Mampir ke Warkop Klasik San Kheu Jong Kopitiam di Singkawang

Photo of author

By Annie Nugraha

Mampir ke Warkop Klasik San Kheu Jong Kopitiam di Singkawang
Pusat pelayanan hidangan di San Kheu Jong Kopitiam Singkawang (Foto: koleksi pribadi)

Saya dan Kak Sari baru saja rampung menyantap Choi Pan di kawasan tradisional Marga Thjia, saat kemudian memutuskan untuk berjalan-jalan sebentar sembari menurunkan lambung yang terlalu penuh.

Kak Sari mengajak saya untuk mengunjungi Wihara Tri Dharma Bumi Raya yang berada tak jauh dari kawasan tempat tinggal marga Thjia. Tepatnya di titik tengah kota dan berada di antara banyak bangunan lama yang sudah berdiri puluhan bahkan mungkin ratusan tahun yang lalu.

Saya sungguh menikmati jalan santai ini karena bangunan yang saya lewati keindahannya sungguh mencengkram hati. Sentuhan peranakan begitu terlihat dengan struktur fasad yang mengingatkan saya akan kawasan Glodok, Pasar Baroe, dan beberapa titik memorable yang ada di kawasan Kota, Jakarta Pusat. Area tempat tinggal dan sentral kegiatan bisnis warga Tionghoa saat mereka berada di Batavia atau Jayakarta yang ketika itu dikuasai oleh VOC dan Inggris di sekitar abad ke-17 dan ke-18.

Saya sangat menikmati jalan santai ini sembari bertukar nostalgia saat saya dan Kak Sari bertemu di Medan. Mungkin sekitar hampir 20-an tahun yang lalu. Saat itu kami berkumpul dalam rangka pelatihan wire jewelry yang saya adakan. Di mana kala itu saya memang bersengaja datang ke Medan dalam rangka reuni dengan teman-teman SMP.

Langkah saya mendadak berhenti saat mata saya bersirobok dengan beberapa tamu yang sedang ngobrol akrab, tertawa renyah, sembari menikmati kopi dan beberapa panganan ringan di sebuah kedai. Indera penciuman saya pun tertohok mendadak oleh harum kopi yang menyeruak. Sebuah suasana akrab yang memang asyik untuk dilakukan beberapa waktu setelah kita makan siang.

“Ngopi dulu aja yok,” sahut Kak Sari yang paham banget kalau saya tuh penyuka kopi. Maklum, sama-sama anak Sumatera.

Saya langsung mengangguk tanpa berpikir dua kali. Saya pun mendadak semringah lalu membaca signage bulat yang bertuliskan San Kheu Jong Kopitiam yang terpampang di bagian atas fasad.

Ah kok tepat betul ya. Kami akhirnya memutuskan meluangkan waktu bertamu, mampir ke warkop dengan nuansa klasik, San Kheu Jong Kopitiam yang berada di Singkawang ini.

Mampir ke Warkop Klasik San Kheu Jong Kopitiam di Singkawang
Area bersantai dan menikmati hidangan di bagian depan San Kheu Jong Kopitiam Singkawang (Foto: koleksi pribadi)

Tamunya tidak banyak saat itu. Hanya ada sekelompok ibu-ibu yang tampaknya juga adalah wisatawan. Mereka duduk di salah satu meja bulat putih di dekat konter pelayanan dan terlihat asyik berbagi cerita.

Saya dan Kak Sari pun langsung membelokkan langkah, duduk di salah satu meja bulat kecil yang tersedia di area depan kedai. Tanpa melihat deretan menu yang tertulis di sebuah kayu besar dan berada di atas pusat pelayanan tamu, saya langsung memesan secangkir kopi hitam dengan gula terpisah.

Sembari menunggu, saya melemparkan pandangan ke setiap sudut ruangan.

Sentuhan klasik peranakan sangat terasa. Ada serangkaian hiasan-hiasan kertas berwarna merah di langit-langit, ada juga dua box kaca besar yang berisikan aneka makanan ringan, kerupuk atau keripik, yang pas banget untuk menemani waktu ngopi. Karena dalam posisi terbuka, ruangan depan ini tidak berpendingin ruangan. Terpasang keramik motif lawas di lantainya dan aneka hiasan dinding yang menghadirkan suasana rumah warga Tionghoa zaman doeloe.

Satu yang menarik perhatian saya adalah sebuah foto tinggi besar persis di samping tempat kami duduk. Di foto ini terlihat seorang lelaki lanjut usia dengan kondisi fisik yang masih sehat dan beberapa helai rambut yang memutih. Hampir sekujur tubuhnya diselimuti oleh Tutang, tato khas Dayak. Di kedua lengannya terdapat perhiasan atau gelang-gelang berwarna keperakan.

Dalam posisi foto melihat ke satu arah, dia mengenakan Seraung, topi khas Dayak dengan butir-butir manik hitam putih yang tersusun sedemikian rupa. Tangannya saat itu sedang memegang Sumpitan atau Tiup Sumpit yang di dalamnya ada panah kecil. Alat ini biasanya digunakan untuk perang atau berburu dengan cara ditiupkan ke arah lawan atau obyek tertentu. Sumpitan itu terlihat panjang dan berwarna hitam. Dia juga mengenakan cawat yang hanya terlihat di bagian atas pinggang.

Jika saya tidak salah duga, tampilan fisik seperti ini adalah lelaki suku Dayak Iban. Salah satu suku tradisional yang sering ditemukan di Kalimantan Barat.

Foto dengan karakter kuat ini sangat menarik perhatian saya. Kehadirannya di ruang tamu San Kheu Jong Kopitiam, menurut saya, telah memberikan kesan yang begitu kuat akan keberadaan Singkawang sebagai bagian dari provinsi Kalimantan Barat.

Sebuah kotamadya yang populer dengan tingkat toleransi antara suku dan agama yang sangat tinggi di Indonesia. Meski saat ini penduduknya sebagian besar adalah keturunan atau etnis Tionghoa (sekitar 42% dari total penduduk), saya melihat banyak sentuhan Islami dan budaya Kalimantan Barat di berbagai sudut kota.

Mampir ke Warkop Klasik San Kheu Jong Kopitiam di Singkawang
Fasad bangunan San Kheu Jong Kopitiam Singkawang (kiri) dan secangkir kopi hitam yang saya nikmati (Foto: koleksi pribadi)

Saya menyeruput kopi hitam pesanan yang dihidangkan di dalam cangkir kecil dengan tubuh yang tebal dan cuping cangkir yang besar dan kokoh. Cangkir yang sekarang sudah jarang ditemui. Piring wadahnya pun tebal dengan motif lukisan yang sama dengan badan cangkir.

Ada gula sachet dan sebuah sendok ujung lebar yang biasanya digunakan untuk menikmati es cendol atau kembang tahu dengan kuah jahe yang biasa dijual di gerobakan pinggir jalan. Lucu juga ya. Biasanya kan ada sendok kecil saja yang disiapkan disamping tatakan cangkir untuk mengaduk gula atau mematangkan bubuk kopi yang sudah disiram oleh air mendidih.

Saya menuntaskan secangkir kecil kopi hitam ini dengan rasa nikmat yang luar biasa. Saya bersengaja hanya menuangkan 1/3 gula sachet hanya agar rasa pahit yang begitu kuat bisa sedikit terurai. Asap menari yang bermain di atas cangkir mendorong semangat saya untuk menyeruput sedikit demi sedikit kopi hitam tersebut sembari kembali bertukar cerita dengan Kak Sari.

Melihat ada sebuah lorong yang cukup besar mengarah ke belakang, rasa penasaran saya mendadak bangkit. Saya kemudian mengajak Kak Sari untuk melangkah ke arah ini dan akhirnya mendapatkan kejutan di luar dugaan.

Di bagian belakang ini ada area dine-in dan tempat berkumpul yang cukup besar di mana di salah satu sudutnya tersedia peralatan audio serta entertainment dan sound system yang besar dan lengkap. Asumsi saya sih barangkali di sini, di bagian belakang warung kopi klasik ini, juga diselenggarakan live performance atau event musik bagi pengunjung, di waktu-waktu tertentu.

Lantainya sendiri terbuat dari dominasi kayu dan dibentuk seperti buritan sebuah kapal. Di ujungnya terdapat sebuah anjungan dengan setir kapal atau kemudi kapal yang terbuat dari kayu kokoh. Di buritan ini tampak juga sebuah tiang untuk menaikkan bendera atau layar dengan tangga kayu dengan tali sebagai penyanggah.

Satu yang begitu mengesankan adalah di anjungan ini kita akan melihat sebuah sungai kecil yang mengalir tenang melewati beberapa sisi kota Singkawang. Di atas sungai ada sebuah jembatan yang menghubungkan dua sisi sungai. Dari sini juga saya bisa melihat kedai Choi Pan Marga Thjia tempat saya makan siang tadi. Sementara di sudut lainnya saya bisa menyaksikan kemegahan Masjid Raya Singkawang yang tidak sempat saya hampiri.

Satu lagi pertanda yang sepertinya akan membawa langkah saya kembali ke kota Singkawang. Apalagi sekarang sudah ada penerbangan langsung dari Soetta menuju Singkawang yang tentu saja akan meringkas rangkaian perjalanan ke kota yang terkenal dengan kegiatan ngopi sehari-hari ini.

Mampir ke Warkop Klasik San Kheu Jong Kopitiam di Singkawang
Area konsumen di bagian belakang bernuansa kapal laut di San Kheu Jong Kopitiam Singkawang (Foto: koleksi pribadi)

Yuk, mari kita lanjutkan perjalanan.

Usai “menamatkan” kopi hitam yang membangkitkan semangat itu dan menelusur setiap bagian dari warung kopi San Kheu Jong Kopitiam, saya melanjutkan langkah menuju Wihara Tri Dharma Bumi Raya yang sudah kami rencanakan sebelumnya. Jaraknya tak lebih dari 100meter dari San Kheu Jung Kopitiam.

Wihara ini tepatnya berada persis di depan Pintu Gerbang Selamat Datang Pasar Hongkong yang ikonik yang juga adalah destinasi wisata belanja di kota Singkawang. Persis sebelum menyeberang untuk meraih wihara, saya melihat sebuah warung kopitiam yang cukup besar di salah satu tikungan jalan. Kedai ini terlihat jauh lebih klasik dengan sisi luar yang sepertinya sedang dalam proses renovasi.

Jadi ketika duduk di salah satu teras Wihara, saya juga melihat beberapa toko tradisional yang menjual berbagai kebutuhan primer yang kebanyakan adalah toko pakaian. Ada juga kedai kopi, toko emas, toko kelontong termasuk satu sisi indah dari Masjid Raya Singkawang. Berada di teras depan wihara ini saya jadi meyakinkan diri bahwa kegiatan perdagangan sangat pas untuk disematkan bagi Pasar Hong Kong kota Singkawang.

Tak terasa waktu sudah beranjak menuju pkl. 14:00 wib. Saat di mana saya harus melanjutkan perjalanan menuju Vihara Thai Pak Kung yang berada di sisi timur kota. Salah satu vihara besar dan terindah di tanah air yang belakangan tahun menjadi ikon dan kebanggaan warga Singkawang.

Semoga di lain waktu saya bisa menyusur kota Singkawang dengan rentang waktu yang lebih lega. Bersengaja menginap di sini agar bisa merasakan kemeriahan setiap sudut kota dengan sepuas-puasnya.

Kabarnya sih waktu terbaik untuk berkunjung ke Singkawang adalah saat perayaan Imlek dan Cap Go Meh. Waktu-waktu penting di mana keseruan dan keindahan dekorasi perayaan akan tampak mendominasi setiap sudut kota. Suasana kemeriahan yang dilengkapi oleh keseruan dan kemegahan serta sentuhan photography yang indah tak terkira.

Mampir ke Warkop Klasik San Kheu Jong Kopitiam di Singkawang
Dari buritan dek buatan milik San Kheu Jong Kopitiam Singkawang ini saya bisa melihat Masjid Raya Singkawang yang begitu indah (Foto: koleksi pribadi)

Mampir ke Warkop Klasik San Kheu Jong Kopitiam di Singkawang
Sungai yang ada di bagian belakang San Kheu Jong Kopitiam Singkawang (Foto: koleksi pribadi)

Mampir ke Warkop Klasik San Kheu Jong Kopitiam di Singkawang

Mampir ke Warkop Klasik San Kheu Jong Kopitiam di Singkawang

IG @annie_nugraha | Email : annie.nugraha@gmail.com

33 thoughts on “Mampir ke Warkop Klasik San Kheu Jong Kopitiam di Singkawang”

  1. Karena ngga suka ngopi, aku jadi fokus ke gelasnya yang Tionghoa banget, lantai motifnya unik dan antik , spot foto ujung kapal itu trus sama cuacanya keknya mendung-mendung manja gitu ga, sih, Bu?
    Cocok sih emang cuaca mendung begitu untuk ngopi. Tempatnya keliahatan zozy
    Entah kenapa liat foto2nya aku keinget sama resto tiptop medan.
    Apa karena sama2 Tionghoa ya?

    Reply
    • Nah aku jadi kangen Tip Top yang tempatnya di depan Tjong A Fie itu. MashaAllah. Dulu waktu aku masih kursus musik di YAMAHA di deretan ruko itu, pas SMP, makan minum di Tip Top tuh asyik banget. Ah, jadi rindu Medan.

  2. Bener mbak di kopi tiam2 tuh cangkirnya suka unik yaa, tebel gitu dan udah jarang sekarang. Itulah yang menjadi daya tarik kopi tiam2 :D Tapi ini istimewa eui karena lokasinya di Singkawang di mana kita tahu kalau etnis Tionghoa banyak di sana :D
    Kok gak datang pas imlek aja mbak? kan lbh rame tuh hehe
    kedai kopinya dekat wihara yang terkenal juga di sana ya mbak? jadi bisa mampir. Ternyata di area wihara jadi pusat perekonomian juga ya, karena banyak yang jualan. Wisatawan juga bisa nih ya mencari oleh2 di sana :D

    Reply
    • Waktu itu aku ke Singkawang hanya beberapa jam karena nemenin suami dinas di Pontianak. Asli belum puas banget. Pengen balik lagi pas Imlek. Semoga tahun depan bisa terwujudkan. Apalagi sekarang sudah ada penerbangan langsung dari Jakarta ke Singkawang. Duuhh bikin ngiler pokoknya.

  3. Saya kemarin sudah lihat postingan Mbak Annie di kopiitam ini. Dan sebelumnya saya lihat postingan teman kopiitam di Semarang. Dan semuanya keren tempatnya ya Mbak. Jadi nuansanya nyaman dan menyenangkan. Khusus di Singkawang ini kental sekali nuansa peranakannya. Jadi saat Mbak Annie tulis sebelum ke Kopiitam serasa menikmati suasana kayak di Glodok, kota Tua. Memang sejarahnya dari Kota Tua, kantor VOC pindah ke lapangan Banteng.Jadi perkembangan Pasar Baroe sangat pesat.
    Terus ada teman Blogger Pontianak yaitu Bang Dodon Jerri. Memang katanya ke Singkawang seru kalau pas perayaan Cap Go Meh Mbak. Dan saya juga pengin ke sana. Semoga kesampaian. Aamin

    Reply
    • Bener Mas. Singkawang memang menghadirkan banyak vibes peranakan yang unik banget. Serasa di Hong Kong dengan lingkungan Tionghoa yang kental. Enak memang ke sini tuh pas Imlek dan Cap Go Meh. Dah kebayang meriahnya. Motret juga pasti puas banget.

  4. searching dulu tentang kopitiam, karena kok kayanya banyak banget ya?

    ternyata ini emang tradisi ngopi dan ngeteh peranakan Tionghoa

    Wah apalagi Singkawang kan warganya banyak peranakan Tionghoa

    Mengesankan sekali tempatnya ya? Jadi penasaran pingin nyoba menikmati kopi di sini

    Reply
    • Pontianak dan Singkawang tuh memang bertebaran suasana peranakan serta Tionghoa. Nuansa yang unik dan estetik untuk direkam lewat kamera lalu kita tuliskan. Budaya ngopi juga semarak banget Mbak. Sama seperti di Bitung.

  5. San Kheu Jong Kopitiam-nya estetik niaaan, apalagi bagian yang kayak buritan kapal itu, duh jadi pengin duduk santai sambil ngopi liat sungai… dan langsung nyambung ke masjid di seberangnya, vibes-nya magis banget itu.

    Singkawang ini makin lama makin bikin penasaran. Sering liat cerita-ceritanya lewat video Dodon. Festival-festival di sana kayak magnet, bahkan festival musiknya mendunia, banyak turis asing datang.

    Reply
    • Kalo hobi motret, Singkawang surganya Rien. Setiap sudut kota tua cakep nian untuk difoto. Istagenik tanpa ampun. Apolagi pas Imlek dan Cap Go Meh. Woaaahh meriahnyo. Aku masih penasaran nak ke sano di saat2 itu.

  6. Walaupun aku jaraaang banget ngopi. Kalau ke daerah penghasil kopi, kopinya memang beda taste & aromanya. Wishlist banget nih wisata ke Singkawang. Pengen jelajah arsitekturnya, katanya kota 1000 klenteng. Kalau Lombok kan 1000 masjid.
    Kulinernya juga terlihat enak-enak…

    Reply
    • Nah cocok nih buat Mbak Hani. Arsitektur kota lamanya beneran unik Mbak. Cocok untuk orang2 yang menguasai sisi arsitektur seperti Mbak Hani. Kapan ada rezeki datang di saat Imlek dan Cap Go Meh. Rame dengan dekorasi.

    • Banget. Suasananya juga nyenengin. Jarang2 kan bisa menikmati atmosphere peranakan seperti ini.

  7. Untung menuruti rasa penasaran itu ya mbak, jadi bisa menemukan buritan kapal deh di bagian belakang warkop, dan jadi foto-foto yang bagus. Apalagi dari situ juga bisa melihat pemandangan sekeliling juga.

    Semoga bisa ke Singkawang lagi saat menjelang dan selama perayaan Imlek

    Reply
    • Bener Mbak Nanik. Dan gak nyangka banget kalau di bagian belakang kedai kopi ini ada spot foto yang tematik. Dah lah langsung banci foto hahahaha.

  8. Dapat banyak ‘bonus’ pemandangan Singkawang yang oke banget saat singgah di Jong Kopitiam-nya ya Mba, dari foto-fotonya yang melihat ikut menikmati keindahan dan kenyamanan serta keberagaman di sana.
    Penyajian kopi item-nya seperti menjaga tradisi.

    Reply
    • Singkawang ini konsep tempat santainya memang menikmati kopi. Dari yang diceritakan oleh teman travel blogger yang nemanin, warga Singkawang tuh memang senang berkumpul sembari ngopi

  9. Aku kok kayak flashback ke Belitong, ya gak sih, walaupun emang jauuuh beud hehehe.. tapi liat di setiap sudut kota estetik tapi masih asli – natural tuh sesuatu banget..

    Suka sama detail kecil kayak cangkir kopi yang tebal dan keramik motif lawas, tu elo banget ya An! Hmmmm .. jujur yaaa .. tiap kali ke blog ini gw belajar nggak cuma fokus ke kopi dan rasa, tapi juga vibe tempatnya: kayak dari sentuhan peranakan sampai lorong belakang dengan suasana kayak kapal laut yang super estetik itu.

    Travel experience banget, gak heran tulisan demi tulisan langsung diapproval sama media! Kalo lagi banyak waktu, emang paling bahagia deh blog walking hihihi

    Reply
    • Ah betul banget Tan. Waktu di sana gue juga mendadak teringat dengan banyak kedai kopi di Belitung. Termasuk suasana peranakannya. Tapi yang pasti kedai-kedai seperti San Kheu Jong Kopitiam ini jadi favorit warga buat berkumpul dan ngobrol beramai-ramai. Bener. Gue banget ini sih hahahaha.

    • Semoga suatu saat bisa sampai ke Singkawang ya Mas. Menyenangkan pastinya kalau sudah di sini. Apalagi jika seneng bersosialisasi sembari ngobrol dan ngopi.

  10. Begitu melihat foto pertama, saya langsung fokus pada 2 box kaca itu yang isinya aneka camilan ya, Mbak. Duh.. pas banget teman minum kopi itu, apalagi suasananya sangat kental banget peranakan. Yang keren lagi, burita dek buatan. Jadi serasa berada di atas kapal. Apalagi viewnya juga bagus, termasuk ke arah masjid Raya Singkawang dan jembatan merah unik. Spot foto yang sangat menarik.

    Reply
    • Nah nah nah bener banget Mas Bambang. Ngopi sambil ngemil tuh perpaduan yang sempurna. Sayang perut saya lagi full banget dan punya waktu (sangat) terbatas. Mangkanya pengen tak niatkan kembali dengan waktu kunjungan yang lebih lama. Pengen menelusur banyak tempat yang belum sempat saya datangi.

  11. lantainya unik!
    hihihi selain cangkir kopi yang bikin penasaran, saya lebih penasaran dengan ubin
    kayanya ini khas rumah hunian peranakan (melayu-tionghoa)

    di Pontianak kan banyak orang Tionghoa, mereka berakulturasi dengan budaya setempat dan munculah budaya baru yang unik

    Reply
    • Betul banget Mbak. Sekitar 40-an% warga juga adalah keturunan Tionghoa. Jadi benar-benar jadi mayoritas. Sentuhan peranakan pun terasa banget.

  12. Gelas kopi yang dipakai sama dengan gelas yang biasa digunakan di kedai kopi jadul di daerah KepRi.
    Mungkin karena akar budayanya sama, diawali kebiasaan warga keturunan Tionghoa berkumpul bersama di kedai kopi.

    Singkawang masih menjadi bucketlist saya untuk dikunjungi mbak. Bakal seru banget melihat akulturasi budaya Tionghoa yang lebih terjaga bahkan lebih dari Palembang.

    Reply
    • Eh bener banget. Menyusur lingkungan peranakan memang selalu mengasyikkan. Apalagi saat bertemu dengan kedai kopi di setiap sudut daerah. Rasanya kembali ke daerah kelahiran alm Ayah saya di SumSel.

  13. Benar-benar definisi kopitiam yang gak lekang oleh waktu. Sepintas mengingatkan saya kayak di film atau serial Chinese klasik suasananya. Suasana riuh rendah orang ngobrol dan aroma kopinya di sini sepertinya bakal bikin kangen Singkawang.

    Reply
    • Aih bener banget. Kalau seneng nonton film-film Taiwan, China, Hong Kong, dan area Asia Tengah, biasanya akan ketemu suasana seperti ini ya. Termasuk di Belitung yang komunitas keturunan China nya banyak.

  14. Singkawang ini kota nya cantik banget ya , bisa gak abis abis aku bikin konten kyknya kalau main ke Singkawang wkwkw apalgi kulinernya enak enak kapan ya aku pernah makan bakmi Singkawang katanya aseli dari Singkawang dan cuma punya satu cabang di Jakarta Barat, uenak banget rasanya jadi semakin kepo kalau makan bakmi Singkawang di tempat asalnya

    Reply
    • Kota klasik dengan nuansa peranakan yang kental banget. Kalo mau ke sana saat imlek dan cap go meh yang pasti seru.

Leave a Comment