Jika Hanya Punya Waktu Dua Jam di Taksim Square Istanbul Turki, Apa Saja yang Bisa Kamu Lakukan?

Photo of author

By Annie Nugraha

Jika Hanya Punya Waktu Dua Jam di Taksim Square Istanbul Turki, Apa Saja yang Bisa Kamu Lakukan?

Jika hanya punya waktu dua jam di Taksim Square Istanbul Turki, apa saja yang bisa kamu lakukan? | Travel | Januari 2026

Hari itu adalah hari terakhir saya dan rombongan berada di Turki. Setelah sembilan hari menjelajah beberapa tempat seperti Bursa, Capadocia, dan tempat-tempat wisata lainnya. Rombongan tour yang saya ikuti kemudian memutar rute kembali ke Istanbul. Titik atau kota saat kami tiba sembilan hari yang lalu kemudian menjadi urutan paling belakang sebelum akhirnya bergegas menuju Istanbul International Airport untuk kembali ke tanah air.

Setelah sarapan di hotel yang pagi banget, rombongan kami tampak sibuk mengumpulkan sekian banyak koper untuk segera dimasukkan ke bis yang sudah selama sembilan hari menemani perjalanan wisata di Turki. Didha, Tour leader yang berangkat barengan dari Jakarta, tampak menyapa setiap peserta satu persatu. Menanyakan kondisi kesehatan dan menepuk semangat para peserta untuk melewati hari terakhir perjalanan dengan suka cita.

Alih-alih menjawab pertanyaan Didha, saya justru bertanya balik dengan hal yang sama ke bapak dua orang anak itu. Didha tersenyum lebar. Wajahnya yang mirip dengan Uya Kuya tapi (jauh lebih) gantengan itu, semringah saat saya mengucapkan hamdallah dan menghaturkan permohonan maaf. Semalam saya sempat limbung karena kaki mendadak lemas dan segan untuk diajak melangkah sewaktu mengunjungi Grand Bazaar di pusat kota Istanbul. Kejadian yang sempat merepotkan dan mengkhawatirkan beberapa orang dalam rombongan.

“Sudah fit buat hari terakhir Bu Annie?” tanya Didha ramah sembari menjabat tangan saya yang menghangat. “Sudah banyak istirahat semalam ya Bu,” sambungnya ramah.

Saya mengangguk yakin dengan senyum merekah. “Alhamdulillah sudah fit kembali Mas Didha. Semalam bisa tidur nyenyak. InshaAllah semangat menyusur beberapa tempat hari ini. Maaf ya kemarin jadi merepotkan.”

Untungnya, selain membawa obat-obatan dan vitamin pribadi, sajian sarapan di hotel berhasil memenuhi selera saya. Makan pun jadi lahap dan lambung lebih terisi. Teman-teman seperjalanan pun turut memperhatikan asupan saya. Bahkan beberapa menawarkan diri mengambilkan banyak camilan untuk dibawa selama dalam perjalanan.

Gitu ya. Saat dalam perjalanan berkelompok begini, seringnya kita justru menemukan saudara baru. Saling memperhatikan dan saling peduli. Meski dalam perjalanan ini saya didampingi adik ipar, sebagian besar anggota rombongan tampak sangat memperhatikan satu sama lain. Saya bahkan bertemu beberapa teman baru yang hingga kini tetap intens berkomunikasi.

Jika Hanya Punya Waktu Dua Jam di Taksim Square Istanbul Turki, Apa Saja yang Bisa Kamu Lakukan?

Sesaat setelah semua berkumpul dan duduk manis di dalam bis, Felix – local tour guide kami yang fasih berbahasa Indonesia – menginformasikan bahwa di hari terakhir ini rombongan akan mengunjungi tiga tempat di tengah kota Istanbul yaitu Taksim Square, sebuah resto di seputaran pusat kota (sekitar 1km dari Taksim Square), dan diakhiri dengan ziarah ke Masjid Eyup Sultan, sebelum akhirnya meluncur ke Istanbul International Airport.

Saya langsung terloncat gembira. Setelah berkali-kali menonton berapa akun Youtube para traveller tentang Taksim Square, saya sudah menyimpan niat mendalam akan ke tempat ini saat menginjakkan kaki di Istanbul. Lewat rangkaian video inilah saya bisa menyaksikan betapa Taksim Square [Lapangan Taksim] – telah menjadi jantung beberapa kegiatan wisata di di Istanbul. Setiap penjelajah bahkan berani menyebutkan bahwa belum lengkap pergi ke Istanbul sebelum menelusur Taksim Square.

“Tapi kita tidak bisa berlama-lama di Taksim Square ya Bapak Ibu. Kita alokasikan waktu sekitar dua jam, untuk Bapak Ibu menyusur tempat ini. Setelahnya semua berkumpul kembali di depan masjid yang barusan kita lewati.”

Demikian uraian yang disampaikan Felix sembari sekali lagi mengingatkan semua yang hadir untuk disiplin akan waktu.

Waduh. Di tempat seluas itu hanya selama dua jam? Saya langsung gedabrukan. Sepanjang perjalanan menuju Taksim Square saya menonton kembali beberapa video sembari mengenali titik-titik penting yang harus saya kunjungi, sembari menguatkan hati untuk tidak belanja dan fokus memotret serta membuat video saja.

Pokoknya atau setidaknya 80% dari tempat yang direferensikan oleh para pejalan bisa saya sambangi. Meski untuk itu harus mendisiplinkan diri dan mengatur waktu secermat mungkin.

Baiklah. Berikut adalah beberapa tempat yang saya hampiri dalam – persis – dua jam selama mengelilingi Taksim Square dan menyusur Jalan Istiklal [Istikalal Avenue] yang menjadi area para pejalan kaki dengan deretan berbagai public entertainment and shopping facilities.

Kedai Kebab, Buah, dan Minuman Segar

Dari kejauhan deretan kedai yang berjejer setengah lingkaran ini mudah sekali ditandai dari kejauhan. Hanya beberapa langkah memasuki titik awal Taksim Square, aroma daging yang terpanggang dan menempel di sebuah besi besar akan menyambut kita. Wanginya begitu menyeruak dan sangat menggugah selera. Harga per satuannya sekitar 20-30 Lira dengan ukuran sedang. Semakin banyak jenis isiannya juga akan semakin mahal. Yang seharga itu isinya gak banyak tapi lumayanlah untuk membalas rasa penasaran.

Selain kebab, setiap kedai biasanya juga menyediakan Roti Simit [roti bulat bertabur wijen] dan beberapa kudapan lain khas Turki lainnya. Setiap kudapan rata-rata punya harga yang sama. Begitu pun dengan aneka juice segar.

Salah satu kedai yang sering diulas dan direferensikan para pejalan adalah Dzturkler. Gak luas sih ukurannya. Mereka juga tidak menyediakan bangku dan kursi untuk dine-in. Jadi kalau ke sini ya hanya beli saja dan harus makan sambil berdiri.

Jika ingin mencoba Simit. Selain di toko makanan di sisi depan tadi, di sepanjang Jl. Istiklal banyak sekali gerobak dorongan yang menjajakan roti ini. Kita bisa dengan mudah menemukannya di beberapa tempat wisata lain di sepanjang kota Istanbul. Roti Simit sepertinya memang menjadi ciri khas dagangan gerobakan di Istanbul. Mungkin kalau di kita tuh mirip seperti pedagang gorengan kali ya. Oia, pedagang roti ini ada juga yang sekalian menjual kacang rebus dan jagung bakar.

Jika Hanya Punya Waktu Dua Jam di Taksim Square Istanbul Turki, Apa Saja yang Bisa Kamu Lakukan?
Jika Hanya Punya Waktu Dua Jam di Taksim Square Istanbul Turki, Apa Saja yang Bisa Kamu Lakukan?

Resto & Cafe Mustafa atau Hafiz Mustafa

Tak jauh dari kedai jajanan di atas, ada Resto & Cafe Mustafa atau Hafiz Mustafa, yang sebelumnya sempat saya tandai sebagai one of the must visit convenient cafes saat berada di Istanbul. Hampir setiap travel blogger ternama mereferensikan cafe ini untuk bersantai sembari menjajal kopi khas Turki.

Jadi saat salah seorang anggota rombongan mengajak saya untuk bertamu ke Hafiz Mustafa, saya langsung melangkah cepat tanpa berpikir dua kali.

Berdiri sejak 1864 tempat nongkrong ini menawarkan banyak sekali dessert khas Turki seperti Baklava, Kunava, Turkish Delight, teh dan kopi khas Turki, serta berbagai potongan cake yang nauzubillah manisnya. Saya hanya sempat mencoba sepotong Baklava dan itu aja bikin lidah saya ngilu selama berjam-jam bahkan meski sudah dinetralisir dengan minum air putih sebotol penuh sekalipun. Saking manisnya itu kue. Tapi buat sweet tooth [orang yang sangat menyukai makanan atau minuman manis] sih tentunya gak ada masalah. Bahkan Hafiz Mustafa adalah salah satu surganya.

Di tempat ini, yang bikin saya berdecak kagum adalah penataan ruangannya yang mewah, sophisticated, rapi, dan apik. Semua pilihan jajanan disusun tidak hanya berdasarkan jenis tapi juga komposisi warnanya. Baik yang dalam display kaca maupun yang sudah disusun dalam kotak paket untuk oleh-oleh. Setiap tipe sajiannya betul-betul menggoda. Mereka juga menyediakan meja dan tempat duduk jika kita ingin bersantap di tempat. Gak luas sih tapi sangat bikin kita betah. Kalau gak ingat banyak yang ngantri, rasanya asyik betul berlama-lama di toko kue ini.

Awalnya – saya kira – Hafiz Mustafa hanya ada di sisi terdepan Taksim Square. Tapi setelah menyusur Istkilal Avenue, ternyata mereka memiliki sekitar 2-3 outlet lagi dengan ukuran yang sama luasnya. Semua terlihat sama cantiknya dengan ciri khas tulisan gold dan dinding hitam. Kombinasi warna yang sungguh menarik perhatian.

Yang sempat saya sesalkan di sini adalah tidak menyediakan waktu untuk menikmati secangkir kopi Turki. Tapi mungkin perhitungan waktu yang terbatas jugalah yang membuat saya membatalkan niat ini. Maklum. Kalau sudah duduk-duduk sembari ngopi dan ngobrol, waktu satu jam terlewat pun tidak akan terasa.

Jika Hanya Punya Waktu Dua Jam di Taksim Square Istanbul Turki, Apa Saja yang Bisa Kamu Lakukan?

Toko Coklat Bolci (Beyoglu Cikolatasi)

Langkah saya terhenti dengan timbunan rasa penasaran saat melihat antrian panjang di depan toko ini. Saya kemudian mengintip lewat kaca depan. Ya ampun. Ternyata tempat ini surganya kudapan coklat.

Gak cuma coklat berwarna [beneran] coklat tapi juga dengan another shocking colors dan berbagai jenis bentukan. Ada yang kotak-kotak polos, ada yang seperti keripik, berbentuk seperti jamur, seperti kerikil, dan masih banyak lagi.

Harga diukur berdasarkan berat [gram]. Lagi-lagi ini surganya para sweet tooth. Menurut seorang teman yang penasaran untuk mencoba sih rasa coklatnya tidak berbeda dengan yang lainnya. Bahkan cenderung lebih manis dari biasanya. Yang bikin menarik itu adalah bentuk dan warnanya. Jadi kalau punya anak-anak, keponakan, saudara, yang doyan coklat, dan mudah tergoda dengan visual produk, pilihan di sini tuh lengkap banget. Dan harganya tentu lebih murah saat [terpaksa] beli di bandara.

Jika Hanya Punya Waktu Dua Jam di Taksim Square Istanbul Turki, Apa Saja yang Bisa Kamu Lakukan?

Mencoba Trem Merah

Jujurly lihat trem merah ini mondar-mandir membelah jalan Istiklal [Istiklal Avenue] saya tergemas ingin mencoba. Tapi sayangnya saya tidak menemukan titik naik/awalnya. Saat bertanya ke salah seorang pedagang makanan di sana, dia mengarahkan saya untuk berjalan ke ujung akhir Istiklal Avenue. Posisi yang berlawanan arah dengan arah kedatangan saya saat itu.

Alamak jauh kali lah.

Naiknya harus menggunakan Istanbulkart. Tiketnya sendiri seharga 15 Lira. Ini yang bikin repot. Karena selama menjelajah Turki, transportasi sudah diatur oleh pihak tour & travel sehingga kami tidak berkesempatan mencoba kendaraan umum.

Tapi jika punya tenaga ekstra dan tersedia waktu sekitar 15 menit, boleh banget dicoba. Hiburan lah pokoknya. Setidaknya bisa menyusur berkeliling tanpa harus capek jalan kaki.

Jika Hanya Punya Waktu Dua Jam di Taksim Square Istanbul Turki, Apa Saja yang Bisa Kamu Lakukan?

Berfoto di Cicek Pasaji

Cicek Pasaji atau yang dikenal dengan sebutan Flower Passage juga saya temukan dari serangkaian video yang dihadirkan di Youtube.

Yang membuat tempat ini begitu istimewa adalah serangkaian resto yang memanfaatkan sebuah jalur panjang dengan keindahan kubah di sebuah bangunan bersejarah. Eksis sejak 1876, tempat ini sejatinya adalah sebuah arcade yang dipadati oleh cafe, berbagai gerai minuman, dan restoran. Kalau melihat furniture yang digunakan, ingatan kita akan langsung terbawa pada suasana Eropa di beberapa negara yang dulu menguasai hampir sebagian besar benua.

Ada satu titik tengah yang tidak begitu jauh dari pintu masuk depan yang sangat estetik untuk berfoto. Kubah yang terang dan menjadi penyambung sinar matahari di salah satu titik terujung, membuat area ini tidak over lighting meski kita berada di dalam sebuah ruangan. Warna dan lekuk bangunannya pun begitu cantik untuk menjadi background foto. Kuncinya hanya pada menemukan sudut/angle saja.

Para pemilik gerai biasanya santai-santai saja melihat kita berfoto, meski berulangkali mereka menawarkan kita untuk mencoba makanan dan minuman mereka. Saya tersenyum ramah dan mencoba menolak dengan seramah mungkin. Tawaran mereka sesungguhnya menarik dan menggoda banget sih. Duduk santai sembari menikmati setiap sudut bangunan yang cantik menawan. Tapi kalau niat ini diwujudkan, bukan gak mungkin akan “menyolong” waktu 30 menit sendiri. Jadi saya putuskan untuk berdiri saja dan berfoto di tiga sisi arcade yang bentuknya memanjang.

Salah seorang pemilik gerai sempat memberitahu saya bahwa di lantai atas ada sebuah museum. Sebagai pecinta museum, saya sempat galau. Naik apa enggak ya? Tapi saat melirik jam di gawai, terpaksa museum ini saya lewatkan.

Yang perlu dicatat tentang Cicek Pasaji adalah bahwa tempat dengan arsitektur Eropa ini punya vibes yang bikin betah. Great vibes indeed. Jadi kalau punya waktu lebih dan atau tidak terburu-buru, menyediakan waktu berlama-lama di sini sangat saya sarankan. Menikmati valuable times dengan orang terkasih sembari menikmati a bit fine dining yang tadi sempat saya intip. Lumayan juga sih deretan harga yang tertera di menu.

Oia, area foto ini tempatnya menjorok ke dalam ya. Tidak langsung terlihat dari jalanan depan. Tapi ada tulisan Cicek Pasaji berupa ukiran di atas gerbang depan. Sebelum ketemu deretan resto di dalam ini, ada beberapa penjual suvenir dan penjual makanan kecil. Saya sempat berhenti dan membeli tempelan kulkas di sini. Berjuang memilih di antara puluhan orang yang menyemut.

Jika Hanya Punya Waktu Dua Jam di Taksim Square Istanbul Turki, Apa Saja yang Bisa Kamu Lakukan?
Jika Hanya Punya Waktu Dua Jam di Taksim Square Istanbul Turki, Apa Saja yang Bisa Kamu Lakukan?
Jika Hanya Punya Waktu Dua Jam di Taksim Square Istanbul Turki, Apa Saja yang Bisa Kamu Lakukan?

Tas Sandigi Beads and Jewelry Stores

Dasar rezeki. Kemana kaki melangkah, saya seringkali ketemu beads and jewelry stones. Sebelumnya sih rombongan kami sempat mampir di salah satu jewelry shop yang ada di Bolu. Besar banget tokonya. Stand alone dengan lahan parkir yang luas banget. Tawaran dan jenis perhiasannya semua bernilai design yang sangat indah. Premium class.

Tapi yang ditawarkan oleh toko perhiasan di Bolu itu semua dalam bentuk barang jadi. Sementara Tas Sandigi berbeda. Sebagian isi toko juga diisi dengan bahan mentah selain beberapa jewelry atau accessories sederhana. Raw materials yang disajikan berupa beads maupun cabochon dan beberapa batu mentah yang sudah diasah serta dipercantik untuk dijadikan hiasan dalam wadah tertentu.

Saya mengenal sebagian besar dari batu-batu ini karena menggunakannya untuk melahirkan handmade wire jewelry. Tanpa disadari waktu saya habis di tempat ini. Gimana enggak? Tas Sandigi menyusun setiap batu berbagai jenis, ukuran, dan warna. Rapi ditaruh dalam wadah/kotak terbuka lalu di bagian ujung dicantumkan nama/jenis batunya. Setiap batu dibuat dalam berbagai ukuran dan bentuk. Ada yang bulat, lonjong, atau pipih. Ada yang ukurannya besar, sedang, maupun kecil. Banyak juga yang dibuat tidak beraturan mengikuti sisi terbaik dari batu yang bersangkutan. Duh beneran menggoda dan menguras dompet ini sih.

Langkah saya kemudian tak berhenti saat melihat batu-batu cantik itu diwujudkan dalam bentuk perhiasan sederhana. Kalung, gelang, cincin, bandul, anting, dan masih banyak lagi. Kemudian – seperti yang saya tulis di atas – dalam bentuk hiasan atau dekorasi. Yang cukup menyita perhatian saya adalah hiasan pohon kecil menggunakan potongan-potongan batu [beads chips] yang terbentuk seperti pohon kecil dengan menggunakan materi kawat tembaga [copper wire]. Jenis kawat sama yang biasanya saya gunakan.

Melihat saya yang tampak serius dan menyusur setiap sudut toko, salah seorang petugas menyapa ramah. Cerita kami pun saling tersambung meski harus dalam birama lambat karena si mas nya [masih] susah berbahasa Inggris. Saya sempat menunjukkan perhiasan buatan saya lewat foto-foto yang ada di akun IG. Ekspresinya langsung cerah ceria. Nyerocos membahas bahwa di Turki, wire jewelry dengan copper wire, perhiasan yang saya buat, dapat tempat di hati para penggemar handmade jewelry. Bahkan dia sempat menginformasikan bahwa di Grand Bazaar [kompleks pertokoan besar di Istanbul] ada salah satu toko yang menjual perhiasan yang persis seperti yang saya buat.

Wooaahh. Sayangnya pas ke Grand Bazaar semalam saya tidak ketemu tokonya. Ya iyalah saat itu hanya ada waktu 30 menit buat bertamu. Yang ujung-ujungnya saya malah – lagi-lagi – terpaku sama suvenir dan tidak bisa melakukan ekplorasi lebih luas dan lebih lama.

Belanja di Tas Sandigi? So pasti lah. Banyak beberapa batu khas Turki yang tidak dijual di tanah air. Jadi saya beli beberapa untuk koleksi pribadi.

Jika Hanya Punya Waktu Dua Jam di Taksim Square Istanbul Turki, Apa Saja yang Bisa Kamu Lakukan?
Jika Hanya Punya Waktu Dua Jam di Taksim Square Istanbul Turki, Apa Saja yang Bisa Kamu Lakukan?
Jika Hanya Punya Waktu Dua Jam di Taksim Square Istanbul Turki, Apa Saja yang Bisa Kamu Lakukan?

Menutup Rangkaian Kunjungan dengan Shalat di Taksim Camii

Waktu masih tersisa lima belas menit, saat semua anggota rombongan berkumpul kembali di titik di mana kami datang. Segala cerita kemudian berderai-derai di antara kami semua. Termasuk saling menunjukkan apa yang sudah diboyong. Ternyata masing-masing menghabiskan waktu di tempat yang berbeda-beda meski sama-sama menyusur Jalan Istiklal. Tapi yang pasti hanya saya dan adik ipar yang menemukan Cicek Pasaji. Spot foto incredible yang jelita luar biasa. Menunjukkan rangkaian hasil jepretan di Cicek Pasaji, berhasil menimbulkan keributan dan kehebohan di antara teman-teman perempuan yang lebih fokus pada belanja. Nah kan.

Selepas obrolan sembari menunggu itu, semua kemudian sepakat dan serentak melangkah ke Taksim Camii [Masjid Taksim] untuk menjalankan shalat dzuhur berjamaah. Kami melangkah tergesa karena bersamaan dengan langkah tersebut banyak jamaah lain datang ke masjid dengan tujuan yang sama. Menjawab panggilan azan dan menjalankan kewajiban shalat empat rakaat bersama-sama.

Sembari berjalan mendekati masjid, saya sempat mengambil beberapa foto sebagai kenang-kenangan. Merekam bukti sudah [pernah] berada di masjid bergaya modern art-deco yang baru diresmikan di 2021 ini. Tapi meskipun relatif baru berdiri, Taksim Camii mendapatkan tempat begitu istimewa di hati penduduk Istanbul. Kemegahannya terlihat dari kejauhan dengan beberapa minaret yang sangat mencerminkan perpaduan arsitektur antara seni Eropa dan Asia. MashaAllah. Gak percaya rasanya bisa menyaksikan secara langsung kemegahan Taksim Camii di sebuah negara yang sarat akan sejarah.

Seperti pengalaman di tempat wisata lainnya, di Taksim Square saya bertemu dengan banyak anak bulu yang terlihat bersih, terurus, dan tumbuh sehat. Semua jinak dan mau dipegang serta diusap-usap. Kabarnya sih, kucing-kucing lucu ini memang jadi peliharaan bersama warga setempat. Ah, saat itu saya mendadak kangen dengan empat anabul yang tinggal di rumah.

Saya juga sempat mampir ke penjual ice cream khas Turki. Tapi saya lebih memilih menikmati segelas tinggi fresh orang juice untuk melegakan tenggorokan dan sepotong Simit untuk mengganjal lambung yang mulai bernyanyi riang.

Jika Hanya Punya Waktu Dua Jam di Taksim Square Istanbul Turki, Apa Saja yang Bisa Kamu Lakukan?

Wajib Kembali

Selain tempat-tempat yang saya temukan di atas, saya melangkah sekuat kaki bisa diajak berjalan. Luasnya Taksim Square, jika memang kita niatkan untuk benar-benar menyusur, dari ujung ke ujung, sepertinya butuh setidaknya setengah hari. Bahkan seharian penuh jika memang berniat benar-benar menikmati setiap jengkal kawasan tanpa terkecuali, sembari melowongkan diri beristirahat sebentar di beberapa cafe atau tempat nongkrong untuk melepas lelah. Bahkan makan siang berlama-lama, bercengkrama dengan mereka yang terukir di hati, ngobrolin apa aja dari sabang sampai merauke.

Rangkaian niat ini saya batinkan dan ucapkan berkali-kali di dalam hati. Berharap didengar dan dikabulkan oleh-Nya.

Selama hampir dua jam menyusur, Taksim Square, alun-alun besar yang ada di pusat kota Istanbul ini, sungguh menggesankan. Selain mengajak kita memperhatikan sederetan bangunan komersial dengan gaya Eropa, wisatawan bisa bertemu dengan banyak aktivitas perdagangan yang biasa ditemukan di sebuah sentral pariwisata.

Di deretan ruko etnik yang memanjang sepanjang Jalan Istiklal, kita juga bisa menemukan pusat budaya, cabang-cabang jalan yang juga luas, dan masjid kecil. Saya sempat melihat pusat budaya Perancis eksis di sini. Lalu ada hotel-hotel kecil yang menawarkan cafe di pelataran depan. Bahkan ada yang memiliki roof top seperti halnya saat saya menyusur Kota Lama nya Istanbul semalam sebelumnya. Di sisi depan alun-alun kota ini ada beberapa hotel dari jenama internasional seperti Sofitel.

Saya sempat beberapa kali berdiri di beberapa titik untuk memetakan ingatan. Mencoba merekam semuanya lewat netra meski tadi – selama melangkah – saya memotret dan membuat video. Bahkan ketika saya kembali ke titik awal dan membuang pandangan sejauh mungkin di Jalan Istiklal, saya tak menemukan ujung dari alun-alun megah ini.

Taksim Square nyatanya memang semegah dan sebesar itu. Kabarnya juga destinasi wisata ini buka 24 jam. Wah pasti cantik juga kalau ada di sini pas sekian banyak lampu menyala ya. Menginap di seputaran sini pasti jadi keputusan yang tepat. Kita bisa menyusur sepuas mungkin kapan pun kita mau.

Saya kembali membatin. Jika ada kesempatan kembali lagi ke sini dan mengatur jadwal berkelana tanpa rombongan tour, saya pasti akan menginap di kawasan Taksim Square setidaknya 3 hari 2 malam.

Wajib kembali lah judulnya. Dua jam yang sudah berlalu rasanya hanya seujung kuku dari semua keindahan yang disajikan oleh Taksim Square. Pergi bersama seorang teman yang memiliki minat yang sama dengan mode slow traveling. Menikmati setiap detik, menit, dan jam dengan kegiatan kunjungan yang santai. Berhenti saat lelah atau saat menemukan tempat yang pantas untuk dinikmati pelan-pelan tanpa diburu oleh waktu atau apa pun.

Satu yang begitu terlewat dari sembilan hari pergi bersama tour ini adalah tentang kuliner. Saya tak memiliki waktu yang cukup untuk membahas kuliner Turki karena agenda perjalanan yang sangat ketat. Menu yang dihidangkan untuk rombongan juga relatif sama. Jadi tidak ada sajian berbeda yang photogenic serta unik untuk ditampilkan dan dibagikan ke hadapan publik.

Semoga Dia mengizinkan saya kembali.

Jika Hanya Punya Waktu Dua Jam di Taksim Square Istanbul Turki, Apa Saja yang Bisa Kamu Lakukan?
Jika Hanya Punya Waktu Dua Jam di Taksim Square Istanbul Turki, Apa Saja yang Bisa Kamu Lakukan?

Jika Hanya Punya Waktu Dua Jam di Taksim Square Istanbul Turki, Apa Saja yang Bisa Kamu Lakukan?

Jika Hanya Punya Waktu Dua Jam di Taksim Square Istanbul Turki, Apa Saja yang Bisa Kamu Lakukan?

IG @annie_nugraha | Email: annie.nugraha@gmail.com

33 thoughts on “Jika Hanya Punya Waktu Dua Jam di Taksim Square Istanbul Turki, Apa Saja yang Bisa Kamu Lakukan?”

  1. seru banget Masha Allah menutup perjalanan panjang di Turki dengan mampir ke Taksim Square yang ikonik itu. Kalau cuma punya waktu dua jam, aku kira-kira bakalan sempatin juga mampir beli es krim Turki atau sekadar foto di depan monumen Cumhuriyet.

    Reply
    • Beneran lewat monumen itu. Gak jauh sebenarnya dari masjid. Tapi waktu beneran gak cukup. Kudu balik memang ya Des.

  2. Bisa menyempatkan solat di Taksim Camii, jadi pengalaman yang mengesankan

    Nah, salah satu yang membuat daku kepincut adalah trem merah itu. Soalnya, pernah dengar di Jakarta sempat ada trem, cuma kan saat itu eranya daku belum lahir heheh, sehingga ndak bisa merasakannya.
    Berarti kalau daku ke sana, bisa nih menjajal naik trem 😍

    Reply
    • Bener Fen. Selama di Turki alhamdulillah bisa shalat di beberapa masjid bersejarah. Terharu bisa melihat keindahan arsitektur zaman Eropa yang gagah dan megah. Rasanya gak percaya bisa diundang ke negeri indah di Asia Tengah ini. MashaAllah. Semoga bisa diundang kembali dengan waktu yang lebih panjang dan bisa pergi sendiri. Jadi acara jalan-jalannya gak terburu-buru. Pengen banget nyobain transportasi umumnya termasuk trem merah itu.

  3. Waktu cuma 2 jam di tempat seluas Taksim Square Istanbul Turki. Pasti rasanya kayak diburu-buru gitu ya. Semacam kurang menikmati. Kayak kurang puas juga berkunjungnya kalau emang mau didatengin semuanya. Hehehe

    Reply
    • Hahahaha iya Mbak. Saya paling cuma berhasil menyusur 1/3 nya. Gak sempat nongkrong lama di cafe sembari menikmati kopi khas Turki. Ah seandainya lebih lowong, pasti enak tuh nyantai2 duduk sambil ngobrol.

  4. Saya juga sering mengalami saat merantau, itu justru ketemu orang lain malah jadi seperti saudara, saling memperhatikan, menjaga dan peduli satu sama lain.

    Hemm… membayangkan ikut nongkrong nih di Resto & Cafe Mustafa atau Hafiz Mustafa.
    Apalagi kalau banyak para travel blogger ternama mereferensikan cafe ini untuk bersantai sembari menjajal kopi khas Turki. Pastinya cafe ini beneran terkenal karena berbagai kelebihannya ya

    Reply
    • Betul banget Teh Okti. Buat saya yang dulunya sering dinas ke LN, terasa banget kalau bertemu orang setanah air yang mau diajak berteman. Setidaknya ngobrol tentang tanah air dalam bahasa ibu.

      Seandainya waktu lowong memang enak berlama-lama ngobrol di cafe sembari ngopi dan makan-makan. Kalau waktunya mepet memang susah. Sementara Taksim Square itu luas betul. Sayang kalau gak dijelajahi.

    • Seringnya memang begitu, Teh. Apalagi ketemu sama orang yang sedaerah. Meski saat di kampung halaman, kitanya nggak kenal, pun nggak tahu di mana rumahnya. Udah kayak sodara aja.

      Apalagi kalau teman dalam perjalanan begini. Serasa, ikut merasakan kalau ada salah satu teman yang merasa nggak nyaman apalagi nggak enak badan.

  5. Wah keren Mbak Annie, kena HNP tapi selalu bersemangat

    karena bagaimanapun seorang traveler harus jalan kaki dan punya kesehatan prima

    Jika saya cuma punya waktu 2 jam di Turki? Yang pertama saya lakukan adalah berburu kebab untuk membandingkan dengan kebab yang dijual di Indonesia yang katanya: Itu mah bukan kebab. :D

    Reply
    • Hahahaha karena rasa penasaran jadinya tambah semangat Mbak. Untung jalur jalannya lurus aja jadi gak berat. Itu pun saya jalan pelan-pelan dan tak memaksakan diri. Berhenti di beberapa tempat yang menarik hati, memotret, habis itu jalan santai aja.

      Pengennya sih banyak mampir mencoba kuliner setempat. Termasuk kebab yang sempat saya coba di awal. Tapi kalau duduk sambil makan, bisa habis waktu di sana aja. Memanglah harus kembali lagi ini sih hahahaha

  6. Karena baru pertama ke Taksim Square dan waktu yang diberikan hanya 2 jam, jadi pastinya terasa kurang ya mbak untuk mengeksplorasi semua, termasuk untuk menikmati secangkir kopi Turki.

    Tapi paling tidak sudah menandai, kalau suatu saat bisa kesana lagi, bagian mana saja yang akan dieksplorasi lebih lama

    Reply
    • Beneran kurang Mbak Nanik. Semua sisi menarik banget buat ditelusuri. Apalagi saya orangnya bukan tipe yang buru-buru. Pingin jalan santai. Semoga ada rezeki bisa kembali. Sambil nginep di seputaran sini tuh keknya mantab betul.

    • Nah, iya…kalau sudah baca artikel ini, orang yang mau ke Taksim Square jadi bisa nyiapin diri mau ngapain aja dan di bagian mana sebaiknya eksplor lebih lama, di pusat modern Istanbul yang wajib dikunjungi ini, terutama untuk merasakan nuansa urban dan sejarah secara bersamaan

  7. Kebayang cuma 2 jam waktu untuk berburu kenangan di Taksim Square… pasti kuraaang!
    Setuju, kalau mba Annie ke sana lagi, mesti menginap 2-3 hari di sekitar area biar puas bisa menjajal transportasi umum, hunting inspirasi buat kreasi jewelry mba Annie dan kulineran pastinya

    Reply
    • Iya Mbak. Apalagi aku jalannya pelan dan memperhatikan satu demi satu in to details. Untuk Taksim Square seluas itu pasti kurang aja waktunya. Emang beneran harus balik lagi dan datang dari sisi yang berbeda supaya bisa menyusur tempat yang belum sempat dilewati sebelumnya.

  8. Selama dua jam saja udah bisa menghasilkan foto yang bagus begitu. Emang beda pengalaman dan jam kerjanya ya. Dan yang pasti persiapan juga udah maksimal pastinya. Satset jadi tidak banyak buang waktu

    Semoga saya diberikan kesempatan menginjakkan kaki di Taksim Square itu. Akan saya jadikan referensi ini pengalamannya. Hehehe

    Pengen mencoba juga merasakan enaknya Roti Simit itu. Hehe…

    Reply
    • Makasih untuk compliment nya teh Okti. Semoga dengan menyertakan foto-foto yang apik cerita tentang sebuah perjalanan menjadi semakin segar untuk dinikmati pembaca.

      Aamiin Yaa Rabbalalaamiin. Semoga suatu saat teh Okti bisa menginjakkan kaki di sini. Negara yang betul-betul menarik buat disapa. Saya juga kepengen teh balik lagi. Khususnya ke Istanbul yang hanya sekitar 6 jam saya nikmati waktu itu.

  9. jadi inget drama Korea Memories of the Alhambra, sesudah saya cek lokasinya ternyata di Spanyol, jauh banget dari Turki … D

    Penasaran dengan coklatnya, Mbak. Saya penggemar berat coklat, walau sekarang udah berusaha saya kurangi. Dulu sih “gak bisa hidup” tanpa ngunyah coklat.

    Saya juga penasaran dengan roti simit, apakah rasanya mirip kebab Turki (yang katanya salah ngasih nama D )

    Reply
    • Coklat memang penggemarnya berlimpah di sisi negara mana pun. Di kawasan ini juga banyak banget toko coklat. Lucu-lucu pulak bentuknya. Rasanya pengen diborong semua.

  10. Berarti Baklava aslinya memang beneran manis kebangetan., ya. Beberapa waktu lalu, saya pernah beli baklava. Iseng aja, penasaran ma harganya. Tapi, cuma sanggup makan sedikit karena terlalu manis. Saya kirain disesuaikan dengan selera Indonesia atau memang penjualnya seneng yang rasa manis banget. Ternyata aslinya juga gitu, ya

    Reply
    • Memang semanis itu. Makan secuil aja langsung melejit deh. Tapi memang rata-rata makanan/jajanan di Turki tuh kalau gak manis ya asin. Mau cari pedes tuh sulit betul. Belom pernah nemu selama di sana. Keknya memang kudu balik lagi dan atur waktu untuk bersengaja explore kuliner di sana.

  11. Dua jam eksplor yang mengesankan, karena banyak hal yang dilakukan, selain solat tentunya.
    Wah makanan yang manisnya membuat ngilu Bu Annie ternyata, tapi justru ini bikin saya penasaran karena saya yang manis ingin mencoba yang manis hehe.
    Apalagi itu berlimpah aneka coklat pula. Rasa-rasanya kalau ingin beli pengen semua, hadeeeh 😃

    Reply
  12. Seru banget Mbak Annie. Berasa critical 2 hours. Hahaha. Kebayang gimana degdegan Mbak Annie pas tahu waktunya terbatas bangte, tapi Mbak Annie cukup keras kepala yaaaa, tetap riset dulu, nentuin mapping spot sebelum turun bus. Hahahaha. Luar biasaaa.

    Cicek Pasaji estetik banget. Pas baca bagian Tas Sandigi, aku langsung tahu ini bakal jadi highlight karena nyambung sama dunia wire jewelry Mbak Annie. Pantas kl wajib balik lagi ke sini. Kelihatan banget Mbak Annie bisa enjoy dan sebetulnya bisa slow traveling di sini next time.

    Reply
  13. Di tempat seluas itu hanya selama dua jam?

    Jadi penasaran seluas apa..
    Aku pikir kek sebuah bangunan gitu rupanya malah kek kota kecil ya, Bu? Pantesan dibilang luas.

    Ngga salah aku memimpikan negara Turki jadi salah satu whislist, karena emang secantik dan semagnet itu. Sejak indonesia diinvansi sama drama Turki bbrp tahun lalu aku jadi suka sama negara ini.

    Smoga suatu saat bisa kesana, aamiin…

    Reply
  14. Dua jam yang cukup memuaskan hati dan mata ini sih, pilihan tempatnya bagus-bagus, bisa mencoba trem, menikmati aneka bentuk dan warna coklat, serta membeli batu perhiasan yang gak ada di Indonesia (hidden gems ini sih pas banget sama hobi), benar-benar gak menyesal ya mba, bahkan bisa foto di Cicek (namanya unik yang mengingatkan hewan di dinding, hehe) padahal yang lain asik belanja. Wajar mba Annie ingin kembali ke sana, saya pun jadi kepengen 😊

    Reply
  15. Sayang waktunya mepet ya yuk. Masih banyak yang bisa dieksplorasi. Semoga kelak ada kesempatan lagi mengunjungi Grand Bazar jadi bisa menjajaki kesempatan mencari toko yang dimaksud lalu menjajaki peluang mengeskpor perhiasan handmade kalau memang ada target pasar yang menjanjikan.

    Reply
  16. Wuahh mau juga ih…kapan yaa bisa jalan-jalan ke Turki, dua jam aja gak papa deh. Lumayan untuk dipakai berkeliling dan eksplor apa saja di Taksim Square Istanbul seperti yang direkomendasikan sama Mbak Anie di postingan blog ini. Semoga yaa ada rejekinya…

    Reply
  17. Senangnya bisa travelling ke Turki ya Bu Annie berasam rombongan dan menariknya bersama teman yang sefrekuensi juga suka jalan-jalan santai menyusuri kota. Dua jam menurut saya cukup lama untuk bisa mengeksplore Taksim Square Istanbul kalau dari yang saya baca di artikel Bu Annie ini

    Reply
  18. Dua jam kalau untuk jalan-jalan di tempat seperti Taksim Square itu cepet banget, gak terasa. Hebatnya mbak Annie bisa mengabadikan beberapa sudut dan menceritakan dengan runut. Membuat saya yang dua jam cuma sekrol-srkrol berasavikut jalan-jalan ke sana

    Reply
  19. Turki negara yg jadi impian saya juga untuk hadir kesana. Btw, yuk Annie juga jadi banyak referensi ya tentang mode jewelry di Turki, secara Yuk Annie juga kan bergelut dengan bisnis yang sama.

    Betul2 pengalaman berharga, dengan waktu sebentar tapi bener2 produktif. Keren.

    Reply
  20. Setiap traveling itu serunya salah satunya makin banyak teman ya Mba Anie. Dalam dua jam bisa mengunjungi banyak tempat itu seru banget kebayang buru-burunya, saya yang tim santai kalau berlibur kayaknya bakal ngos-ngosan mba Anie, eh tapi kalau udah mau flight bisa juga sih kayaknya, seru juga pastinya, dan alhamdulillahnya Mba Anie udah pulih ya badannya, beberapa sudut Turki memang sangat menarik untuk dikunjungi, mungin karena bagian sejarah juga jadi banyak yang unik bangunannya, btw saya tadi hampir gagal fokus dengan Jalan Istiklalnya, langsung keinget Masjid Istiqlal Jakarta.

    Reply

Leave a Comment