
Beberapa hari sebelum berangkat menemani suami ke Pontianak, saya sempat berselancar ke akun Youtube milik Nex Carlos, salah seorang food vlogger favorit saya. Sesuai dugaan, saya menemukan beberapa referensi kuliner di Pontianak. Salah satunya adalah RM 999 Ayong yang berada di Jl. Gajah Mada ini. Apakah masakannya seenak yang direferensikan Nex Carlos?
Saya langsung semangat menunjukkan video tersebut kepada suami. Dia pun tampak antusias. Kok kebetulan suami juga sebenarnya sudah merencanakan akan memesan salah satu hotel di kawasan Jl. Gajah Mada di mana RM 999 Ayong berada.
Kawasan yang memang dipenuhi oleh kegiatan perdagangan ini memang rame sepanjang waktu. Sepanjang jalan saya melihat banyak bangunan lama yang tetap dipertahankan sebagai pusat kegiatan pembelanjaan kebutuhan. Sepertinya apa aja ada di sini. Mulai dari kebutuhan primer hingga beragam hiburan. Termasuk para penjual aneka camilan yang menawarkan dagangannya dalam gerobak dorongan.
Bangunan di sepanjang jalan Gajah Mada ini ada yang sudah direnovasi tapi ada juga yang terlihat mulai usang dengan model lama. Pintu lebar dan dengan penutup besi yang buka tutupnya dengan cara digeser. Tipe bangunan yang sudah, setidaknya, berusia puluhan tahun. Sedikit memperhatikan, saya tetiba teringat dengan sebuah jalanan di Palembang yang pengaturannya persis seperti di kawasan Gajah Mada ini.
Ah mendadak kangen dengan Palembang, kota kelahiran saya.
Kuliner Pontianak : Mencicipi Sajian Iga Terbaik di Resto Raja Uduk dan Tulang Rusuk.Ku di Pontianak

Saya dan suami sudah berjanji akan ke RM 999 Ayong untuk makan malam di hari terakhir kami berada di Pontianak. Kebetulan pula kedai makan ini baru buka sekitar pkl. 16:00 wib dan tutup sekitar pkl. 22:00 wib atau saat di mana porsi sajian sudah habis.
Kami berdua sempat menyusur dan melongok kesana-sini untuk menemukan signage box sebagai petunjuk. Tapi ternyata setelah bertanya ke beberapa warga lokal, kami menyadari bahwa RM 999 Ayong letaknya bukan persis di pinggir jalan. Ada sebuah jalan kecil di antara gedung kantor (saya lupa namanya) yang menghubungkan kita dengan kedai ini. Gak jauh sih dari jalanan depan karena tak sampai sekian menit kemudian saya bisa melihat sekotak lampu terang dan dua orang tukang masak lelaki yang terlihat sangat sibuk dengan wajan masing-masing.
Aaahh itu dia tempatnya.
Setelah saya perhatikan lebih dekat, RM 999 Ayong ini ukurannya kecil dan sungguh sederhana aja. Berada di sebuah sudut jalan, tak nampak satu pun kemewahan layaknya sebuah tempat makan yang jadi incaran orang banyak.
Di bagian depan ada ruang pelayanan. Tiga buah wajan besar dengan tabung gas yang tak henti berdesis dan suara hantaman spatula dengan wajan yang terdengar seru bahkan dari kejauhan. Di dekat kompor-kompor tersebut ada sebuah meja panjang yang mengatur pesanan konsumen. Lalu ada meja kasir kecil plus kulkas dengan pintu kaca yang menyimpan banyak minuman dingin.
Saya dan suami sempat berdiri sebentar karena meja di dalam penuh dengan konsumen. Tapi itu tak lama. Tak sampai lima menit kemudian, saya sudah duduk manis dan langsung memesan nasi telor ceplok setengah matang. Suami memesan kwetiau dengan telor tipe yang sama lalu menambahkan cah tauge seporsi buat kami berdua.
Untuk minuman suami menikmati teh tawar hangat saja. Sementara saya memesan teh botol pakai es. Maklum, malam itu udara terasa panas menerjang tubuh. Jalan kaki barusan aja sudah bikin saya kemringet. Leher rasanya perlu dihibur dengan minuman dingin.
Kuliner Pontianak : Makan Enak di Warnas Etek Pontianak

Semua sajian sederhana ini tak butuh waktu lama untuk disiapkan karena tak lebih dari lima menit kemudian semua pesanan kami langsung diantarkan.
Penampakannya yah biasa aja karena memang RM 999 Ayong pilihan sajiannya sesimpel dan seterbatas itu. Semua menggunakan piring melamin tanpa hiasan apa pun. Persis seperti kita makan di rumah.
Tadinya si mbak yang menerima pesanan sempat menawarkan ceplok dua buah. “Kebanyakan tamu pesanannya seperti itu Bu. Telur ceplok satu terasa kurang,” ujarnya sambil mencatat pesanan kami. Tawaran ini tentu sangat menggoda karena dari setiap piring yang diantarkan untuk meja lainnya, saya bisa melihat betapa berlimpahnya nasi yang ditumpahkan ke dalam piring. Nasi yang menggunung sepertinya memang cocok dan proporsional jika ditemani oleh dua telor ceplok. Bahkan kalau memang doyan mungkin telurnya bisa lebih dari dua.
Tapi alih-alih menambah telur, saya akhirnya meminta petugas untuk mengurangi kuota nasi saja. Melihat nasi yang bertumpuk seperti naspad yang dibungkus, mental saya biasanya langsung rapuh karena terus terang saya bukan penggemar nasi. Kalau kulineran dengan suami dan kami ingin mencoba sajian dengan nasi, biasanya nasi tersebut kami bagi dua. Nah karena di RM 999 Ayong ini suami memesan kwetiau, saya pun langsung memutuskan untuk memesan 1/2 porsi nasi saja.
Ternyata ya meski cuma 1/2 bagian, tetap aja banyak dan saya ngos-ngosan untuk menghabiskannya. Tepar kekenyangan hingga tak nyenyak tidur.
Kuliner Pontianak : Mengecap Lezatnya Sop dan Bubur Ikan di Resto Ahian di Pontianak
Yuk, mari sekarang kita bahas soal rasanya ya.
Nasi pesanan saya pera. Saya suka itu ketimbang nasi lembut. Cocoklah jika disirami dengan sedikit kuah saat si engkoh mengolah telur ceploknya. Jika saya tidak salah mengira, selain minyak untuk menggoreng, efek kuah di telur ini berasal dari bubuk ebi yang dioseng dengan sedikit mentega. Telurnya sendiri dimasak 1/2 matang tapi tidak ambyar saat disajikan.
Kwetiau pesanan suami juga oke. Tingkat kematangannya pas. Masih kenyal-kenyal dan tidak mudah hancur. Ada campuran sayuran dan tauge di dalamnya yang masih krenyes-krenyes. Sepertinya kwetiau ini juga dikasih ebi sedikit plus tentu saja kecap manis untuk mengimbangi rasa asin dari ebinya.
Cah taugenya juga oke. Dimasak setengah matang. Saya yang memang penggemar (berat) tauge, suka banget dengan sajian seperti ini. Jadi ingat dulu saat lama tidak hamil, dokter kandungan mengusulkan saya untuk banyak mengkonsumsi tauge. Gara-gara ini saya jadi suka tauge.
Saya ajukan jempol buat Nex Carlos yang sudah meliput, membuat video tentang RM 999 Ayong ini. Enak seperti yang disampaikan. Meski tidak terlalu istimewa.
Beberapa hari sebelumnya saat saya ingin mencoba nasi telur ceplok ini buat makan siang dan ngecek di google maps ternyata RM 999 Ayong masih tutup, supir dari mobil yang saya sewa mengantarkan saya ke tempat lain yang juga menjual sajian yang sama. Di sana ternyata juga enak dengan kuah yang lebih berlimpah. Tapi di sana saya lihat pilihan menunya lebih banyak.
Jadi yah menu nasi telur ceplok ini sesungguhnya adalah menu biasa. Yang punya warung sih ngakunya anak dari Koh Ayong, pemilik dari RM 999 yang di Jl. Gajah Mada. Dengan pengetahuan yang sama, presentasinya tentunya mirip. Pun dengan keramahan serta pelayanan cepat yang sangat menyenangkan.
Yang pasti jika sedang terburu-buru, gak mau berlama-lama menunggu, dan suka dengan sajian cepat, mudah, dan murah, nasi telur ceplok ala RM 999 Ayong ini bisa jadi opsi yang pas. Bermodalkan dana sekitar Rp9.000,00 – Rp12.000,00/porsi dengan telur ceplok dua dan ditambah Rp2.000,00 untuk minuman, kita sudah bisa makan enak dan kenyang. Apalagi untuk mereka yang punya dana terbatas untuk urusan makan sehari-hari. Sajian seperti ini tuh solutif banget.
I should say thank you to Nex Carlos. Setelah referensi es krim Angi di kota Pontianak yang juga pernah diliput dan dibahas oleh food vlogger bertubuh tambun ini, kali ini saya mencoba sajian sederhana ala rumahan yang pastinya disukai oleh banyak publik.
Ma Man !!
Kuliner Pontianak : Menikmati Es Krim Angi yang Tersohor di Kota Pontianak





kalo referensinya Nex Carlos mah pasti oke ya?
Selain alamat jelas, dia pasti nyebutin halal enggaknya menu yang dimaksud
kalo ke sana saya mungkin juga akan pesan kwetiaw Mbak, karena menurut saya nasi goreng tuh “biasa” banget, hehehe
Sampai sekarang suka bingung ke teman yang kulineran dan pesan nasgor, walau tentunya itu sih tergantung selera masing2
Bener banget Mbak. Dan referensi dia itu beneran keliling nusantara. Jadi pas ada di tanah orang, saya sering nyari di akun Nex buat referensi.
Nah waktu itu juga gitu. Suami sengaja mesan kwetiau goreng dan saya mesan nasi telor ceplok (nasinya gak digoreng) karena ini menu otentik/orisinal mereka. Jadi bisa saling coba.
Tempat yang sederhana dengan menu rumahan yang juga sederhana, dan rasa yang tak bikin kecewa plus harga terjangkau, pantas jadi solusi isi perut sehari-hari ini.
Btw, kita sama Mba Annie.. enggak bisa banyak makan nasi. Seringkali kalau makan di luar nanya dulu, porsi nasinya besar enggak. Atau kalau enggak pesan seporsi dibagi berdua sama suami. Begah perut kalau kebanyakan nasi…
Iya Mbak Dian. Saya juga bukan pemakan nasi. Paling 1-3x aja sebulan menikmati nasi. Dan sekarang diikuti oleh suami. Pagi-pagi kami makan rebusan dan mengganti nasi dengan kentang rebus. Sekalian memang harus diet supaya gula darah dan kolesterol tetap terjaga.
Kalau jajan di luar ya berbagi aja. Itu pun sudah lebih dari cukup.
Menu rumahan sederhana, dan harganya murah, plus pelayanan cepat dan ramah. Pastilah menarik minat konsumen ya mbak, bahkan yang sedang berkunjung ke Pontianak pun penasaran pengen mencoba. Walau letaknya nggak di tepi jalan raya, kalau sudah punya nama, tetap aja di cari
Iya Mbak Nanik. Nex Carlos pun mampir karena publik Pontianak banyak yang minta dia liput ke sana. Kok kebetulan Nex juga asli Pontianank. Jadi hitung-hitung promosi kuliner tanah kelahiran.
Mbak Nanik sudah pernah ke Pontianak belum?
Padahal cuma makan nasi telor ceplok aja jauh2 ke Pontianak, ya, Bu, hehheee
Tapiii jangan salaah, sebab telor itu makanan paaaaaling enak di dunia. Diolah apapun enaaaak aja. Apalagi kalo lagi sakit atau ngga slera makan, pasti ujung2nya ceplok/dadar telor deh.
Ngeliat poto nasi putih + ceplok telor gitu aja udah bikin saya laper buaa, masih jam 11 siang ini hahaa
Naahh setuju banget. Kalo saya memang penggemar telur Ci hahaha. Sehari itu setidaknya 2-3 biji. Jadi stok telur di kulkas tuh kudu kumplit. Pokoknya telur dimasak apa aja saya must doyan. Bahkan sekedar diceplok seperti ini.
Jadi makan tauge untuk kesuburan itu bukan mitos yaa, ka Ann??
((nonton filmnya Reza ama BCL yang Pasutri Gaje, juga ada scene makan taugeee berbagai rupa hidangan, EVRYDAY))
Rasanya memang gak enak banget yaa.. ada seporsi nasi, telur dan kwetiau.
Terlalu kenyang kalau untuk 1 porsi nasi.
Bener, ka Ann.. dikurangi setengah porsi. At least, si telur paling yummii kalo sama nasiii…
Hahahahaha. Iya. Aku juga nonton film Pasutri Gaje itu. Kocak memang. Sepertinya memang Reza sama BCL itu sudah menyatu. Dah sohib banget jadi chemistry nya klop hahahaha.
Toslah kak Annie, kita sama tauge holic hehe… saya juga suka banget tauge, dimasak setengah mateng emang seenak itu, gizinya juga bagus.
Btw, nampak sederhana sih RM 999 ini, menunya juga masih sederhana, sepertinya sih enak ya masakan2nya, hehe..
Sederhana banget Mas Wahid. Cuma warung kecil di pojokan dengan pilihan menu yang gak banyak. Menghidangkannya pun di piring melamin biasa. Seperti kita makan di rumah.
Kak Annie seperti istri saya yang juga orang Palembang, sukanya nasi pera. Syukurlah rasanya nggak zonk ya kak, karena banyak food reviewer yang jual endorse.
Saya kalau ke Pontianak suka sama kopi hitam.
Ah OK. Wong Plembang memang kurang suka nasi lembek-lembek apalagi kan masakan Plembang tuh banyak yang berkuah. Jadi kalau dicampur nasi lembek, pasti hancur semua.
Ponti memang rajanya kopi hitam. Ada KOPI AMING yang outletnya berdiri di hampir setiap sudut penting kota Pontianak. Seng ada lawan lah kualitasnya. Outletnya juga dibikin nyaman. Saya demen banget nongkrong di sana.
Nex Carlos salah satu food vlogger yg banyak di suka sih karena ga berlebihan dan cukup real.
Aku sempet denger cerita temen yg pernah nyobain sajian di RM 999 Ayong ini emang cukup banyak di favoritkan bahkan utk nasi telurnya aja kadang bisa antri dan cah togenya kaya punya cita rasa khas
Bener banget. Selama makan di kedai ini tamunya tak pernah berhenti. Semua datang dan pergi dengan rata-rata pesanan yang sama. Nasi dan telur ceplok.
Sederhana biasanya memang lebih istimewa. Aku malah pingin nyobain kwetiaunya, Mbak. Sama telor setengah matangnya.
Kwetiaunya juga enak kata suami. Saya hanya sempat mencicipi sedikit karena lambung sudah babak belur makan nasi telor ceplok hahahaha.
Seru juga liat pembanding dengan referensi Nex Carlos, jadi makin penasaran mau coba langsung ke Pontianak!
Nex Carlos tu dikenal blak-blakan saat review makanan. Kalau enak, dia bilang enak; kalau biasa aja, juga dibilang terus terang. Banyak orang suka kejujurannya. Sering banget videonya menampilkan obrolan seru dengan pemilik warung atau tukang jualan. Ini bikin kita dapat cerita di balik makanan, bukan cuma rasanya.
eee kenapa bahas Nex Carlos jadinyaaaa…
anyway itu telor setengah matang sempurna emang ga bisa dianggap sepele, ya Yuk, itu menggiurkan buat para pecinta telor setengah matang sepertiku!
Akutu penggemar Nex garis keras hahahaha. Dia kalau ngeliput tuh santai banget. Diksinya juga gak melebih-lebihkan. Pilihannya juga gak melulu tempat yang bagus. Emperan juga dia bahas. Gak heran kalau subscribernya terus menanjak.
Buat aku yang sering menyusur beberapa kota, referensi dari dia tuh bisa banget dipake. Termasuk saat ke Pontianak ini. Kota kelahiran Nex Carlos.