
Rampung urusan check-in di Novotel Suites Yogyakarta Malioboro sore tadi, saya dan si sulung memutuskan untuk menjelajah sebagian kecil kawasan Malioboro dan makan malam di Loko Cafe.
Tadi sore saat tiba di Stasiun Tugu dan berjalan kaki menuju Novotel Suites Yogyakarta Malioboro, saya melewati Loko Cafe yang terlihat ramai oleh pengunjung. Cafe ini letaknya sejajar Stasiun Tugu di Jl. Pasar Kembang, dengan penampakan bangunan yang menyerupai konsep ruang tunggu dan bentuk fisik kereta api itu sendiri.
Saya menyempatkan diri berfoto di sisi depan Loko Cafe yang memasang rangkaian huruf kuning dan merah bertuliskan YOGYAKARTA. Mumpung masih terang benderang juga. Di teras tulisan ini saya melihat beberapa jejak lantai teraso bergambar bintang dengan tulisan nama-nama orang terkenal di Indonesia. Sebagian besar sih nama-nama seniman. Lumayan butuh effort untuk berfoto di sini karena jalan setapak ini cukup sibuk dilalui oleh publik. Plus tentu saja kesabaran menunggu antrian untuk berfoto.
Tentang Yogyakarta : Semalam Bertandang di Novotel Suites Yogyakarta Malioboro, Salah Satu Hotel Terbaik di Yogyakarta

Saat keluar dari hotel untuk makan malam, saya menyaksikan lautan manusia mulai menyemut di berbagai sudut Malioboro. Bahkan persis di depan hotel sendiri, berjajar banyak sekali Pedagang Kaki Lima (PKL). Yang mereka tawarkan juga sangat beragam dan begitu menggoda. Mulai dari aneka asupan berbagai jenis/menu angkringan, wedang ronde, nasi dan mie goreng, sate ayam, dan masih banyak lagi.
Selain PKL kuliner banyak juga penjual keliling yang menawarkan mainan anak, aneka oleh-oleh, kerajinan tangan, produk fashion, minuman segar, dan jasa andong senilai Rp10.000,00 untuk berkeliling singkat di seputaran kawasan ini.
Rangkaian kesibukan ini membuat hari Minggu malam waktu itu terasa begitu hidup. Ada banyak interaksi yang terjadi. Termasuk di antaranya negosiasi dagang, tawar menawar, canda dan gelak tawa, yang khas terjadi saat berkomunikasi dengan pedagang kecil.
Sebelum masuk ke area milik Loko Cafe, di sebuah selasar saya bertemu mbok-mbok yang sudah berumur menawarkan sate. Kalau saya amati sekilas sih sate ini mengandung sisi-sisi lemak sapi yang dipotong kecil-kecil bercampur dengan sedikit potongan daging sapi dan jeroannya. Publik menamai ini sebagai sate kere atau sate koyor. Si mbok membawa alat pemanggang sate berbentuk persegi panjang dan kerap mengipas-ngipas sate yang terbakar di atas arang agar asapnya bisa menarik perhatian.
Saya terus terang sempat (sangat) tergoda. Apalagi perut saat itu keroncongan dengan naga-naga gemuk yang minta makan dan wangi khas sate menohok indera penciuman.
Sayangnya perhatian si sulung sudah terkunci pada Loko Cafe.
“Entar pulangnya aja Bunda. Kalau belum kenyang makan di cafe, kita nongkrong lagi deh di para pedagang ini. Penasaran juga pengen nyobain sate kere nya,” jawab si sulung saat saya mengajukan usulan untuk nongkrong sebentar di hadapan si mbok. Tapi sayang niat ini akhirnya buyar karena pas kami berjalan balik ke hotel, si mbok sudah tidak berada di tempatnya. Yah, padahal sudah menyisakan 1/3 lambung buat makan satenya.
Tentang Yogyakarta : Sate Pak Pong, Tujuan Utama Wisata Kuliner di Yogyakarta

Loko Cafe mulai dipadati tamu saat saya duduk menunggu pesanan. Saya memutuskan untuk mengambil bangku dan meja yang ada di teras luar. Langit tampak cerah dengan cuaca yang begitu bersahabat. Kota pelajar ini sepertinya begitu ramah menyambut saya kembali setelah sekitar 3 minggu yang lalu saya datang untuk menghadiri sebuah pelatihan menulis di Kaliurang.
Saya sempat lama membaca lembaran menu saat seorang petugas datang menghampiri.
“Kalau boleh saya usul. Ibu cobain Cuanki khas Loko Cafe. Laris banget dan enak tenan ini Bu,” ujar sang petugas yang tampak begitu bersemangat.
Saya sempat terdiam dan berpikir beberapa saat.
Rada unik juga ya. Di Yogya, kota gudeg, saya malah ditawari cuanki, asupan khas Jawa Barat. Tapi ya sudah. Seharian ini memang saya kebanyakan makan yang kering-kering. Jadi jika perut diisi dengan kuah hangat sepertinya asyik banget. Apalagi infonya Cuanki khas Loko Cafe adalah salah satu menu terlaris.
Baiklah. Mari kita coba.
Saat mangkuk nya datang saya tidak menduga bahwa isinya sangat padat. Penuh berdesak-desakan. Beda banget dengan beberapa jenama cuanki yang pernah saya coba sebelumnya. Sajian bumbunya juga berlimpah. Tapi karena lambung saya cukup sensitif dengan serangkaian bumbu yang mengandung MSG, saya hanya mencampurkannya sedikit saja. Dengan air panas yang terus mengepul, ternyata meskipun dengan kadar bumbu yang (sangat) terbatas, rasa gurihnya bisa saya nikmati lewat isian yang ada di dalam mangkuk.
Bener kata si Mas pelayan tadi. Cuankinya enak tenan. Menyempurnakan waktu nongkrong santai di Loko Cafe sembari menikmati makan malam.
Untuk saya yang pada dasarnya suka makanan berkuah yang disajikan panas/hangat serta mengingat lambung yang sudah sekarat minta diisi, Cuanki khas Loko Cafe ini cukup memenuhi selera dan menyegarkan rasa.
Gimana dengan si sulung? Sesuai dugaan saya, dia pasti milih menu yang ngafe banget. Pesanannya jatuh pada Three Eggs Omelette and Fries yang dilengkapi dengan sejumput salad dan taburan keju.
Sajian ini cukup sempurna menurut si sulung. Omelette nya padat, tidak kering, dan lumer di lidah. Ukurannya grande. Mungkin karena dibuat dengan 3 butir telur. Campuran kejunya dan isiannya yang tak banyak tampak menyempurnakan rasa yang dihadirkan. Kualitasnya setara dengan apa yang biasa kita nikmati di hotel-hotel bintang 4 atau 5 sekalipun. Begitu pun dengan kentang gorengnya. Tampak biasa. Tapi saat saya ikut mencoba, garing nya pas banget. Tidak oily. Mungkin karena dihidangkan dalam kondisi masih panas ya. Saladnya ok lah. Sempurna menemani 2 karbohidrat yang menjadi asupan utama.
Untuk minuman, saya memutuskan untuk mencoba Wedang Jahe Geprek Sereh dengan gula batu terpisah. Jahenya terasa sangat dominan. Sempurna betul efek hangatnya. Baik di lidah, tenggorokan, dan lambung. Padu padan yang pas dengan cuanki hangat yang saya nikmati.
Sementara si sulung gak mau ribet. Dia memilih Ice Loko Tea. Menyegarkan lidah setelah mengkonsumsi segala gorengan di piringnya.
Untuk semua yang saya pesan ini, biayanya adalah sebesar Rp153.615,00. Sudah termasuk service charge sebesar 5% dan PB1 sebesar 10%.

koleksi pribadi)
Yang pasti jajan di Loko Cafe Malioboro, bukan hanya tentang sajiannya, tapi juga tentang tempatnya. Sebelum beranjak pergi, saya memutuskan untuk melakukan penjelajahan kecil.
Di area tempat saya makan tadi, ada sebuah gerbong tertutup yang cukup besar. Saat mengintip IG @lokocafe saya menandai bahwa bangunan menyerupai gerbong ini sering dipake oleh para seniman untuk tampil di hadapan tamu Loko Cafe Malioboro. Live perfomance yang tentunya sangat menghibur. Apalagi kalau nongkrongnya reramean bareng temen-temen sefrekuensi. Sempurna kesenangannya.
Di balik gerbong ini ada sederetan tempat duduk yang menggunakan kursi-kursi penumpang di kelas ekonomi. Sandarannya tegak dengan bahkan kursi terbuat dari kain semi kulit. Sejenak setelah berfoto, sebuah lokomotif lewat persis di samping tempat duduk ini. Derunya menggetarkan tanah yang saya pijak. Jalur atau rel kereta masuk dan keluar Stasiun Tugu memang terlihat jelas dari titik ini.
Saya juga menyempatkan diri masuk ke ruang makan tanpa dinding yang ada di bagian dalam cafe. Di sini saya melihat rangkaian akses yang disiapkan oleh cafe agar para tamu yang juga adalah penumpang kereta, bisa masuk ke peron lewat pintu khusus ini.
Tampilan cafenya secara keseluruhan juga cantik. Loko Cafe Malioboro mengatur services area di satu lokasi aja. Jadi cafe tetap terlihat simpel, gak ribet dengan aneka pernak-pernik. Display penjualan produk tambahannya pun estetik dan komunikatif.
Perhatian saya tercurah pada bungkusan kopi yang masih berupa bijian. Saat akan kembali ke Jakarta lewat Stasiun Tugu, saya membawa sebungkus, dengan tentu saja, biji kopi yang sudah digiling.
Thanks a bunch Loko Cafe Malioboro yang sudah memberikan sejumput acara nongkrong santai saya bersama si sulung. Semoga bisa kembali lagi. Menikmati semangkuk besar cuanki yang enak tenan sembari mendengarkan alunan suara indah para seniman Yogyakarta.
Tentang Yogyakarta : Blusukan di Pasar Ngasem Yogyakarta


Tentang Yogyakarta : Belanja di Satu Tempat Serba Ada di Yogyakarta? Hamzah Batik Malioboro Solusinya



IG @annie_nugraha | Email : annie.nugraha@gmail.com



Wah, baca ulasannya bikin kebayang suasana nongkrong di Loko Cafe Malioboro! ๐ Aku pernahnya di loko cafe Cirebon. Di Malioboro Tempatnya strategis banget, bisa sekalian nikmatin vibe Malioboro yang selalu hidup, entah siang atau malam. Paling pas memang duduk santai sambil nyeruput minuman hangat terus pesan cuanki yang katanya enak tenan itu. ๐๐ Sambil ngobrol bareng temen atau sekadar menikmati hiruk pikuk jalan, rasanya jadi pengalaman yang lengkap banget. Next time ke Jogja kayaknya wajib banget mampir ke sini biar ngerasain sendiri suasananya. โจ
Ah bener banget. Vibes hiburannya terasa banget saat nongkrong di Loko Cafe Malioboro ini. Apalagi lihat banyak PKL dengan beragam sajian yang begitu menggoda rasa. Setelah dari sini, entah mengapa saya jadi pengen banget menyusur Malioboro kembali. Dari ujung ke ujung, menikmati setiap jejak yang padat dengan hiburan merakyat.
Aku baru saja menyimak ceritamu tentang nongkrong santai di Loko Cafe Malioboro, dan benar-benar merasa diajak berjalan bersama melalui sudut hangat Yogyakarta yang penuh ceritaโplus bonus cuanki yang โenak tenanโ.. dan… guess what? Gue juga baruuu aja dari Yogya! Yaaa …. Tanggal 12- 17 Agustus kemaren is a really nice adventure for me and besties!
Wedang Jahe Geprek Sereh aaah.. ga pernah salah memang, menikmati seruputan minuman satu ini di sudut kota antik yang syahdu … uhuuuy .. kapan kapan kita ke Y ogya dooong nongki aja gituuuh
Yogya memang tempatnya rindu ya Tan. Apalagi kalau kita menyusur banyak tempat dengan para bestie. Keseruannya jadi maksimal.
Yuk Tan, kapan yok bareng gue menyusur Yogya.
Biasanya suami saya kalau bingung milih menu suka nanya menu yang paling favorit di resto atau kafe tersebut. Catet deh ini. Berarti kalau ke Loko Cafe mau cobain cuankinya dulu. Di semua stasiun besar, ada Loko Cafe gak ya?
Ah betul itu. Daripada capek mikir dan bingung, mending dapat referensi orang dalam aja dah hahahaha. Dan beneran enak sih cuankinya. Isinya padat banget. Kenyang makan semangkok aja. Perut full tapi gak begah.
udah seminggu saya di Yogya nih mbak, belum sekalipun menginjak malioboro
mungkin karena udah sering dan dekat, (malah aneh kalo pakai mobil atau angkutan umum)
jadi baru menjelajah pasar: Pasar Ngebok, Pasar Pathuk dan Pasar Senen yang bisa dicapai dengan jalan kaki
Berikutnya nyobain cuankie di loco cafe ah, penasaran dengan rasanya
Wah wah waaahhh seneng banget bisa blusukan di banyak pasar. Saya baru sempat ke Pasar Ngasem aja. Pengenlah kapan bisa kembali ke Yogya, nyobain sajian-sajian seru di dalam pasar tradisional.
Enjoy your time Mbak Maria. Semoga bisa nemu banyak materi tulisan-tulisan baru dan menarik untuk disajikan di blog.
Loko Cafe ini asiiiik. Hehe… Sebelum pandemi aku sempat ngafe di sana waktu nunggu jadwal KA buat balik ke Bandung. Sekarang tempatnya tampak lebih bagus.
Waahh sudah duluan. Tempatnya memang seasyik itu sih menurutku. Tetap nyaman dan private meski berada di area kesibukan seperti Malioboro.