Keagungan Manah. Sebuah Kisah Tentang Cinta di Usia Senja

Keagungan Manah. Sebuah Kisah Tentang Cinta di Usia Senja

Novel tentang sebuah kisah cinta di usia senja yang sangat menyentuh ini sudah saya miliki saat de Laras mengadakan sebuah acara talkshow dan bedah buku untuk mengenalkan, mempresentasikan “Keagungan Manah, Menepis Denting Nurani” (Keagungan Manah) di function room Museum Nasional (Museum Gajah) pada awal Desember 2021. 

Acara tersebut sudah saya nantikan berhari-hari karena de Laras adalah salah seorang penulis favorit saya.  Tulisannya bersahaja dengan kalimat-kalimat yang ringan tapi menyentuh dan mudah dipahami.  De Laras juga mampu mengolah diksi hingga perasaan kita bisa terhanyut sendu di setiap rangkaian diksi ilustratif yang dia rangkai.

Perkenalan pertama saya dengan de Laras dimulai saat saya bergabung dengan komunitas Ibu Ibu Doyan Nulis (IIDN).  Saat itu saya membeli salah satu buku antologi IIDN yang berjudul “PULIH, Kisah Perjalanan Bangkit Dari Masalah Kesehatan Mental.” De Laras menjadi salah seorang kontributor di buku ini dengan artikel yang sangat mengharu biru.

Perkenalan kami pun kemudian berlanjut hanya sebatas dunia maya dan sama sekali belum pernah bertemu muka. Jadi saat de Laras mengumumkan bakal mengadakan event di atas, saya langsung melakukan reservasi. Terselip sebuah keinginan untuk bersapa langsung dan menikmati sebuah acara yang tentunya bermanfaat bagi seorang penulis pemula seperti saya.

Baca juga : PULIH. Kisah Perjalanan Menyembuhkan Luka Hati Untuk Menjadi Lebih Baik

Keagungan Manah. Sebuah Kisah Tentang Cinta di Usia Senja
catatan dari kurnia effendi. seorang penulis senior yang sudah malang melintang di dunia literasi

Menggali Sebuah Kisah Cinta di Usia Senja

Memahami Hubungan Cinta di Usia Senja Antara 2 Tokoh Utama, Btari dan Bayu.

Saya membaca Keagungan Manah dalam beberapa tahapan waktu.

Saya memutuskan untuk melakukan hal ini karena banyak sekali insight yang ingin saya selami. Khususnya dalam memaklumi sebuah hubungan, sehingga harus membaca ulang di beberapa bagian tulisan. Diksi yang terurai dengan sangat dalam tentang perasaan, harus kembali saya cerna untuk makin mendekatkan hati serta menyelami apa yang dirasakan oleh 2 tokoh utama yaitu Btari dan Bayu. Penokohan yang tentunya butuh waktu untuk digali, dilamati, dipoles, hingga karakternya begitu kuat ditampilkan untuk Keagungan Manah.

Lewat proses inilah, saya mulai bisa paham siapa sesungguhnya Btari dan Bayu. Sepasang perempuan dan lelaki yang sudah berusia lanjut dan memautkan hati dengan status tetap sebagai teman dekat. Berbeda dengan Btari yang memanggil Bayu dengan sebutan “Mas” karena Bayu memang lelaki Jawa, Bayu justru memanggil Btari dengan kata formal yaitu “Bu”. Terdengar janggal ya. Tapi mungkin begitulah cara Bayu untuk tetap menghormati Btari sebagai seorang perempuan dewasa. Satu level ungkapan kasih sayang yang dilakukan oleh mereka yang sudah berusia matang.

Ada sebuah hubungan cinta dewasa yang hadir di Keagungan Manah.

Cinta yang tumbuh natural antara Bayu dan Btari ini mengalir setelah beberapa waktu suami Btari, Arthur, meninggal dunia. Kedatangan Bayu ke rumah Btari dalam rangka melayat menjadi pemicu ketertarikan lelaki tersebut akan sosok Btari. Saat dimana dia melihat bagaimana kuatnya Btari, dan bagaimana tenangnya dia dalam menghadapi keadaan yang sedang dia hadapi. Perasaan yang terus bertumbuh hingga akhirnya hati masing-masing terpaut dan bersepakat untuk saling mengisi, saling berbagi dan menghabiskan banyak waktu bersama dengan luapan cinta, sentuhan-sentuhan kecil, dan tentu saja dialog-dialog sarat kasih sayang.

Mereka pun jatuh cinta diantara serbuan kasih sayang dari anak-anak Btari, Ndalu, Widya dan Dimas serta anak-anak Bayu, Rama dan Sinta plus cucu-cucu yang lucu dan selalu menjadi penghibur lara, Btari dan Bayu bersengaja menceritakan hubungan dekat mereka dalam sebuah pertemuan sederhana.

Tapi apakah cinta Btari dan Bayu yang sudah janda dan duda serta berusia lanjut tersebut berjalan dengan mulus?

Nyatanya tidaklah semudah itu. Ada beberapa halangan dan tembok yang tidak memungkinkan mereka bersatu meskipun Bayu sudah berulangkali mengungkapkan ketulusannya melamar Btari.

Pertama adalah soal perbedaan keyakinan. Kedua adalah tentang adat istiadat dari keluarga almarhum suami Btari yang bersuku Batak. Aturan tersebut berbunyi “Holan Tuhan do hubaen dongan hu” yang berarti hanya Tuhan kujadikan temanku. Jadi saat seorang perempuan Batak (dan yang sudah diangkat sebagai anggota keluarga Batak dengan upacara khusus) ditinggal mati oleh suaminya, maka dia akan menjalani kehidupan selanjutnya dengan berserah diri hanya kepada Tuhan Yang Maha Kuasa. Alias tidak menikah lagi.

Sebagian besar anak-anak Btari dan Bayu, kecuali Widya, sesungguhnya tidak menentang hubungan kedua orang tuanya. Lewat pertemuan yang sengaja diatur Btari dan Bayu, terlihat bahwa semua anak-anak sangat senang melihat bahwa orang tua mereka menemukan kebahagiaan lain setelah sendiri. Apalagi melihat Btari dan Bayu saling memberikan pengaruh positif satu sama lain. Saling bergantung dan menguatkan. Meskipun hubungan dan komunikasi kakek dan nenek ini dengan anak-anak tetap berjalan sempurna, kehadiran kasih sayang dalam makna yang berbeda tentunya membuat hidup lebih berwarna.

Kenapa Widya menentang hubungan Btari dan Bayu? Bukankah dia juga menginginkan ibunya tetap bahagia di usia senjanya?

Sederhana sebenarnya. Widya mengingat aturan adat tersebut. Dia tak ingin agar Btari yang disayangi dan Bayu yang dia hormati, mendapatkan cibiran dari keluarga almarhum Ayahnya, Arthur. Dia juga tak ingin posisi almarhum Ayahnya tergantikan. Pun sesungguhnya secara hukum normatif di Indonesia bahwa lelaki dan perempuan yang berbeda keyakinan tidak dapat dinikahkan kecuali jika salah seorang diantaranya mengalah dan pindah ke keyakinan pasangannya.

Larangan itu pun sempat disampaikan oleh salah seorang saudara dari pihak Arthur, yang secara sengaja datang ke rumah Btari dan mengingatkan Btari akan aturan adat tersebut. Tanggapan Btari sesungguhnya cukup dewasa. Hanya saja tentu hal ini membuatnya terpukul. Apalagi Widya secara langsung mengutarakan keberatannya pada Bayu.

Baca juga : TABIR. Menyingkap Rahasia Mera

Keagungan Manah. Sebuah Kisah Tentang Cinta di Usia Senja
Keagungan Manah. Sebuah Kisah Tentang Cinta di Usia Senja

Mereka yang Berada di Sekeliling Btari dan Bayu

Btari dan Bayu beruntung. Mereka mempunyai anak-anak yang mapan dan berlimpah dengan kedamaian hidup. Hidup mereka tidak kekurangan. Dilengkapi dengan keturunan tak seorangpun dari mereka yang secara finansial memberatkan orangtuanya.

Penokohan anak-anak ini tampak mengalir berlembar-lembar. Mereka juga dihadirkan sebagai “aku” dengan point of view pribadi masing-masing. Pendapat mereka tentang masa kecil, masa sekarang, juga tentang hubungan Btari dan Bayu. Dengan bercerita dengan cara begini, membuat kita, para pembaca, semakin memahami karakter mereka yang berada di sekeliling Btari dan Bayu.

Anak-anak Btari misalnya. Ada garis merah yang menghubungkan antara Ndalu, Widya dan Dimas. Mereka menyatakan hal yang sama yaitu bagaimana Ibu mereka harus bertahan, mengalah, dan memahami karakter sang Ayah yang keras dan tegas, khas lelaki Batak. Bagaimana sesungguh mereka ingin agar Ibu mereka meninggalkan sang Ayah dan hidup terpisah dengan meninggalkan semua tekanan hidup. Tapi Btari, seorang wanita Jawa yang patuh dan menjunjung tinggi kesucian sebuah lembaga pernikahan, nyatanya tetap menjaga keutuhan rumah tangganya diantara ribuan titik air mata. Hingga akhirnya pernikahan tersebut terputuskan oleh kematian.

Anak-anak Bayu tidak memunculkan konflik sama sekali. Baik Dimas maupun Sinta sangat mendukung apapun keputusan Ayah mereka. 12 tahun sudah terpisah raga dengan almarhumah ibunya, mereka menyadari bahwa Btari telah berhasil menghangatkan kembali cinta yang telah terkubur lama di hati Bayu.

Baca juga : Kisah-kisah Pandemi. Buku Antologi Inspiratif yang Bertabur Makna

Keagungan Manah. Sebuah Kisah Tentang Cinta di Usia Senja
Keagungan Manah. Sebuah Kisah Tentang Cinta di Usia Senja

Terhanyut Hati Saat Membaca Keagungan Manah

Saya sempat beberapa kali harus mengusap air mata saat sampai di beberapa paragraf atau bagian cerita yang menyentuh hati.

Saat dimana Bayu terombang-ambing perasaan dan pikiran setelah kedatangan Widya ke kantornya. Gesture tubuh dan tatapan Widya yang sangat mencerminkan ketegasan hati seorang perempuan berdarah Batak, diungkapkan dengan rinci oleh de Laras. Saya langsung tertegun saat anak ke-2 Btari ini menyampaikan keberatannya atas hubungan antara Ibunya dan Bayu. Efeknya adalah Bayu berusaha menenangkan hati dengan menjaga jarak sementara. Sikap yang justru sangat ditentang oleh Sinta.

“Ayah mencintai Tante Btari, kan?” tanya Sinta, tanpa melihat wajahku, tangannya masih dalam genggamanku. “Ya Sinta. Sangat,” jawabku.

Ayah mesti berjuang untuk itu. Ayah nggak boleh menyerah,” sahut Sinta tanpa kuduga. “Ayah nggak mau berdebat. Ayah nggak mau ada konflik Sin. Selama ini semua sudah berjalan dengan baik-baik saja,” jawabku.

“Kalau Ayah menyerah, bagaimana dengan Tante Btari Yah. Tante Btari layak Ayah perjuangkan,” Sinta malah terisak. Aku mendekap dan memeluknya. Sinta semakin keras menangis dalam pelukku. Ia menyenderkan kepalanya ke lenganku.

Entah mengapa sebuah detak keras menghantam hati saya. Berlembar-lembar tissue pun harus saya ambil untuk menghapus air mata yang sempat bercucuran tanpa bisa dikendalikan. Ada sebuah kedewasaan seorang lelaki sepuh tersirat disana. Ada juga kebijakan bahwa dia tak ingin ada satu hal pun yang membuat kisah cintanya berselimut perkara. Apalagi ini menyangkut semua orang dan hal yang berada di dekatnya.

Mendengar Sinta menyebut nama Btari membuat aku menjadi teringat tujuan kedatanganku ke rumah Sinta. Ada sedikit rasa sesak terselip di dada. Setelah hampir dua tahun mengenal Btari, baru kali ini bunga cintaku dipatahkan. Justru dari ide pertemuan yang aku usulkan. Akan tetapi apapun itu, aku ingin semua berawal dengan baik, dengan bersikap terbuka pada anak-anak. Anak-anakku dan menantuku tahu kalau aku sedang dekat dengan seseorang. Aku tidak ingin mereka mengetahui hubunganku dengan Btari dari orang lain. Atau malah memergoki berada di suatu tempat dengan Btari. Aku ingin semua tahu dan paham sehingga apapun yang mungkin dibicarkan orang lain tentang kami, mereka sebagai orang terdekat sudah tahu dari kami berdua secara langsung.” (Bayu, Keagungan Manah, hal. 195-196)

Air mata saya mengalir kembali. Memahami kedewasaan Bayu justru mengajak saya mengharu biru. Lelaki bersuku Jawa dan dilukiskan sebagai lelaki idaman, lembut dan menyanjung perempuan ini, sudah berhasil menguasai emosi saya untuk berpihak kepadanya. Dan sedu sedan itu kemudian bersambung ke halaman 387 dimana Btari menceritakan sebuah tulisan Bayu di dalam buku catatan harian yang kemudian diberi judul “Secangkir Teh”

“Pagi adalah hari baru, hari penuh harapan, hari perjumpaanku. Walau kekasihku terbaring lemah di tempat tidur, tapi ku bersyukur ia masih memberiku senyum termanisnya. Ku duduk disebelah jendela besar kamar rumah sakit. Kuseduh teh celup kesukaannya dan ia akan tersenyum bahagia melihat kehadiranku pagi itu. Ku harap aku selalu menjadi yang pertama membuatnya terjaga, besyukur akan kebersamaan kami, menikmati cerita canda tawa dengan setiap hal yang kami lalui bersama. Diiringi rasa sakit tubuhnya karena hanya itu yang bisa aku lakukan untuknya.” (Bayu, Keagungan Manah, hal. 387)

Tak kuat menahan pilu, novel ini saya tutup. Saya mengatur napas sembari membawa mata terpejam dan membiarkan butir airmata mengalir pelan di kedua sudut mata. Membayangkan bagaimana disana ada sebuah hati yang sedang begitu mencintai, tapi hanya bisa melakukan hal kecil sebagai pembuktian rasa cintanya. Pembuktian bagaimana sesungguhnya hal-hal kecil inilah menjadi satu tanda berarti tentang cinta yang begitu dalam.

Selain beberapa bagian yang menyentuh hati saya seperti di atas, saya acungkan jempol kepada de Laras karena berhasil menghadirkan karakter, sikap dan pemikiran dari setiap tokoh dengan sangat rinci. Saking rincinya kita seperti sedang membaca sebuah biografi hidup seseorang sebagai pribadi dan sebagai bagian dari keutuhan cerita.

Cerita rinci lainnya bisa kita temukan saat de Laras merangkai kalimat yang menceritakan tentang kopi. Sebagai seorang penikmati kopi, hal ini tentunya menjadi surga tulis menulis. Jari-jari kitapun akan lincah menyusun kata, melukiskan apa yang kita sangat sukai itu. Begitulah yang saya temukan saat bertemu banyak paragraf yang ditulis de Laras tentang kopi.

Tidak hanya kopi. Riset secara konsistenpun dilakukan de Laras agar mampu mengurai berbagai fakta tentang penyakit dan proses penyembuhan Btari dari sakitnya. Beberapa istilah kedokteran, penyakit dan jenis pelayanan medis pun dengan lincah ditulis de Laras. Membaca bagian ini saya seperti mendapatkan pengetahuan tambahan tentang penyakit yang bukan cuma fisik tapi juga psikis. Serta bagaimana proses pengobatan seseorang sangat berpengaruh pada keberadaan dan vibes positif yang muncul dan ditunjukkan oleh orang-orang yang mencintai kita.

Baca juga : HOBI yang Membuatku Bahagia. Ulasan Tentang Sebuah Buku yang Menginspirasi

Keagungan Manah. Sebuah Kisah Tentang Cinta di Usia Senja
cerita dimas tentang sebuah meja makan di dalam rumah orangtuanya
Keagungan Manah. Sebuah Kisah Tentang Cinta di Usia Senja
catatan menyentuh hati yang dituliskan oleh bayu

Saya, Adjeng dan Buku Keagungan Manah

Seperti yang telah saya tulis di awal-awal artikel, saya menyempurnakan niat untuk bertemu de Laras di sebuah acara bincang-bincang dan bedah buku Keagungan Manah.

Diadjeng Laraswati Hanindyani yang kemudian saya panggil Adjeng dengan nama pena de Laras ini, memenuhi gambaran imajinasi saya. Seorang perempuan yang anteng, berambut panjang, putih, mungil, dengan visual yang tak pencilak’an. Gambaran personal yang sungguh jauh berbeda dari saya pribadi. Bener-bener bumi dan langit. Pun kiasan tersebut semakin lengkap saat saya mendengarkan Adjeng berbicara di depan audience. Dengan suara lembutnya Adjeng menyambut para tamu, mengucapkan terimakasih dan memberikan sekilas gambaran tentang acara hari itu.

Pembawaannya juga tenang saat beberapa nara sumber dan atau pendamping ikut hadir di atas podium sebagai pembicara dan pengulas buku Keagungan Manah. Saya lamat mendengarkan, mengikuti pemaparan hingga mengevaluasi di dalam berbagai catatan. Setidaknya dengan hadir di acara ini, saya memiliki bayangan awal jika suatu saat saya ingin mengadakan acara yang sama.

Adjeng yang mengidentifikasikan dirinya sebagai seorang penulis, blogger untuk www.laraswati.com, doodler dan shibori artisan ini sudah menerbitkan 94 buku antologi dan 9 buku solo. Buku-buku solo ini terdiri dari buku cerita anak, buku komik anak, buku kumpulan puisi dan buku catatan perjalanan. Prestasinya di dalam dunia literasi juga lumayan banyak dan membanggakan. Salah satunya adalah saat artikel perjalanannya terpilih sebagai The Best 100 Artikel Perjalanan versi Adira Faces of Indonesia pada 2012.

Jadi bisa dipastikan bahwa Adjeng bukanlah seorang penulis yang “bukan kemarin sore” dan pantas digolongkan sebagai panutannya para penulis anak bawang seperti orang ini (sembari menunjuk dada sendiri).

Keagungan Manah. Sebuah Kisah Tentang Cinta di Usia Senja
saya, adjeng, buku keagungan manah dan fibi jewelry

Dan eehh kok ada foto saya lagi orasi di depan panggung? Sempat dapat lirikan penuh makna pulak dari Adjeng. Yang pasti bukan sedang kampanye atas nama salah satu parpol, tapi saya sedang berbicara atas nama FIBI Jewelry. Jenama perhiasan kawat (wire jewelry) handmade saya yang turut menjadi pendukung suksesnya acara bedah buku Keagungan Manah.

Kenapa FIBI Jewelry menurut saya pantas hadir? Dibalik alasan sosialisasi dan extending brand image, produk FIBI Jewelry sangat mendukung semua kegiatan yang menampilkan kemandirian, prestasi dan keberadaan perempuan-perempuan imajinatif. Adjeng dan Keagungan Manah memenuhi kriteria itu. Tak perlu 2 kali untuk berpikir, saya langsung mengiyakan tawaran Adjeng saat ingin mengajak saya berpartisipasi dalam event talkshow ini. Pun memposisikan diri saya sendiri sebagai salah seorang blogger and Indonesian author yang mendukung penuh kegiatan bernilai dari rekan seprofesi.

Gimana dengan novelnya? Saya tak punya keraguan untuk turut mempromosikan novel romantis dan kisah cinta di usia senja ini. Meski tebal sebanyak 458 halaman, novel ini tidak membosankan. Jangan kalah dengan kesabaran membalik setiap lembaran halaman yang sangat rinci dan bertaburan dengan banyak insight, terutama sudut pandang humanis kita tentang cinta di usia senja, cinta sepasang manusia yang terhalang oleh beberapa alasan.

Bagaimana nasib kisah cinta Btari dan Bayu? Temukan ending yang mengharu biru. Siapkan sekotak tissue dan bacanya jauh dari anak-anak. Golongan umur yang tentunya belum paham kenapa kita menangis hanya karena membaca buku.

Baca juga : Membumikan Diri Lewat SEMELEH. The Journey of Self Love, Gratitude and Acceptance

Keagungan Manah. Sebuah Kisah Tentang Cinta di Usia Senja
blurb buku keagungan manah | novel ini bercerita mengenai perjuangan hati seorang perempuan yang mengabaikan kebahagiaan dirinya, memungkiri hati nuraninya, demi menjaga martabat keluarga dan adat istiadat. meski layaknya perempuan juga berhak hidup bahagia dalam menjalani kehidupan dengan pilihan-pilihan yang ada
Keagungan Manah. Sebuah Kisah Tentang Cinta di Usia Senja
adjeng dan para personal yang terlibat dalam bincang dan bedah buku keagungan manah. ada kurnia effendi (penulis), Julia (psikolog) dan sri rahayu (penggiat sosial kewanitaan)
Keagungan Manah. Sebuah Kisah Tentang Cinta di Usia Senja
saya dan beberapa teman yang mendapatkan doorprize buku

Penghujung Kata / Epilog dari de Laras

Kisah ini, yang aku ceritakan. Kamu sampaikan. Ia bagikan. Kami jalani. Kita rasakan. Adalah bagian dari kehidupan nyata perempuan sehari-hari. Ya, di dunia nyata. Perempuan selalu mempunyai keterbatasan dalam menyampaikan apa yang ia pikirkan, rasakan dan dambakan. Perempuan yang kadang rumit. Juga kadang kelewat sederhana. Bukan lagi perempuan yang lemah atau layak disampingkan. Perempuan, terutamanya sebagai seorang istri, ingin dianggap sejajar. Seperti bagaimana Tuhan menciptakan perempuan.

Ya, dari tulang rusuk pria. Sejajar. Setara, Dan mesti dlindungi. Jika tulang rusukmu sakit, tentu sakit bukan alang kepalang seluruh tubuhmu, bukan?

Semoga kisah ini dapat makin membuat para perempuan mengasihi dirinya. Memperhatikan apa yang jiwanya inginkan. Juga semoga kisah ini membuat para pria makin mengasihi perempuan. Siksa yang kerap terjadi bukan lahir yang berdarah-darah, tetapi bisa batin yang terluka dari kata-kata yang melecehkan.

Perempuan, jangan kalian tepis suara nuranimu yang berdenting. Tenanglah supaya dapat kita rasakan denting itu. Yang Maha Penolong, akan menuntunmu ke dalam terang cahaya Ilahi.

Keagungan Manah. Sebuah Kisah Tentang Cinta di Usia Senja
keagungan manah di pinggir kolam patra bandung hotel. membaca sembari menikmati matahari pagi ternyata asik juga ya. have you done that before?

Membahas tentang perempuan, saya mendadak teringat dengan seorang rekan blogger, Ira Hamid. Ira banyak sekali menulis tentang kehidupan perempuan serta rangkaian cerita dan tantangan hidup yang dihadapi oleh seorang perempuan. Beragam artikel yang menghadirkan banyak insight untuk kita, termasuk menalaah makna dari kehadiran istimewa seorang perempuan di dunia. Yuk, kapan-kapan mampir ke blog nya ya.

Keagungan Manah. Sebuah Kisah Tentang Cinta di Usia Senja

Blogger, Author, Crafter and Photography Enthusiast

annie.nugraha@gmail.com | +62-811-108-582

27 thoughts on “Keagungan Manah. Sebuah Kisah Tentang Cinta di Usia Senja”

  1. Terima kasih banyak Mbak Annie, waah saya terharu dan tergugu (eh apa ini “tergugu” termangu dan terharu), tersanjung sekali novel perdana saya dimaknai sedalam ini sama Mbak Annie. Semoga menginspirasi buat para perempuan, untuk menjadi semakin kuat dalam menjalani kehidupan ini. Berusaha, bersyukur dan tetap ikhlas. Aamiin….sekali lagi terima kasih Mbak Annie. Salam literasi

    Reply
    • Aamiin YRA. Novel yang sangat menyentuh Mbak Adjeng. Semoga menjadi tambahan pengetahuan bagi semua pembaca. Keep writing and inspiring Mbak.

  2. Mbk, saya bayangin novel ini difilm kan dan saya pasti nonton. Apalagi ada Batak2nya, suku yang paling saya suka kalau difilmkan. Padahal saya jawa, hehe

    Selalu suka baca hasil bedah buku/novel versi mbk Annie Lengkap detail dan mudah dipahami.

    Sampe2 saya ikut merasakan perasaan kedua orang yang sedang jatuh cinta itu harus terhalang (lagi2 karena suku) dan adat istiadat.

    Saya berasa pingin punya novelnya…

    Reply
    • Menarik memang memfilmkan cerita tentang hal yang menyangkut adat istiadat ya. Banyak insight yang bisa didapatkan.

      MashaAllah. Terimakasih untuk complimentnya Kak Suci. Semoga lewat review saya, banyak hal yang kita pelajari dalam hidup.

      Monggo Kak Suci, sila hubungi Mbak Adjeng untuk pembelian bukunya. Beliau bisa dihubungi di 0821 2264 3450 ya

  3. MasyaAllah,
    Mbak Annie kalau baca novel bisa sampe nangis-nangis gitu?
    Jadi penasaran sama novel Keagungan Manah. Pasti bagus, diksinya gak pasaran…
    Kemana saya harus order nih mbak?

    Reply
    • Iya Mas Taufiq. Ceritanya sangat menyentuh hati soalnya. Dan mungkin karena saya bacanya begitu menjiwai kali ya.

      Bisa pesan langsung ke Mbak Adjeng Mas. WA nya 0821 2264 3450

  4. Hallo Kak Annie,
    Sebagai wanita Batak memang “terkadang” ada yang masih mengagungkan adat istiadat dimana si perempuan tidak menikah lagi setelah suaminya meninggal dan hanya Tuhan saja sebagai teman hidupnya.
    Tetapi kembali lagi kak tergantung orang tersebut dan suport dari keluarganya. Apakah mereka setuju mamanya menikah lagi. Terkadang kendala memang terjadi jika beda keyakinan. Urusan perasaan cinta kalau boleh jujur ya kak seharusnya jangan melihat usia. Orang lain sering bila ketika sudah senja tidak boleh jatuh cinta lagi, hiks egois ya!
    Buku yang menarik dan patut dibaca nih kak

    Reply
    • Saya juga baru tahu tentang ini lewat bukunya Mbak Adjeng ini Kak Dennise. Meskipun mungkin ada pertimbangan-pertimbangan lain yang mengijinkan perempuan Batak janda untuk menikah lagi, mudah-mudahan semua tetap pada jalur yang menilik pada kepatutan. Yang terkadang sering terpikirkan adalah jika si ibu (janda) ini harus membesarkan anak-anak yang masih butuh bantuan finansial, sementara si ibu tidak mampu.

    • Ya Mbak. Sudah banyak sekali karya tulisnya. Di saya juga ada beberapa yang belum sempat dibaca

    • Waduh. Beda banget ini Mpo. Konflik yang ditampilkan/dihadirkan di buku ini sangat jauh dari apa yang dialami oleh Sule dan Nathalie. Cerita tentang Btari dan Bayu konfliknya berasal dari luar, menyangkut adat istiadat dan mereka dalam status bukan sebagai suami istri. Mungkin Mpo Ratne bisa baca lagi review saya diatas untuk mendapatkan penggambaran yang jauh lebih baik

  5. Baca review-nya jadi penasaran mbak. Jarang lho yg mengangkat tema kasih di usia senja. Ohya, Kalau saya berada di posisi anak-anak, mungkin saya berada di tim Widya. Bukan egois tapi kalau sudah beda secara prinsipil lebih baik mundur saja.

    Reply
    • Pemikiran yang sama Mbak. Karena perbedaan tentang keyakinan adalah jurang yang terlalu dalam jauh. Dari sudut ini saja penghalangnya sudah besar sekali

  6. Baru baca reviewnya di artikel ini saya udah ikut terhanyut. Apalagi baca novelnya. Pasti keren nih. Banyak pesan moral yang tersimpan di balik cerita si Manah.

    Reply
  7. Trimakasih cerita yg nyampai ke hatinya Mba Annie, setiap kalimat mengingatkan saya tentang adat batak yang kurang lebih sama dengan saya yang berasal dari Tapanuli selatan. Adat membantu menjaga kedamaian keluarga, semoga dengan begitu perempuan2 apapun pilihan tindakannya tetap bisa berbahagia dan ridho dalam situasi apapun

    Reply
  8. Keagungan Manah, Menepis Denting Nurani: “Dari judul ini saya kok jadi sedih ya, ada istilah “denting”. Jadi inget masa-masa susah. Btw, jadi tertarik pengen baca novel ini, entar kucoba obrak-abrik di gramed, mudah2an sudah ada dan bisa beli.

    Reply
  9. Kisah cinta di usia yang tak lagi muda, menjadi cerita romansa yang unik. Jarang-jarang daku melihat ada cerita yang mengangkat kisah seperti itu. Seringnya teenlit atau orang dewasa lajang pada umumnya.
    Namun bila bisa membuat Annie sampai menangis, berarti ada sesuatu yang sangat menarik dan hebat dari sang penulis yang bisa membuat pembaca ikut terhanyut

    Reply
    • Mungkin karena konflik yang dihadirkan terasa menghanyutkan Fen. Apalagi saat di bagian-bagian dimana kedua tokoh utama harus berdamai dengan keadaan dan penghalang yang ada. De Laras juga mampu menguraikan kisah ini dengan baik dan dengan rangkaian kalimat yang menyentuh hati

  10. Mantap kisah NOvel Keagungan Manah.
    Aku gak bisa menebak endingnya tapi dari penulis de Laras, rasanya aku pernah membaca sekilas novel karangan beliau yang lain. Tapi lupa judulnya..
    Konflik dari Novel ini tampak tajam dan kental Indonesia banget. Sehingga bisa menjadi bahan renungan bagi pembaca bahwa menikah dan bahagia memang tujuan dari berumahtangga, tetapi tidak bole melupakan pondasi utama yakni agama dan adat istiadat yang melekat.

    Berat sekali perjalanan cinta Btari dan Batu. Padahal namanya sudah se-irama yaa..

    Reply
    • Setuju Lendy. Cinta sesungguhnya adalah satu hal yang harus berdamai lebih dahulu dengan kepentingan keluarga. Terutama jika itu tersambung dengan urusan adat dan keyakinan. 2 hal yang harus dipertimbangkan dengan masak-masak.

  11. Jadi ingat, saya pun pernah membaca beberapa novel yang mengaduk-ngaduk emosi, yang sampai bikin terharu, bahkan sampai bisa nangis terisak-isak gitu. Gak jarang, sampai kebawa mimpi. Hahahah.. kadang sampai bingung, sayanya lagi menjalani hari di dunia nyata, apa masih kebawa suasana di novel yang saya baca.

    Reply

Leave a Comment