juga yang terlihat lapuk seperti lama terjebak pada kelembapan air. Di beberapa bagian bangunan eternitnya sudah mengelupas dan jika tak segera ditangani bukan tidak mungkin akan roboh. Jika ini seandainya terjadi, saya berharap tidak akan melukai jamaah yang sedang beribadah. Begitupun dengan beberapa lantai keramik. Cukup banyak yang retak bahkan sudah ada yang terlepas. Aduh. Sungguh tak terbayangkan jika di satu saat ujung pecahan itu bisa melukai kaki jamaah.
Rumput sintetisnya itu juga terlihat mulai tipis dan sambungannya terpisah-pisah. Apa mungkin karena ketipisan itu yang menyebabkan efek panas menyentuh kulit kaki saya tadi? Entahlah. Tapi jelas dengan kondisi rumput yang menipis, meskipun sintetis, tentunya tidak memberikan kenyamanan beribadah.
Semoga situasi ini segera ditangani oleh pemda kabupaten Indramayu ya. Bisa jadi butuh milyaran rupiah untuk menangani peremajaan, restorasi, atau renovasi di beberapa bagian bangunan, tapi bukan tak mungkin banyak hati yang tersentuh untuk membantu mendanai proyek sosial ini.
Saya juga berharap agar nantinya, saat Masjid Islamic Centre Syekh Abdul Manan yang berdiri diantara masyarakat kabupaten Indramayu yang bersahaja berhasil dipercantik kembali, ada beberapa petugas yang rutin menjaga kebersihan dan kerapihannya. Lewat tangan-tangan merekalah masjid ini tentunya akan semakin terawat dan layak untuk digunakan sebagai tempat mulia saat kita menghadap dan menunaikan ibadah wajib kepada-Nya.


Baca Juga : Beberapa Masjid Indah Bersejarah yang Bisa Kita Kunjungi di Makassar









Saya juga punya pemikiran sama dengan Bu Annie, kalau bisa setiap ada masjid ingin selalu mampir. Sekecil apapun masjidnya saya ingin banget bisa berkunjung di dalamnya. Bagus banget ya Bu interior masjid Islamic Centernya di Indramayu, semoga saya bisa punya rejeki ke sana. Aamiin
Aamiin Yaa Rabbalalaamiin. Semoga bisa sampai di Masjid Islamic Centre ini ya Sar. Merasakan betapa warga Indramayu sudah mempersiapkan rumah megah bagi-Nya.
Belum lama sebenarnya usia Masjid Islamic Centre Syekh Abdul Manan ini ya…Tapi mungkin memang sudah waktunya ada perbaikan di sana-sini, sehingga terjaga dan terawat kecantikannya. Semoga Pemda Kabupaten Indramayu akan segera melakukan peremajaan bangunan sehingga jamaah yang beribadah akan tetap merasa nyaman
Betul banget Mbak. Khususnya lahan terbukanya itu. Tersentuh hawa dan udara langsung. Katanya sih pernah rontok karena hujan angin dan karena tidak segera ditangani kerusakannya jadi membekas terlalu lama.
Aku juga baca beberapa info on-line kalau bupati sekarang, Lucky Hakim, sudah menugaskan banyak pihak untuk melakukan renovasi. Tapi ya itu. Kabarnya butuh dana puluhan milyar. Cukup berat untuk kabupaten kecil seperti Indramayu.
Masya Allah.. masjid Islamic Centre syech Abdul Manan Indramayu ini sangat luas dan megah ya, Mbak. Memang jadi masjid Agung Indramayu. Dari foto -fotonya saya kagum sekali. Apalagi dengan cuaca cerah dan langit yang biru. Beduknya saja dibuat selama 2 tahun di Cirebon.
Hanya langsung sendu juga saya pas baca bagian penutup tulisan ini, kalua sudah banyak kerusakan yang harus segera ditangani. Sebelum hal-hal tidak diinginkan terjadi. Saya jadi ingat Islamic Centre jakarta yang kubahnya terbakar dan belum diperbaiki juga. Padahal sayang sekali.
Itu beduk terindah yang pernah aku lihat! Baru sekali ini ada beduk yang seniat itu sampai bagian badannya terukir cantik. Di kebanyakan masjid, malah kadang susah ngelihat keberadaan beduknya ada di sebelah mana. Jika pun ketemu kadang aksesnya sulit untuk diamati secara dekat.
Sama kayak ayuk, aku juga kalau bisa kunjung ke satu tempat dan bisa main ke masjid yang jadi ikon tuh hepi, walaupun sayangnya kadang pengurus masjid gak terlalu welkom. Gak jauh-jauh, di masjid SMB II Palembang sendiri aku pernah dapat kejadian gak enak saat bawa turis asing. Ya memang turisnya gak pake hijab tapi secara penampilan cukup sopan. Pakai celana panjang, baju juga tertutup. Aku tuh ingin pengelola masjid juga mengakomodir kedatangan wisatawan ya yang tentu saja gak semua beragama Islam (ataupun belum berjilbab jika dia muslimah) mirip masjid di Malaysia atau Singapura gitu yang nyediakan jubah.
Asli Islamic Center Syekh Abdul Manan ini cakep banget. Pengen nanti bisa main ke Indramayu dan salat di sana.
Aku ketemu masjid yang welcome dengan non-muslim itu waktu di Batam. Mereka menyediakan jubah lengkap dan membuka banyak area untuk dikunjungi. Jadi welcome dengan semua tamu dari segala kalangan dan agama.
Cakep dan megah memang Yan. Apolagi dengan kehadiran beduk yang unik dan besak itu. Cocoklah bedugnyo jadi icon.
duh kok pakai rumput sintetis ya?
Jadi inget alun2 Bandung juga pakai rumput sintetis, jadi kalo siang hari bakal panas ya?
Anehnya banyak yang betah berfoto-foto di sana
Duh maaf oot, soalnya keberadaan rumput sintetis ini bikin pingin protes :D
dan maaf ikut protes, orang kita gampang membangun tapi gak bisa merawat ya?
Masjid2 seperti ini mungkin karena dibangun pemerintah jadi kurang terawat
Beda halnya dengan masjid yang dibangun hasil swadaya masyarakat
Panas banget Mbak. Saya coba nginjak langsung kelojotan. Masalahnya area dengan rumput sintetis ini ada di tengah-tengah dan langsung terpapar matahari. Mungkin karena perawatannya murah kali ya.
Nah ini pe-er banget buat pemda setempat Mbak. Dari beberapa link yang saya baca, bupati Lucky Hakim sudah merencanakan renovasi. Butuh puluhan milyar buat melakukan ini. Semoga ada donatur ya Mbak. Agar perbaikannya segera bisa diwujudkan.
Kalau lihat foto, masjid ini beneran megah ya. Kalau rumput sintetis kayaknya memang cenderung panas gak sih? Apalagi cuaca Indramayu kan memang terik.
Sayangnya setelah melihat sendiri, ternyata ada beberapa kerusakan. Semoga aja segera ditangani. Karena kalau kerusakan semakin besar, semakin rumit dan mahal menanganinya.
Soal rumput sintetis itu memang mengganggu menurut ku. Panas banget kaki saat nginjak rumputnya. Apalagi itu berada di tengah-tengah lahan terbuka yang langsung terpapar sinar matahari. Mudah-mudahan jadi pertimbangan DKM untuk merubah konsep rumput sintetis itu.
Kerusakannya sendiri lumayan sih menurutku. Tapi dari beberapa link yang aku baca, pemda setempat sudah merencanakan renovasi tapi butuh puluhan milyar untuk renovasi ini. Semoga cepat ada donatur.
Kalau dari luar masjidnya terlihat gagah, tapi pas dari dalam epiknya mashaAllah. Benar kata Bu Annie perpaduan warnanya bagus, jadi membuat tenang, betah dan nyaman. Itu daku baru lihat gambarnya di foto, gimana pas datang langsung kan, pasti nuansanya lebih mantap lagi.
Megah memang masjidnya Fen. Luas dengan konsep design yang apik. Daya tampungnya juga luar biasa. Saat kita masuk dan keluar kabupaten lewat jalur utama, masjid ini langsung terlihat dari kejauhan.
Padahal secara umur belum terlalu tua lo. Sayang banget masjid ini udah banyak kerusakan di sana-sini. Mungkin butuh bahan yang lebih bagus atau perencanaan yang lebih bagus untuk perbaikannya?
Bener Mbak. Masih terhitung baru harusnya sih. Dari update terakhir yang saya baca, pemda setempat sedang mengusahakan perbaikan dan itu butuh dana puluhan milyar. Semoga segera terealisasi.
Kalau hanya melihat dari gambarnya saja, saya nggak akan tahu kalau ada beberapa kerusakan yang disebutkan Mbak Annie.
Lihatlah fotonya! Nampak sempurna, berdiri kokoh dan megah begitu, Mbak.
Harapannya sih, segera ada perbaikan ya, mbak. Nggak nunggu ada korban dulu baru diperbaiki
Iya Mbak Yuni. Cukup banyak juga sebenarnya kerusakannya. Dari beberapa link yang saya baca, pemda setempat memang sedang merencanakan renovasi tapi butuh dana puluhan milyar. Sepertinya sedang diusahakan.
Megah ya, sayangnya walau belum berumur begitu lama, mulai ada kerusakan-kerusakan kecil di beberapa bagiannya. Semoga segera diperbaiki oleh pengelola Masjidnya.
Bedug raksasa gitu, saya membayangkan gimana suaranya kalau di pukul ya. Semoga saja bukan semata untuk pajangan, tapi benar-benar difungsikan
Sepertinya pemda kabupaten Indramayu sedang berusaha mengumpulkan dana puluhan milyar untuk memperbaiki masjid ini. Karena biayanya besar sepertinya lumayan ini usahanya. Tapi saya sangat berharap semoga urusan biaya ini segera terselesaikan.
Iya ya Mbak. Sayangnya saya gak nemu pukulan bedugnya. Apa mungkin disimpan supaya gak dimainin anak-anak.
Ternyata masjidnya tergolong baru ya Mbak, kirain masjid lama. Tapi memang bagus banget dan sesuai pendiriannya yaitu Islamic Center. Saya sambil baca, berdoa semoga di kota saya ada masjid semacam ini. Karena label Islamic center bisa bikin siapapun jauh lebih nyaman belajar di sana, meskipun masjid konvensional/modern pun bisa jadi tempat belajar.
Aamiin Yaa Rabbalalaamiin. Saya turut mendoakan Mbak Susi. Semoga Jepara memiliki masjid agung yang menjadi icon dari kabupaten ini.