Menyusur Legenda Kuliner Jepang di Kikugawa Jakarta

Menyusur Legenda Kuliner Jepang di Kikugawa Jakarta
Saya, Deddy Huang, Katerina dan Arief Wibowo di Kikugawa lokasi yang lama

Kuliner Jepang selalu mendapatkan tempat di hati publik Indonesia. Kehadirannya melengkapi tabula rasa yang ada di lidah kita dan jelajah pengalaman kuliner publik akan masakan Asia. Di negara kita sendiri, masakan ala Jepang memiliki penggemarnya sendiri. Baik untuk masakan yang otentik maupun yang rasanya sudah disesuaikan dengan lidah orang Indonesia.

Lokasinya pun bertebaran dimana-mana. Hampir merata di kota-kota besar di tanah air atau berbagai area kerja dan tempat tinggal yang banyak dihuni oleh orang Jepang.

Contoh soal di lingkungan tempat saya tinggal, Lippo Cikarang. Salah satu daerah industri di provinsi Jawa Barat (baca: Bekasi coret) yang memang dipenuhi oleh pabrik-pabrik milik Jepang atau perusahaan lokal yang bekerjasama dengan salah satu negara adi daya ini. Hadirnya para expatriate asal Jepang kemudian berkembang pada urusan kuliner. Bahkan sudah tahunan banyak beroperasi supermarket Jepang yang tak pernah luput dari kunjungan warga setiap harinya. Materi yang ditawarkan semuanya original. Diimpor langsung dari Jepang.

Ceritanya menjadi lebih berwarna saat berbicara tentang kuliner Jepang di Jakarta. Sebagai ibu kota opsinya tentu akan lebih banyak lagi.

Saya tetiba teringat akan Kikugawa. Japanese Restaurant yang sudah puluhan tahun eksis di Jakarta sejak 1969.

Seusia dengan saya, Kikugawa sudah punya nama populer bagi penikmat kuliner otentik Jepang di Jakarta. Bahkan seringkali diliput oleh banyak Youtuber dan Food Vlogger, media lokal dan tentu saja food blogger. Semangat saya terbetik saat menyaksikan rekaman video Jerome Polin yang menikmati berbagai hidangan Kikugawa dengan salah seorang vlogger cewek yang cukup terkenal. Sebagai salah seorang pribadi yang tinggal dan sekolah di Jepang dan sering bepergian menikmati berbagai masakan khas Jepang langsung di negara matahari terbit tersebut, ulasan Jerome Polin soal kualitas Kikugawa tentunya patut dipercaya.

Saya pun memutuskan untuk menyusur legenda kuliner Jepang di Jakarta ini dalam dua kesempatan. Pertama di lokasi yang lama (Jl. Cikini IV No. 13) dan kedua di lokasi yang baru (Jl. Cikini IV No. 20). Jaraknya satu sama lain hanya berselisih sekitar 200-300an meter.

Baca Juga : Menyesap Kelezatan Hidangan Laut di Kelong Baba Batam

Menikmati Sajian Sang Legenda Bersama Sahabat

Di awal tahun, saat kedatangan salah seorang blogger hits Indonesia, Deddy Huang, saya pun menyempatkan diri untuk bertemu. Setidaknya melepas kangen dan ngobrol tentang banyak hal. Saya pun mengajak Katerina, blogger hits lainnya yang tinggal di Tangerang Selatan, untuk bergabung bersama kami. Berasal dari kampung/daerah yang sama dan bahasa ibu yang juga sama, mereka ini sudah saya anggap sebagai adik-adik sendiri. Apalagi kami pernah beberapa kali terlibat dalam project menulis yang semakin mendekatkan kami secara pribadi.

Kami pun memutuskan untuk membuat janji temu di Sarinah lalu mengisi waktu-waktu berbincang di Kikugawa. Atas usulan dari beberapa postingan, saya akhirnya membuat appointment/booking tempat beberapa hari sebelumnya. Save the seats karena Kikugawa hanya memiliki tempat dine-in yang terbatas dengan jumlah pengunjung yang selalu membludak.

Dari Sarinah yang berlokasi di Thamrin menuju Kikugawa yang berada di Cikini, kami hanya perlu sekitar 15 menit waktu tempuh. Naik taxi pun tak lebih dari Rp50.000,00.

Baca Juga : Remboelan Indonesian Soul Food yang Mengesankan di Central Park Mall Jakarta Barat

Menyusur Legenda Kuliner Jepang di Kikugawa Jakarta
Kikugawa di lokasi yang lama. Bangunannya sangat sederhana tapi wajah Jepang masih menjejak di setiap sudut resto

Menyusur Jl. Cikini IV yang lumayan sempit dengan hanya pas untuk lalu lalang dua kendaraan di jalur yang berbeda, saya sempat tidak begitu yakin akan lokasi yang sedang kami cari. Tapi Google Maps memunculkan denyut tombol bulat berwarna merah dan telah begitu meyakinkan bahwa saya sudah tiba di tempat yang dituju.

Plang bertulisan tangan nama restoran terlihat menggantung di salah satu dinding area parkir yang hanya muat untuk sekitar tiga hingga empat mobil. Ribuan batu koral tersebar sebagai injakan. Suara berisik yang khas terdengar lumayan ramai saat kaki-kaki pengunjung berjalan, berusaha mencapai pintu utama Kikugawa resto, sang legenda kuliner Jepang di Jakarta.

Tak tampak kemegahan, kemewahan atau kesan glamour dari fasad yang tersaji di depan mata. Hanya tanaman dalam pot yang jumlahnya tidaklah banyak, atap kayu yang mulai melapuk, sebuah jembatan kayu kecil yang terpasang di atas sebuah kolam buatan dan pintu sederhana dengan dua kain berbahan seragam dan menggantung sebelum pintu masuk. Ada sedikit ornamen yang memberikan kesan bahwa rumah yang akan kami masuki adalah benar milik seorang tuan rumah yang berasal dari Jepang.

Seorang tukang parkir berusia lanjut tampak ramah menyapa saya. Beliau sudah bekerja menjaga parkiran di Kikugawa puluhan tahun. Gaya ramahnya mempersilahkan saya masuk sangat mengesankan di hati.

Melangkah masuk, sambutan hangat pun menyambut saya, Katerina dan Deddy. Kami dipersilahkan duduk di area yang memang sudah dipersiapkan untuk kami yang melakukan reservasi. Sama seperti tampakan luarnya, di dalam sini pun semua terlihat sederhana, tidak berlebihan layaknya sebuah restoran legenda yang sudah eksis selama puluhan tahun.

Ornamen rotan dan kayu tersebar di setiap sisi. Membagi setiap ruangan menjadi tempat makan dengan jumlah meja yang sangat terbatas. Ceiling ruangan tampak rendah dengan kipas angin dan penerangan seadanya. Keramik kecil-kecil pun terlihat menyangga meja kayu dengan kursi-kursi rotan model lama yang pernah ada di rumah saya saat masih SD. Saya mendadak merasakan dejavu saat menempati sebuah rumah dinas klasik saat almarhum Ayah memboyong kami bertugas ke Medan. Keramik lantai rumah dan inventaris kursi dan meja makan di rumah dinas persis seperti itu.

Ada beberapa ruangan yang berpintu kain dua lembar yang dipasang sejajar. Ada huruf Kanji yang tertulis cantik dengan tinta hitam di kain itu. Di dalamnya tersusun meja dan kursi untuk reservasi grup atau tamu-tamu VIP yang butuh privacy.

Sebagai pelengkap hadirnya nuansa Jepang, Kikugawa menaruh berbagai hiasan seperti lukisan, boneka perempuan Jepang menggunakan kimono, guci-guci dengan garis dekorasi khas Jepang dalam berbagai ukuran dan ukiran-ukiran kayu yang terlihat tetap kokoh.

Baca Juga : Menikmati Yakiniku Berkelas di Kintan Buffet Lippo Mall Puri

Menyusur Legenda Kuliner Jepang di Kikugawa Jakarta
Kayu dan bambu yang memisahkan ruang makan di sisi kanan dan kiri resto

Untuk pilihan menu, setelah melihat beberapa postingan di media sosial, saya memutuskan untuk memesan UME Set. Salah satu paket yang menurut infonya, adalah salah satu yang terlaris terutama untuk new experience visitor seperti saya. UME Set terdiri dari salmon sushi, salmon sashimi, paket tenpura/tempura (gorengan buncis, terong, ubi dan udang), sukiyaki, yakitori dan miso soup. Paket ini ditawarkan di harga Rp169.000,00 belum termasuk 5% service charge dan 10% PB1.

Paket ini kemudian ditambah dengan chicken gyoza (Rp39.000,00) dan tamagoyaki/telur gulung berwarna kuning cerah, tebal dan manis (Rp39.000,00). Dua menu yang juga sangat populer dan disukai oleh banyak pengunjung.

Gimana rasanya?

Benar-benar surga rasa yang tak terbantahkan. Setelah sekian lama hanya melihat, menelan ludah, terpaku dengan orang-orang memuji kualitas legenda kuliner Jepang di Jakarta ini, akhirnya saya bisa membuktikan sendiri. Setiap hidangan dalam UME Set tak ada yang gagal di lidah saya. Semua lezat, umami, tanpa keraguan.

Sejujurnya saya tidak pernah makan seheboh itu. Sebanyak itu. Kapasitas lambung saya, jika mau dihitung dari serangkaian menu di atas nampan itu, mungkin hanya 1/3 nya saja. Tapi, karena begitu semangat ingin merasakan keistimewaan Kikugawa, saya ternyata mampu menandaskan semua sajian. Tak ada yang tersisa. Ibarat tangki bensin mobil, saya mengisi lambung kisut di angka maksimal hingga jarum petunjuk tangki mentok ke kanan. Akibatnya? Saya tewas kekenyangan hingga keesokan paginya.

Ampun bener.

Menyusur Legenda Kuliner Jepang di Kikugawa Jakarta
Ume Set pesanan saya. Salmon Sushi, Salmon Sashimi, Tenpura, Sukiyaki, Yakitori dan Miso Soup.

Menyusur Legenda Kuliner Jepang di Kikugawa Jakarta
Mangkok besar di sebelah kanan itu adalah Sukiyaki. Isinya padat dan penuh banget. Kuahnya khas dengan rasa manis yang tidak berlebihan.

Menyusur Legenda Kuliner Jepang di Kikugawa Jakarta
Sebelah kiri adalah Chicken Gyoza. Isinya padat banget. Lima buah lebih dari cukup untuk kami bertiga. Tamagoyaki (telur gulung) nya tebal dengan rasa manis yang didapat dari telur asli Jepang

Baca Juga : Raosnya Sajian Rumah Makan Alam Sunda Cipanas

Mengunjungi Kikugawa di Lokasi Baru

Beberapa hari setelah kunjungan pertama di atas, si bungsu merengek ingin merasakan legenda kuliner Jepang ini juga. Keinginannya pun semakin menggebu-gebu sejak saya berulangkali menceritakan tentang pengalaman rasa selama berada di Kikugawa. Khususnya tentang Ume Set, Chicken Gyoza dan Tamagoyaki yang sungguh memanjakan indera pengecap saya.

“Bunda loh gak ngajak-ngajak. Adek kan kepengen banget makan di Kikugawa,” begitu kira-kira rengekan si bungsu.

Tak tahan dengan rengekannya yang terus menerus bergaung di telinga, saya pun menghubungi Kikugawa untuk mengatur reservasi. Tapi ternyata di waktu yang saya pilihkan, resto legendaris ini tutup sementara dan sedang kukut-kukut untuk pindah ke lokasi yang baru. Waaahh. Dari apa yang dijelaskan oleh petugas, Kikugawa akan menempati lokasi baru yang tak jauh dari tempat sekarang.

Saya pun kembali mengatur waktu saat mereka benar-benar sudah siap menerima tamu di tempat yang baru.

Menyusur Legenda Kuliner Jepang di Kikugawa Jakarta
Saya di depan pintu masuk Kikugawa di lokasi yang baru. Jembatan kecil di atas kolam buatan dan lembaran kain bertuliskan Kikugawa dalam huruf Kanji menjadi satu ciri khas yang tak ditinggalkan dari tempat lama

Sesuai jadwal buka yang sudah lama berlaku (pukul 11:30-14:30WIB dan pukul 17:30-21:30WIB), saya memutuskan untuk dine-in bersama si bungsu pada pukul 17:30WIB setelah beberapa kegiatan di tempat lain. Di ketibaan saya pada pukul 17:00WIB sudah ada dua rombongan lain yang menunggu. Tak ingin tamunya capek berdiri, pihak resto menyediakan satu area khusus untuk menunggu di salah satu sudut/sisi luar.

Satu hal yang membuat Kikugawa (yang baru) menjadi lebih menyenangkan adalah posisi dan lokasinya yang lebih nyaman dan mudah untuk diraih. Meski tetap dengan dua jalur jalan saja, setidaknya lebar jalan ini tidak sesempit di tempat lama. Apalagi didukung dengan area lepas tanpa bangunan di bagian depan. Jika dicari lewat aplikasi maps, petunjuk ke tempat baru ini jauh lebih simpel karena hanya beberapa langkah sudah langsung terkoneksi dengan jalan utama yang lega serta luas.

Luas bangunannya sendiri tidak berbeda jauh. Lahan parkir pun tetap “berlantaikan” batu koral dan hanya cukup untuk mengakomodir tiga sampai empat kendaraan ukuran biasa. Kualitasnya bangunan tentunya lebih cerah dan memberikan efek segar bagi netra untuk siapapun yang melihatnya. Bahkan ketika menunggu selama kurang lebih 30 menit, saya mendadak tak sabar ingin segera masuk ke dalam resto.

Rasa penasaran pun begitu membuncah di dada. Seperti apa ya nuansa di dalamnya? Apakah masih mempertahankan ketenangan dan nuansa sunyi seperti di resto yang lama?

Selangkah melewati pintu masuk dan disambut dengan ramah oleh salah seorang petugas berbaju batik dan rok hitam, sebuah space khusus yang berfungsi sebagai concierge sekaligus kasir, nampak cantik terlihat. Sang petugas membimbing saya menuju tempat duduk yang sudah di pesan. Persis di depan meja saya ada area khusus tatami yang bisa menampung empat orang tamu. Tatami nya hanya dua set saja. Awalnya saya ditawarkan untuk duduk di sana, tapi mengingat lipatan perut heboh luar binasa, saya memutuskan untuk tetap duduk dengan kondisi seperti biasa.

Sembari menunggu pesanan saya dan si bungsu datang, saya menyempatkan diri untuk mengamati resto sang legenda kuliner Jepang di Jakarta ini. Didominasi oleh warna hitam putih, saya melihat bangku-bangku rotan yang dulu digunakan di lokasi yang lama. Meja-mejanya pun seperti sama.

Lantainya full hitam terbuat dari batu-batu alam yang disusun sedemikian rupa dan diplester menjadi sambungan. Terlihat sangat menarik meski lantainya tidak rata. Ada juga ruangan khusus tertutup yang sepertinya untuk memfasilitasi tamu-tamu VIP atau mereka yang membutuhkan privacy.

Mendadak saya kembali diingatkan bahwa Kikugawa sepertinya konsisten hanya menyediakan limited seats dengan nuansa yang hening, simpel tapi tetap menarik dan memberikan rasa nyaman tanpa harus bermewah-mewah. Intimasi yang juga saya sukai. Dengan vibes seperti ini, saya merasakan pengunjung juga menjaga suara. Jadi konsep house and homemade restaurant yang ditawarkan oleh Kikugawa telah berhasil memberikan satu kesan istimewa yang tak terlupakan saat kita, para tetamu, meninggalkan venue.

Satu konsep yang sangat cocok untuk menghabiskan waktu-waktu berkualitas dengan orang-orang terdekat, mereka yang kita hormati atau tamu-tamu yang wajib kita entertain sebaik mungkin.

Baca Juga : Nikmatnya Pindang Patin Pegagan di Rumah Makan Terapung Mbok Yah Palembang

Menyusur Legenda Kuliner Jepang di Kikugawa Jakarta
Dua set Tatami di sebelah kiri pintu masuk dan berada dekat dengan area kasir dan concierge

Menyusur Legenda Kuliner Jepang di Kikugawa Jakarta
Salah satu dari empat area makan. Tatami, ruang terbuka yang berada persis di belakang kasir, ruangan tertutup (VIP) dan satu lagi ruangan memanjang yang batasi oleh pagar kayu tinggi berwarna hitam

Masakan yang Saya Pesan di Kunjungan Kedua

Ingin bereksplorasi dengan sajian yang lain, kali ini saya dan si bungsu memesan Tenpura Udon (Rp87.000,00) dan Chicken Cutlet Curry Rice (Rp79.000,00). Membuktikan omongan saya tentang kelezatan dan rasa penasaran yang sudah lama bersarang di kepala, si bungsu menambahkan Chicken Gyoa (Rp39.000,00) dan Tamagoyaki (Rp39.000,00). Tentu saja dengan dua gelas free flow Ocha dingin seharga Rp20.000,00/orang.

What an authentic and tasty Japanese cuisine.

Rasanya kembali meninggalkan kesan mendalam bagi diri saya pribadi. Begitupun bagi si bungsu yang tak henti memuji Chicken Cutlet Curry Rise yang dia pesan. Menurutnya olahan kari Kikugawa pas kekentalannya maupun perpaduan diantara semua rempah-rempahnya. Awalnya saya pikir pujian ini disampaikan si bungsu karena sudah lama “dendam” ingin merasakan sajian kari. Tapi ternyata setelah saya ikut mencoba, memang seenak itu sih kari nya. Saya yang jarang sekali tertarik dengan masakan ber-kari, kali ini harus mengakui ada sesuatu yang berbeda yang dihidangkan oleh Kikugawa.

Pujian untuk Chicken Gyoza dan Tamagoyaki nya juga tak berhenti dari obrolan hingga kami kembali ke rumah. Keduanya memenuhi selera si bungsu dan tidak saya bantah.

Lezatnya kuliner Jepang yang legendaris di Kikugawa yang dipertahankan sedari 1969, saya rasa patut mendapatkan ruang yang istimewa bagi penggemar dan atau penjelajah seni masakan dunia, khususnya Asia.

Kikuchi Surutake yang sangat cinta akan Indonesia, telah berhasil meninggalkan legacy yang tak ternilai sejak beliau wafat pada 2011 di usia 94 tahun. Penamaan KIkugawa yang adalah perpaduan antara Kiku (nama beliau) dan Gawa (yang berarti sungai) tetap terpatri hingga kini. Kenangan manis Kikuchi akan sungai Bengawan Solo, telah melahirkan ide menggunakan kata Gawa sebagai bagian dari branding jenama usaha kulinernya.

Baca Juga : Jelajah Rasa Premium di Sushi Tei

Menyusur Legenda Kuliner Jepang di Kikugawa Jakarta
Chicken Gyoza dan Tamagoyaki yang kembali saya nikmati. Bersama si bungsu kedua hidangan ini jadi favorit kami

Saya mendadak tergelitik untuk membicarakan tentang kualitas asupan Jepang yang sebagian besar diolah dengan cara dan resep yang simpel tanpa bumbu yang ribet atau mengandung banyak unsur kolesterol. Bahkan kalau mau kita amati, ikan-ikan yang mereka gunakan sebagai unsur utama asupan, dihidangkan fresh. Salmon contohnya. Cukup dipotong rapi lalu dikasih cuka khas Jepang sedikit aja, sudah berasa enaknya.

Bergabung di dalam komunitas para penulis berkualitas, saya menemukan salah seorang blogger Indonesia yang banyak membicarakan atau mengulas tentang kesehatan asupan yang perlu kita perhatikan. Blog gaya hidup sehat ini benar-benar mengajak kita untuk hidup sehat sembari mengkonsumsi beragam bahan makanan yang sangat bermanfaat bagi tubuh. Tapi tentu saja sehat butuh konsistensi. Karena semua tindakan baik, butuh tetap terjaga agar mendapatkan hasil yang maksimal.

Menyusur Legenda Kuliner Jepang di Kikugawa Jakarta
Tenpura Udon pesanan saya

Menyusur Legenda Kuliner Jepang di Kikugawa Jakarta
Chicken Cutlet Curry Rice pesanan si bungsu

Menyusur Legenda Kuliner Jepang di Kikugawa Jakarta
Area menunggu di salah satu sisi depan bangunan resto

Menyusur Legenda Kuliner Jepang di Kikugawa Jakarta
Ruang makan yang berada di tengah. Masih menggunakan kursi rotan dan meja kayu dari tempat lama

Menyusur Legenda Kuliner Jepang di Kikugawa Jakarta
Area Tatami. Meskipun hanya dua meja, ketersediaan Tatami semakin menguatkan ciri khas/wajah Jepang

Blogger, Author, Crafter and Photography Enthusiast

annie.nugraha@gmail.com | +62-811-108-582

46 thoughts on “Menyusur Legenda Kuliner Jepang di Kikugawa Jakarta”

  1. Suka deh sama tempat makan kaya gini. Suasananya enak. Nggak kemyuruk. Pun nggak dempet-dempetan. Resto lama yg masih eksis, brarti kualitasnya dijaga terus biar tetep oke. Dan kayaknya aku satu selera sama Mbak Annie deh. Pesennya sesuai arahan mana yg paling laris buat new experience visitor. Ume set nya emang menggoda banget. Mudah-mudahan aku ada kesempatan buat nyicipin juga.

    Reply
    • Bener Mbak Retno. Sependapat saya. Pilihan the most saleable tuh salah satu kunci jitu agar kita tidak kecewa. Terutama untuk di satu tempat yang belum pernah kita kunjungi. Saat ditanya ke petugasnya pun, mereka menyebutkan UME SET tanpa ragu.

  2. Ngeliat Tamagoyaki setebal itu kebayang pas dilumat lumer-lumer di mulut. Sekilas kalo liat ruangan yang duduk “ngepor” gitu serasa bener-bener di Jepang ya yuk. Penasaran pengen jajal makanan di Kikugawa ini, pemanasan sebelum bisa cobain makanan Jepang langsung di negara asalnya kelak kalo ada rezeki haha amiiiin.

    Reply
    • Lemak galo masakan mereka ini Yan. Meskipun harga di atas rata-rata tapi tetap pantas dan setara dengan kualitas yang mereka sajikan. Kapan awak ke Jakarta kito makan di sini samo-samo ye. Jangan lupo kabari aku.

  3. Saya juga selalu suka makanan Jepang. Meskipun belum pernah ke Kikugawa udah cukup yakin rasanya memang enak. Karena rasanya gak mungkin bisa bertahan sekian lama kalau rasanya gak disukai. Suasananya juga terlihat nyaman dan tenang. Enak kalau ajak keluarga atau teman dekat ke sini.

    Reply
    • Betul banget Mbak Myra. Mempertahankan bisnis selama puluhan tahun itu tentunya tidak gampang. Pasti banyak kelebihan yang membuat Kikugawa tetap disukai publik.

  4. Wow asik banget nih Kak Annie bertemu dengan blogger hits Deddy Huang & Katerina. Terus menikmati kuliner Jepang Kikugawa-Jakarta. Kalau aku paling suka Tempura Udon (paling enak kalau hangat-hangat dinikmati bersama saos sambel + mayonase) , chicken gyoza dan tamagoyaki diakhiri dengan minum teh khasnya Jepang. Entah mengapa ya kak kalo menyantap kuliner Jepang aku lebih suka dicemilin tidak pake nasi. Biar bisa muat banyak, he…he…he

    Reply
    • Bener Kak Dennise. Tenpura/Tempura nya resto Jepang tuh bener-bener jempolan deh. Rasa dan kadar gorengannya pas. Kalau masih dalam kondisi hangat, kriuknya begitu memanjakan lidah.

      Ih sama Kak. Kalau makanan begini, saya lebih memilih tidak mengkonsumsi nasi. Biar kenyangnya lebih puas lagi.

  5. Menarik sekali tempat ini. Pengunjungnya dibatasi baik waktu dan jumlahnya tapi rasa makanannya luarrr biasaa. Pasti membuat siapapun yang pernah berkunjung ke sini pulang dengan pengalaman istimewa. Jadi ingin coba :D

    Reply
  6. gokiilll sejak tahun 1969
    itu klo PNS udab mau masuk pensiun yhaa
    tapi resto ini cetharrr bgt
    sering masuk youtube food blogger nih mbaa
    saking legend nya yahhh

    Reply
    • Hahahahaha iya ya Nur. Dah 54 tahun di 2023. Usia yang luar biasa matang dan istimewa untuk sebuah bisnis yang terus bertahan dengan baik

  7. Resto ini tampilannya khas jepang banget deh, dan amazing bertahan sejak tahun 1969 luar biasa ya. Tampilan menu makanannya menggoda jadi auto pengen ambil sumpitπŸ˜ƒ

    Reply
    • Semoga suatu saat bisa dine-in di sini ya Mbak Emma. Tempatnya menyenangkan dan asupannya juga lezat.

  8. Ternyata udah berdiri sejak 1969, jadi penasaran dengan rasanya

    karena kata anakku yang beberapa tahun di Jepang untuk ambil s3, rasa masakan Jepang di negaranya dengan di Indonesia itu beda jauh

    rata2 udah dimodifikasi, disesuaikan dengan lidah Indonesia yang terbiasa dengan banyak bumbu

    Reply
    • Betul Mbak. Ada transisi rasa agar lidah orang kita tidak kaget menerima masakan asli Jepang. Kalau benar-benar asli, sulit rasanya untuk mendapatkan sertifikat halal karena ada beberapa komponen bumbu aslil Jepang yang tidak masuk dalam daftar halal (seperti sake, dll.). Ada beberapa resto otentik Jepang di seputaran Jakarta Selatan. Mereka tegas membuat statement “tidak halal”, sementara Kikugawa sudah mengurusi sertifikat ini sejak tahun 2.000.

    • Betul sekali. Mampu bertahan puluhan tahun tentunya karena memiliki banyak kelebihan baik.

  9. Ngiler liat menu2nya. UME Set-nya juga harganya masih masuk akal ya mbak, kirain tadinya udah 200 ke atas lho hehe.
    Ternyata ownernya orang jepang asli ya? sekaranmg dilanjutin sama anak2 cucu2nya kali ya :D
    Restonya buka pas jam makan siang sampai makan malam ya. Moga2 kalau pas di sekitaran sana bisa mampir juga :D

    Reply
    • Bagusnya UME set ini memang buat berdua. Bisa ditambah Tamagoyaki supaya kenyangnya pas.

      Betul Sar. Pemilik asli adalah orang Jepang (bapaknya), tetapi istrinya orang Manado. Jadi memang kecintaan akan negara kita tuh sudah mengakar di hati beliau

  10. Pintu masuknya aja udah mencirikan Jepang banget. Makin ke dalam makin kepang kepangan pisan hehehe …
    Kuliner Jepang emang punya ciri khas ya. Susah buat ditiru dan dimodifikasi karena meski bisa, tetap saja khas jepang nya itu ada dan terlihat

    Reply
    • Setuju Teh Okti. Selain vibesnya memang asik, Kikugawa tentunya punya beberapa poin kelebihan yang membuat mereka digemari, ramai pengunjung hingga bisa eksis selama puluhan tahun.

    • Setengah abad lebih tetap eksis dengan kualitas yang terus meningkat memang sebuah pencapaian luar biasa. Selain citarasa kulinernya, branding restoran ini juga semakin kuat dan mengakar. Pecinta kulinernya gak akan berpaling lagi deh

  11. Kari jepang sama Tempura mah bikin nampol deh. Selalu asik buat disantap.
    Konsep restonya juga unik ya dengan eksteriornya yang memikat.
    Apalagi ada jembatan merah juga hehe.

    Reply
    • Tenpura memang jempolan ya. Bahkan untuk yang sekedar gorengan sayur ada nikmatnya kebangetan

    • Nah bisa nambah berkali-kali ya Bu, hehe.
      Apalagi kalau tempuranya udah ketemu mayones dan saus yang nikmat, hihi.
      Cocok ini jadi tempat kulineran yang diandalkan.
      Semoga pankapan daku bisa ke sana

  12. Aku suka Ramen Jepang yang terkenal dengan kuah kaldu yang lezat nih mom… Kata temenku juga, di Kikugawa, ada berbagai varian ramen, mulai dari ramen dengan kuah kaldu klasik hingga ramen dengan rasa yang lebih berani seperti ramen pedas atau ramen dengan bumbu khas Jepang.

    Reply
    • Kaldu ramen Jepang tuh memang jempolan. Gak terlalu pekat tapi tetap terasa enak bumbunya. Apalagi saat dihidangkan dan dinikmati hangat-hangat. Duuhhh enak banget nyeruputnya

  13. Pengen belajar masak sajian Jepang yang cantiikk..
    Tapi melihat menu di Kikugawa, auto menyerah. huhuhu.. Chefnya mashaAllaa yaa..
    ini salah satu yang aku kagumi sama Jepang. Mereka sangat menghormati makanan dan filosofinya sehingga kalau mau belajar, kudu bener-bener dari mulai budaya, bahasa, baru ke masakannya yang super indah. Gak tega makan, tapi yakin gak kuat banget ama godaannya. Huhuhu.. Mauuu~

    Reply
    • Hihi…kebayang ya..kak Annie.
      Tapi interior di Kikugawa Jakarta ini jug amendukung banget sih ya.. Ga asal Jepang, tapi ada filosofinya juga.
      Tentunya menyesuikan dengan kondisi di masyarakat Jakarta.

  14. wadaaww aku ngilerrrr mbaaa
    aku jaraangg bgt makan menu Jepang yg otentik

    paling sering nge Hokben πŸ˜πŸ™πŸ˜πŸšπŸ₯🀣

    kapan2 terwajiiibbb ke sini ahhh

    Reply
  15. Yang saya suka dari kuliner Jepang adalah mengutamakan bahan baku

    sehingga gak butuh bumbu njlimet. Pakai garam pun jadi

    Bahkan konsumen jadi bisa menikmati rasa bahan baku sajian yang disantap

    Gak heran dari negara Jepang, berasal micin yang kini beredar di Indonesia

    Reply
    • Iya ya Mbak. Dari beberapa review tentang masakan otentik Jepang, soal bahan baku premium itu selalu jadi materi utama. Contoh kecil, telur aja deh. Di sana, telur diproduksi oleh unggas yang sangat dijaga kesehatannya. Jadi meskipun dimakan mentah, telur tetap aman dikonsumsi langsung oleh manusia. Rasanya pun manis dan tidak mengganggu indera perasa kita.

  16. Melihat penampakan di awal saya dah nge-judge duluan, kok simpel dan nampak sederhana saja ya tempatnya, enggak terlihat mewah. Tapi ternyata ada kelebihan yang dipunyai Kikugawa dan enggak dimiliki oleh restoran Jepang sebelah yang bikin Kikugawa istimewa. Meski berpindah lokasi yang senangnya kini makin nyaman dari segi posisi, Kikugawa konsisten dengan ini: limited seats yang bernuansa hening dan simpel sehingga pelanggan bisa menikmati menu khas yang disajikan dengan nyaman. Lalu, melihat harganya, wah terjangkau ternyata..enggak ngira

    Reply
    • Kalau menurut saya, Kikugawa ini tempat premium Mbak. Mengutamakan kualitas, baik dari sajian maupun pelayanan. Saya merasakan atmosphere yang berbeda saat berada di dalam resto. Menyenangkan banget. Yuk kapan kita ketemuan di Kikugawa ini. Sambil ngobrol pastinya asik banget.

  17. Mbaaak astaga aku kira bakal mahal harga makanannya. Ternyata UME set nya aja di 169k ya dan rasanya enak. Uh jadi pengen nyobain saya. Noted, lokasinya di Cikini ya Kikugawa ini. Japanese Restaurant yang sudah eksis di Jakarta since 1969

    Reply
    • Dan UMET Set itu bisa dimakan berdua loh. Cukup banget. Kuy, kapan-kapan dine-in di Kikugawa ya

  18. Aku belum pernah mencoba restoran kikugawa. Adakah cabangnya di bagian Jabodetabek lain? Tertarik juga merasakan nuansa dan masakan Jepangnya. Makasih mbak sudah mention blognya :) semoga memberikan manfaat

    Reply

Leave a Comment