
Discover The Natural Treasure Ternate & Tidore | Featured | Juni 2026
Saat undangan event ini sampai di WA, saya sedang berada di tengah diskusi hangat tentang rencana seorang teman yang ingin liburan ke Ternate dan Tidore. Dia meminta saya untuk membuatkan itinerary supaya perjalanan dia dan rombongan yang hanya tiga hari dua malam itu bisa terlaksana maksimal
Kok bisa pas gitu ya?
Untungnya lagi, di saat event ini dilaksanakan, 22 April 2026 di ruang Flores A Hotel Borobudur Jakarta, saya sedang tidak ada jadwal sama sekali. Sengaja saya kosongkan karena ada niat ingin nyoba salah satu jenis kerajinan tangan yang lebih slow energy and effort ketimbang ngawat. Setidaknya lebih “bersahabat” dengan jari-jari saya yang sedang dalam proses penyembuhan.
Saya tersenyum dan tertawa di dalam hati lalu sengaja menunjukkan undangan itu kepada sang teman. Satu yang membuat saya tersenyum adalah designation yang disematkan setelah nama. Penulis dan Dokumenter Tidore. I was so flattered. Merasa dihargai dan dikenali dengan baik.
Baiklah. Menghargai pihak pengundang dari sisi Tidore, saya berketetapan hati untuk datang dan bersiap menjadi penyaksi presentasi budaya di timur Indonesia. Khususnya untuk Ternate dan Tidore. Saya pun langsung melakukan RSVP untuk memastikan kedatangan. Panitia juga mengingatkan saya untuk datang on-time persis seperti himbauan yang tertulis di kartu undangan. Itu saya catat dengan seksama.

Datang Membawa Semangat
Acara yang dimulai pukul 14.00 WIB dan berakhir di pukul 16.30 WIB ini diadakan di jam yang sungguh dilematis. Mengukur waktu transportasi sekitar satu setengah jam dari Cikarang ke kawasan Lapangan Banteng di mana Hotel Borobudur berada, saya berarti harus makan siang sebelum waktunya. Jika pun melewati jam makan di rumah lalu maksi di salah satu resto yang ada di hotel bintang lima ini, berarti saya harus meninggalkan kediaman di Cikarang setidaknya pukul 11.00 WIB. Itu pun dengan catatan lalu lintas sesiangan itu cukup bersahabat dan bawa duit lebih karena Hotel Borobudur berskala premium. Sepiring nasi goreng aja bisa ratusan ribu.
Setelah berbagai pertimbangan dan mengingat bahwa saya harus naik kendaraan umum karena hari itu adalah tanggal genap sementara mobil saya berplat ganjil, opsi kemudahan untuk urusan lambung malah jadi lebih mudah diatur. Saya putuskan untuk naik Grab pulang pergi dan meminta si Mbak menyiapkan makan siang dalam wadah sekali pakai untuk saya nikmati selama dalam perjalanan menuju Jakarta.
Maka sekotak Indomie goreng jumbo, sebuah telur ceplok goreng setengah matang, beberapa potongan sosis, sayuran hijau lengkap (supaya dosa makan instan bisa dimaafkan) dengan sendok garpu plastik dan sebotol air putih dingin, melayangkan bau wangi semerbak di dalam mobil yang saya tumpangi.
“Indomie goreng ya Buk. Wanginyaaa…..” Ujar si abang Grab sembari terlihat “tersenyum penuh arti” dari kaca spion tengah. Saya terdiam sesaat. Memastikan bahwa pak supir tidak sedang atau akan berniat menurunkan saya di tengah jalan sementara dia menghabiskan tuntas bekal saya.
“Yah, saya cuma bawa satu bekal Pak.” Jawab saya sok polos. Ya ampun jadi merasa (pura-pura) berdosa tidak berbagi.
Si Abang pun tertawa renyah. Membiarkan saya yang hampir sepanjang jalan sibuk dengan diri sendiri. Ngunyahnya lama karena gigi jarang-jarang, dikit-dikit bebersih, selesai makan dimasukin ke plastik sampah, ngabisin air putih sebotol penuh, lalu merapikan celak, mengoles kembali lipgloss ditutup dengan semprotan minyak wangi sebagai “senjata” terakhir.
Ya ampun. Nulis ini mendadak saya jadi kepengen Indomie goreng jumbo dengan segala condiment yang menyelerakan itu.
Eh panjang amat preambule nya ya. Maafkan.

Baik. Kembali ke topik utama.
Sesuai perhitungan, saya tiba di Hotel Borobudur persis satu setengah jam kemudian. Seorang petugas berseragam dengan ramah membukakan pintu. Ceiling tinggi di area fasad ini, seketika menyajikan kemegahan Hotel Borobudur. Tahunan tidak ke sini, saya tetap aja tercengang dengan kondisinya yang terjaga dengan baik.
Dulu sekali saat masih hobi kelayapan bareng temen-temen kantor, saya seringkali datang ke Musro Club & Lounge milik hotel ini. Kami segerombolan biasanya datang pas ladies night agar tidak dikenakan cover charge. Salah seorang teman kos saya malah pernah jadi penyanyi di Musro ini. Bahkan saya pernah “dipaksa” tampil di panggung. Ikutan nyanyi. Padahal suara saya kek kaleng rombeng yang bikin ayam-ayam tetangga mati seketika.
Ah. Ngelantur lagi.
Hotel Borobudur. Salah satu hotel bintang lima yang berdiri pada 1974. Berarti saat artikel ini hadir, hotel yang terkenal dengan kelezatan sop buntut dan taman tropis seluas sembilan hektar ini sudah berusia 52 tahun. Bangunannya sendiri terlihat sangat klasik dengan tiang-tiang gagah dan tinggi menjulang. Setidaknya kemegahannya tetap bertahan dan masih bisa langsung dirasakan saat pertama saya datang.
Tak jauh dari titik mobil ini berhenti, persis di teras depan pintu utama terpasang sebuah sudut display estetik yang menampilkan kekayaan alam dan budaya Ternate dan Tidore. Pengaturan yang memastikan tamu bahwa mereka sudah tiba di tempat yang tepat khusus untuk event Discover the Natural Treasure Ternate & Tidore. Semua terwakilkan dengan backdrop bergambar Puta Dino, kain tenun Tidore, kemudian dilengkapi dengan beberapa wadah tradisional yang tertata rapi di hadapan poster berukuran persegi panjang ini. Kehadirannya memberikan kesan bahwa kedua daerah, Ternate & Tidore, yang masuk dalam provinsi Maluku Utara ini, telah siap mempresentasikan diri di hadapan publik.
Atas bantuan seorang petugas hotel, saya berfoto di sudut yang cantik ini. Mumpung langit cerah dan tidak ada tamu lain yang ngantri.

Melewati pemeriksaan fisik dan bawaan di pintu masuk utama, wajah dan tubuh saya mendadak merasakan udara dingin yang tercipta oleh pendingin sentral sebuah ruangan grande dengan sentuhan marmer kelas atas. Sebuah signage kemudian mengarahkan saya untuk langsung belok ke kiri. Beberapa langkah pelan kemudian membuat saya bertemu dengan sebuah pemandangan artistik lainnya. Sebuah spot berfoto lainnya yang dilengkapi dengan lampu dalam ruang dan tulisan/judul event Discover The Natural Treasure Ternate & Tidore. Hadir juga susunan bambu dan kayu yang salah satunya menghadirkan Puta Dino di sebuah sudut display.
Duh sayang banget gak ada yang bisa bantu saya berpose di sini. Padahal bagus banget loh spot ini untuk berfoto.
Baiklah. Lanjut jalan saja kalau begitu.
Melihat sedemikian banyak lelaki menggunakan Besu (penutup kepala tradisional suku Tidore) dan mengenakan outer megah dan resmi dengan warna yang sama, atmosphere sebuah acara formal pun begitu terasa.
Di langkah berikutnya kaki saya mendadak berhenti. Sebuah wall display menyerupai grande information board setinggi 3-4 meter hadir di depan mata. Bentuknya memanjang dan ditempeli banyak infografik tentang peta wisata, kekayaan alam, jejak sejarah, cerita budaya, dan banyak hal lain yang menguatkan keistimewaan Ternate & Tidore sejak dahulu kala. Khususnya keberadaan mereka sebagai produsen cengkih dan rempah-rempah terbaik.
Sayangnya saya tidak bisa lama menelusuri setiap sisi display menjulang ini karena bertemu dengan beberapa tokoh Tidore yang langsung mengenali saya. Saya pun terlibat dalam cerita berlarut-larut. Ngobrol panjang kali lebar sampai waktu acara dimulai sudah mepet.
Melapor ke meja penerimaan tamu, saya kemudian dibawa ke salah satu meja persis di belakang rombongan VIP. Jadi setidaknya sedikit lebih leluasa untuk memotret.


Rangkaian Acara yang Menggugah Jiwa
Masuk Ballroom Flores A di lantai dasar hotel, sekali lagi saya dibuat terkisap. Selain panggung yang berdiri indah, kokoh, dengan backdrop yang informatif dan dengan komposisi warna yang apik betul, mata saya dihibur dengan skill design digital yang begitu mumpuni. Di latar belakang panggung yang jangkung ini terlihat Pulau Tidore dari salah satu bukit di Ternate. Sebuah pesan kebersamaan yang ingin disampaikan lewat kuat dan indahnya photography. Foto ini kemudian dilengkapi dengan rancang digital yang memamerkan energiknya para penari yang mengenakan baju daerah kedua tanah bersejarah ini.
Di samping tempat saya duduk sudah disiapkan buffet setting dengan peralatan dan pengaturan pencahayaan yang cantik banget. Berkelas, rapi, tapi tetap menampilkan unsur keunikan. Beberapa wadah makanan ada yang terbuat dari selongsong bambu, lembaran tipis bambu yang dianyam, sendok dan garpu yang terbuat dari batang bambu total, dan masih banyak lagi. Selama acara berlangsung, kesibukan begitu terlihat di area buffet ini karena memang untuk menghadirkan rangkaian masakan tradisional yang kaya ragam tentunya tidaklah mudah. Saya bahkan sempat kerap menoleh, mencuri kesempatan untuk memotret. Mumpung belum disentuh oleh para tamu.
Baiklah sekarang konsentrasi ke panggung.
Seperti halnya sebuah acara formal, beberapa sambutan menyertai. Mulai dari Walikota Ternate, Wakil Walikota Tidore, Pihak Panitia/Penyelenggara yang menjelaskan tentang visi dan misi event yang sedang diselenggarakan (jika tidak salah beliau adalah salah seorang petinggi dari Dinas Pariwisata Ternate), dan sambutan perwakilan dari Hotel Borobudur (PIC dari General Manager). Serangkaian sambutan ini kemudian ditutup dengan doa bersama.
Acara kemudian dilanjutkan dengan sederetan tampilan seni yang memukau. Mulai dari musik berbahasa daerah dan alat musik tradisional, pembacaan puisi yang juga menggunakan bahasa daerah, rangkaian fashion show singkat yang menampilkan wastra khas Ternate dan Puta Dino mewakili tenun Tidore.
Dari sekian banyak penampilan panggung ini, saya begitu terkesan dengan permainan lagu dan pembacaan puisi oleh tim Tidore. Penampilan mereka sungguh menggetarkan. Usai mereka tampil, saya menyempatkan diri mencari para performer ini. Saya bertemu Kemal (sang pembaca puisi) yang aksinya begitu membius hadirin dan dua orang pria yang mengenakan baju serba putih dan memainkan Arababu dengan begitu mahirnya.
Saya ngobrol banyak dengan mereka bertiga yang ternyata mengenal nama saya yang sudah beredar di lingkungan para seniman Tidore. Kemal belakangan saya ketahui adalah salah seorang keponakan dari budayawan ternama Tidore bernama Sofyan Daud. Ko Sofyan, begitu saya biasa memanggil beliau, sempat menjamu saya hampir seharian penuh saat saya berada di Tidore dan bertamu ke rumahnya di Ternate. Saya menabung banyak informasi tentang Bumi Limau Duko (salah satu julukan untuk Tidore) sembari ngobrol banyak tentang adat istiadat, beragam jejak masa lampau, dan rangkaian peninggalan sejarah tentang Tidore. Beliau juga adalah salah seorang pendiri Garda Nuku. Komunitas yang beranggotakan mereka yang peduli akan Tidore sebagai tanah kelahiran mereka dan menjaga kelestarian akan kekayaan budaya yang dimiliki oleh negeri rempah ini.
Sebagai sela di antara loncatan atau untuk pergantian acara panggung, panitia menghadirkan beberapa video tentang kegiatan budaya yang dilakukan oleh kedua belah pihak/daerah. Saya sempat menandai sebuah video penyelenggaraan acara Hari Jadi Tidore. Rekaman dimulai dari upacara Rora Ake Dango yang diadakan di Kelurahan/Desa Gurabunga sebagai pembuka acara. Kemudian video dilengkapi dengan perjalanan Sultan Tidore Hj. Husein Alting Syah yang diiringi dengan panji-panji kebesaran mengikuti acara Lufu Kie. Rangkaian serta iring-iringan kapal/Juanga yang mengelilingi Pulau Tidore.
Video, meski hanya sekian menit, berhasil membangkitkan memori saya saat pertama kali menginjakkan kaki di Tidore pada 2017. Saat itu saya dan para blogger pemenang lomba menulis bertemakan Tidore Untuk Indonesia, menjadi tamu kehormatan Sultan dalam rangka Hari Jadi Tidore ke-909 secara adat dan yang jatuh pada awal April setiap tahunnya.

Sebagai penyempurna acara, panitia telah menghidangkan sederetan makanan tradisional Ternate & Tidore yang sempat saya foto di awal kedatangan tadi. Ada beberapa yang saya kenali karena sempat beberapa kali menikmatinya saat berada di Tidore. Diantaranya adalah Nasi Jaha (nasi berbungkus daun pisang kemudian dibentuk selongsong dan dimasukkan ke dalam bambu). Di daerah lain sering juga disebut lemang. Kemudian ada Popeda dan beragam ikan segar yang dimasak pedas lengkap dengan banyak potongan rempah dan bumbu masak.
Selain masakan khas kedua daerah, di satu sisi khusus disediakan juga teh, kopi, dan minuman yang diproduksi khusus oleh UMKM Ternate & Tidore. Lalu ada juga kudapan dengan aneka rasa dan bentuk.
Sayangnya karena melayani obrolan dari beberapa tamu yang mengenal saya sampai puluhan menit, antrian yang memanjang, dan sajian yang terbatas, saya terpaksa melewatkan acara makan-makan ini. Saya hanya sempat merasakan nasi beberapa sendok dengan ayam yang dikukus dan dibungkus dengan daun pisang. Mirip seperti pepes tapi dengan rasa bumbu yang berbeda. Saya juga sempat mengambil secangkir kopi dan dua buah kue saja.
Lagi-lagi saya terjebak pada obrolan dengan beberapa tamu yang hadir di acara ini. Saya malah sempat berdiskusi lama dengan seorang staff dari Kementrian Pariwisata yang khusus menangani pariwisata bagian timur Indonesia. Kami ngobrol berjam-jam tentang Tidore yang belum pernah dia pijak. Sementara saya sudah delapan kali menjadi tamu Bumi Seribu Kebajikan tersebut.

Hal lain yang tak ingin saya lupakan adalah kehadiran dari beberapa produk khas daerah yang menurut saya adalah juga bagian penting dari konsep discover the natural treasures untuk Ternate & Tidore. Salah satunya adalah Popeda Instan yang diproduksi oleh Kagounga. Salah satu UMKM yang digawangi oleh Heri dan Aiya. Dua pria muda yang energik dengan ide yang sangat konseptual.
Saya begitu terkesan akan movement dan ide mereka yang bernas. Melahirkan Popeda dalam wujud instan sehingga mudah dibawa dan dijadikan oleh-oleh khas Ternate & Tidore. Saya sudah mencoba sendiri dan benar-benar proses penyajiannya praktis dengan efek mengenyangkan serta aman di lambung. Acara ngobrol saya dengan Aiya dan Heri berujung pada tulisan saya berjudul dari Ternate Untuk Negeri Tercinta yang kemudian saya jadikan bagian dari antologi Cerita dari UMKM Indonesia, Wirausaha Lokal Berdampak Nasional yang dilahirkan oleh komunitas penulis Pondok Antologi Penulis Indonesia (PAPI) dan diterbitkan oleh Annie Nugraha Mediatama (ANM).
Selain Kagounga, dihadirkan juga banyak jenama UMKM lain asal Ternate & Tidore. Ada minuman serba rempah-rempah juga berbagai snack berbahan dasar kacang kenari. Bahan baku yang sering dipakai untuk asupan apapun di Tidore khususnya. Tak ingin melewatkan kesempatan baik ini, saya membeli beberapa produk dan tentu saja Popeda instan yang diproduksi oleh Kagounga.
Di lain sisi/area yang berbeda, para tamu diajak untuk menyambangi stand kerajinan tangan dan berbagai produk fashion termasuk kain tradisional dari Ternate maupun Tidore. Ada kain tenun meteran, baju jadi, topi, aksesoris, tas, dan masih banyak lainnya. Sebagian presentasi produk dihadirkan oleh jenama Puta Dino Kayangan milik Anita Gathmir. Salah seorang sahabat inspirasional yang sudah saya kenal bertahun-tahun. Dia jugalah yang bekerja keras melahirkan kembali dan bergelar sang pelestari Puta Dino, tenun Tidore yang sempat hilang ratusan tahun yang lalu. Jenama ini bukan hanya berjaya di nusantara tapi juga sudah menorehkan jejak di beberapa negara. Seperti Amerika, Jerman, Afrika Selatan, Jepang, dan Malaysia.
Menjadi binaan Bank Indonesia khusus untuk wilayah Timur, Puta Dino Kayangan telah memilik Rumah Tenun di Kelurahan Soasio dengan rumah dua lantai yang tak jauh dari Kadato Kie (Istana Sultan) yang berada di kelurahan yang sama. Dengan beberapa penenun aktif berusia muda, Puta Dino Kayangan telah menabung pengalaman dan menambah jejaring lewat banyak pameran wastra nusantara. Seperti misalnya Adiwastra Nusantara, Inacraft, dan Indonesia Fashion Week.

Pendapat Pribadi untuk Acara Ini
Menyaksikan ruangan Flores A penuh dengan pengunjung, saya angkat topi untuk panitia yang berhasil mengumpulkan berbagai audience dari berbagai kalangan dan atau lembaga. Sebagian besar adalah institusi yang terkait dengan pariwisata dan pelestarian budaya. Ada juga mereka yang bergerak di industri kreatif dan berbagai media.
Nah, saya ini masuk di bagian mana ya?
Tapi tak apa. Hadir atas nama pribadi yang sudah menganggap Tidore sebagai bagian dari jelajah pengalaman sebagai seorang travel blogger pastinya sudah lebih dari cukup.
Penyelenggaraan acaranya juga bagus dan berkesan. Tidak berpanjang-panjang tapi langsung mengena dan tepat sasaran. Semua terangkai dengan baik mengikuti tema utama Discover The Natural Treasures Ternate & Tidore, presentasi kekayaan budaya di timur Indonesia. Saya melihat kerjasama erat di antara keduanya sudah terjalin dari ratusan tahun yang lalu. Bahkan dari buku sejarah yang dulu saya baca saat masih sekolah, nama Ternate selalu digabungkan dengan Tidore. Diucapkan berurutan sebagai satu kesatuan. Padahal jelas mereka adalah dua daerah yang berbeda meski berada di dalam satu provinsi, Maluku Utara.
Yang cukup kedodoran adalah dua MC yang bertugas. Mereka seperti tidak memegang informasi yang berlimpah tentang Ternate & Tidore. Jadi saat ada kesenjangan waktu, termasuk diputarnya berbagai rangkaian video, keduanya sering diam dan tidak memberikan penjelasan apapun. Tidak ada chemistry yang erat sehingga tak bisa saling mengisi atau menangkap blank spot saat rekan MC mengalami kebuntuan informasi. Hal ini seharusnya tidak boleh terjadi saat kita sedang membawakan acara dan terlihat di atas panggung secara langsung.
Hal penting di atas segalanya adalah saya bisa bertemu dan berkenalan dengan banyak orang asli Tidore dan mengajak saya ngobrol berlama-lama. Suasana akrab langsung tercipta. Apalagi dari rangkaian obrolan panjang kali lebar tersebut saya menabung banyak informasi tentang Tidore yang belum pernah saya ketahui sebelumnya. Rezeki yang tentunya tidak mudah didapatkan oleh orang lain.
Terima kasih untuk Pemerintah Daerah Kotamadya Ternate & Kotamadya Tidore serta APEKSI dan para sponsor yang sudah mengundang saya untuk hadir di acara ini. Satu lagi “buah tangan” berharga telah menjadi bagian penting dalam jejak karir saya sebagai seorang penulis dan pecinta sejarah, budaya, dan segala hal yang berhubungan dengan pariwisata.







