Belanja di Satu Tempat Serba Ada di Yogyakarta? Hamzah Batik Malioboro Solusinya

Photo of author

By Annie Nugraha

Belanja di Satu Tempat Serba Ada di Yogyakarta? Hamzah Batik Malioboro Solusinya

Kalian pernah gak sih berada di satu daerah wisata kemudian mondar-mandir di beberapa tempat, kehabisan ide, hanya untuk membeli hadiah atau oleh-oleh yang pas untuk orang tercinta? Saya sempat mengalaminya beberapa kali. Sampe akhirnya menemukan Hamzah Batik di Malioboro saat sedang ngelencer ke Yogyakarta. Solusi banget deh karena di Hamzah Batik ini isinya serba ada.

Saya dah tuh yang pasti ngacungin tangan duluan.

Selain karena titipan, kesenangan memberikan buah tangan, dan mendapatkan banyak produk kreatif lucu buat dinikmati sendiri, saya sering blunder pada banyak kemauan. Kadang juga terjebak karena masalah harga. Yah kan yang namanya buah tangan seharusnya tidak memberatkan. Baik untuk dibawa maupun secara finansialnya.

Kecuali memang karena barang titipan yang dananya sudah diberikan terlebih dahulu atau akan digantikan kemudian. Tapi itu pun saya seringkali meminta agar yang nitip menyebutkan secara spesifik di mana saya bisa membeli barang yang diinginkan. Biar gak salah pastinya ya.

Tentang Yogyakarta : Keseruan Berwisata Swafoto di Svargabumi Magelang Yogyakarta

Bertamu ke Hamzah Batik

Saat dua kali ngelencer ke Yogyakarta di 2024 dalam waktu yang berdekatan, saya hanya sempat menyusur Malioboro secara lebih rinci dan runut bersama Ipeh di kunjungan ke-2. Maklumlah. Kalau jalan bareng sesama bestie cewek kan lain ceritanya. Ada efek saling mempengaruhi dan simbiosis mutualisme yang terbangun di antaranya. Termasuk salah satunya adalah urusan belanja.

“Beli aja lagi. Lucu banget. Gak bakalan ketemu lagi yang kek gini. Belum tentu juga ada di tempat lain.”

Atau

“Iiihhh cakep banget. Udahlah beli. Lebih baik nyesel beli daripada nyesel gak jadi beli.”

Kalau udah kayak gini, runtuhlah sudah itu pertahanan bukan? Halah. Alasan. Etapi bener kan? Pasti pada banyak yang mengalami hal seperti ini.

Baiklah. Mari kita lanjutkan.

Setelah sempat berfoto bersama mengenakan kebaya Jawa yang sungguh rempong tapi seru itu, kami berdua memutuskan untuk menuntaskan penelusuran di Malioboro dengan mengunjungi Pasar Beringharjo dan toko oleh-oleh yang berada di seberangnya.

Saya sempat bingung sejenak saat menyebrang dari Pasar Beringharjo. Tertegun sekilas dengan plang nama baru yang terpasang di fasad depan toko. Tertera nama Hamzah Batik. Setelah bertanya ke salah seorang pengemudi becak, beliau menyampaikan bahwa memang benar ini dulunya adalah Mirota Batik.

Tapi meskipun sudah berubah nama, yang menjadi ciri khas yang tak berubah adalah kehadiran patung Raminten dengan ekspresinya yang tegas, berkarakter kuat dan ditaruh di pintu masuk. Raminten ini dikisahkan sebagai seorang perempuan Jawa paruh baya mengenakan kain jarik, selendang, sanggul sasakan tinggi, kebaya, serta kacamata. Riasan wajahnya cukup tebal. Pupur memutih, lisptick warna terang (merah membara), blush-on mentereng dan anting panjang yang cetar membahana.

Pengalaman pertama saya bertemu patung Raminten adalah saat mengunjungi cafe & restaurant milik Mirota bertahun-tahun yang lalu di pusat kota Yogyakarta. Saat itu malam hari dan sungguh saya kaget melihat patung ini diletakkan di pintu masuk, di pertemuan pertama tersebut. Bentuk tubuhnya yang tinggi dan padat serta sorot matanya yang tajam, membuat saya bergidik. Saya bahkan – maaf – menyangka bahwa tokoh Raminten ini adalah banci. Sebab ciri-ciri fisiknya jauh dari postur standard perempuan Indonesia yang proporsional dan tinggi rata-rata 160cm. Tapi Raminten ini sepertinya punya tinggi tubuh yang sama dengan Paula Verhoven.

Patung Raminten ini ternyata tidak hanya saya temukan di bagian depan atau teras Hamzah Batik. Ternyata juga ada di bagian tengah lantai 2 toko yang menghadirkan beberapa produk dekorasi rumah dan sebuah dinding bertuliskan “Nusantara Baru Indonesia Maju.” Di tempat ini Raminten tetap mengenakan sanggul tapi ditambahi dengan penutup kepala dari lilitan kain. Dia juga memegang tongkat kayu dengan kepala yang sedikit dimiringkan. Tatapannya? Tetap sama seperti biasa.

Belanja di Satu Tempat Serba Ada di Yogyakarta? Hamzah Batik Malioboro Solusinya
Dekorasi kayu dengan kalimat yang bikin ngakak. Tadinya pengen tak beli tapi bingung tempat naruhnya. Tunggu deh kalau cafe library saya sudah jadi

Tentang Yogyakarta : Memanjakan Rasa Mengademkan Hati dengan Masakan Rumahan di Geblek Pari Yogyakarta

Tadi saat melewati pintu masuk utama dan ditempel sticker kecil di lengan baju oleh petugas, saya dan Ipeh disambut oleh seorang penjaga pintu yang berdandan seperti prajurit dalem keraton Yogyakarta. Seorang petugas lainnya menyambut kami dengan keramahan yang menyamankan hati, lalu mengingatkan saya untuk menitipkan gembolan di bagian depan toko.

Saya sempat berkeliling sebentar di lantai bawah yang padat dengan produk fashion, khususnya kain dan baju-baju batik, lalu ada aneka camilan dan minuman. Di salah satu tempat ada bale-bale yang menghadirkan seorang mbok yang sedang tekun membatik. Lalu ada lahan/pondokan khusus untuk mencoba aneka jamu yang dilayani oleh seorang perempuan muda semlohai. Banyak juga sih yang duduk di sana sambil berbincang ringan dan mendapatkan ilmu singkat soal jamu.

Saya? Melihat petunjuk arah yang dipasang di dekat tangga, lebih memutuskan untuk melangkah ke lantai 2. Kayaknya aneka produk kreatif yang ditawarkan di lantai ini lebih menggoda untuk dilamati, dinikmati, dan diadopsi. Sebagai seorang crafter, dikelilingi oleh ribuan valuable handmade products adalah surga kesenangan juga kegiatan yang memorable.

Dan itu terbukti.

Saya dan juga Ipeh larut dalam waktu yang sepertinya gak pernah cukup. Jangankan dekorasi rumah dengan berbagai bahan dasar dan design, sekedar melihat tempelan kulkas aja saya langsung nyetrom. Sibuk aja bongkar sekian banyak tumpukan lalu merapikannya lagi.

Belom lagi berbagai produk pelengkap fashion, pilihan yang jadi langganan belanjaan saya, seperti sandal, sepatu, tas, dompet, gantungan kunci, dan masih banyak lagi. Asesories berbahan dasar kayu juga jadi perhatian utama saya. Alamakjang. Sampe bingung milihnya.

Ya ampun. Tolonglah saya. Ngeri banget dompet digital jebol di sini.

Sekilas saya melirik ke arah Ipeh lalu kemudian tersenyum penuh arti. Senasib dengan saya, sahabat gemoi yang satu ini khusyuk memilih printilan yang layak untuk dijadikan hadiah saat mengadakan quiz bagi sekian banyak mahasiswanya. Ipeh akhirnya memilih banyak gelang dengan beragam bahan baku. Cantik, unik, tapi tidak “menyiksa” dompet.

“Biar mereka tambah semangat Mbak,” ujar Ipeh lugas.

Saya setuju dengan idenya. Meski mungkin barang yang dikasih bukan sesuatu yang mahal dan wah, setidaknya kenangan yang tercipta di balik itu dan niat sang dosen untuk “membahagiakan” hati mahasiswanya, tentu harus dihargai dan diperhitungkan.

Belanja di Satu Tempat Serba Ada di Yogyakarta? Hamzah Batik Malioboro Solusinya
Seorang mbok yang tekun mengerjakan batik menggunakan canting di lantai dasar Hamza Batik

Sekedar info bagi temans yang hobi menjelajah one-stop-shopping toko seperti Hamzah Batik ini adalah jangan ragu untuk berkeliling dan melamati, memegang, dan bertanya pada petugas. Setiap jenis produk sesungguhnya ada dalam rentang harga yang beragam. Setiap materi ada yang puluhan ribu, ratusan ribu, bahkan jutaan.

Pastikan teliti melihat price tag. Seperti kamus umum yang semua orang paham, harga tinggi tentunya tercipta karena bahan bakunya memang berkualitas. Lalu ditambah dengan proses pengerjaan dan nilai manmade yang timbul dari hasil karya tersebut. Poin terakhir adalah bentuk penghargaan kita atas “mahal” nya ide seorang seniman dalam menghadirkan sebuah karya.

Saya sempat lama di area tas. Salah satu produk tergemas yang gak pernah bisa saya hindarkan atau jauh dari dompet. Astaganaga. Kalau gak ingat-ingat saya sudah menghabiskan banyak dana sewaktu liburan ke provinsi slow living ini bersama anak bungsu sekitar 1 bulan yang lewat, mungkin sedus penuh tas kombinasi antara kulit dan wastra nasional sudah terjun dan terbungkus rapi untuk dikirimkan ke Cikarang.

Gak kuat iman saya tuh kalau untuk urusan tas. Imannya setipis tissue.

Setelah melewati puluhan menit yang sangat mencabar jiwa, akhirnya saya memilih sebuah sling bag berbahan dasar semi kulit dan dilapisi oleh salah satu wastra nusantara. Kombinasi diantara 2 bahan baku inti tersebut begitu menarik. Pengerjaannya (jahitannya) rapi dengan ruang isi yang pas. Tidak kebesaran pun tidak kekecilan. Harganya pun gak bikin jidat berkerut. Tak lebih dari 200an ribu rupiah.

Puas dan rampung menjelajah lantai 2 ini, saya pun melakukan pembayaran di lantai yang sama. Bahagianya lagi dapat diskon 10%. Syaratnya gampang. Tinggal menunjukkan tiket kereta yang membawa saya datang dari Gambir menuju stasiun kereta di Yogyakarta. Mata langsung berbinar-binar. Seberapa pun diskon yang dikasih, selalu berhasil membuat saya tersenyum manis. Gampang banget yak bahagia. Makasih loh Hamzah Batik. Bisa betul menyenangkan hati para pelancong. Jalan-jalan sambil belanja di sini jadi tambah berkesan.

Oia selain tiket kereta, bisa juga menunjukkan tiket pesawat ya. Tapi saya lupa jenama maskapai apa yang bisa dapat diskon di sini. Jadi kalau terniat belanja di Hamzah Batik di Malioboro, segala tiket transportasi jangan dibuang atau file nya dihapus dulu. Lumayan kan diskon 10%.

Belanja di Satu Tempat Serba Ada di Yogyakarta? Hamzah Batik Malioboro Solusinya
Tangga yang asyik betul. Berdiri di tengah-tengah itu kita bisa menebarkan pandangan ke setidaknya 1/2 bagian dari Hamzah Batik

Tentang Yogyakarta : Menemukan Cantiknya Wastra di Batik Rumah Suryowijayan Yogyakarta

Belanja Bahagia

Ketika sedang bergulat dengan segala keinginan dan menghabiskan waktu menyusur setiap sudut rak, saya dan Ipeh memutuskan bahwa perjalanan mencari oleh-oleh kami berakhir di Hamzah Batik yang ada di Maliboro ini. Genggaman kami masing-masing sudah penuh dan padat. Semua yang diincar sudah didapat. Dan yang paling penting adalah dana yang dialokasikan buat belanja oleh-oleh juga sudah di titik nadir. Tapi biar pun dompet digital bolak-balik dipindai, memutuskan untuk meluangkan waktu di Hamzah Batik Malioboro jadi cerita belanja bahagia buat saya dan Ipeh.

Yang masih aman sentosa adalah dana buat jajan. Naahh kalo yang ini sih kastanya di atas oleh-oleh karena pemenuhan “ruang tengah badan” punya hukum pemenuhan yang jauh lebih penting. Ngeri betul kan kalau mendadak langsing karena sudah gak bisa makan enak.

Pastinya, belanja oleh-oleh di Hamza Batik Malioboro sudah solutif betul. Selain plus poin memiliki ribuan produk berkualitas dengan rentang pilihan harga yang luas, jenis yang berlimpah, tempat ini punya lokasi yang sangat strategis. Apalagi Malioboro telah sekian tahun disematkan sebagai “A Must Visit Place” saat ngelencer ke Yogyakarta. Posisinya berada persis di Pasar Beringharjo – menurut saya – adalah plus poin yang patut dipertahankan.

Capek belanja, di lantai bawah juga ada cafe. Saya tidak sempat mencoba karena waktu itu ada sebarisan/serombongan ibu-ibu yang lagi ngantri dilayani. Jadilah saya dan Ipeh memutuskan untuk kembali ke hotel dulu. Menaruh belanjaan baru setelah itu melanjutkan langkah ke beberapa tempat yang sudah kami agendakan sebelumnya.

Belanja di Satu Tempat Serba Ada di Yogyakarta? Hamzah Batik Malioboro Solusinya
Beberapa perintilan dan dekorasi rumah di lantai 2 Hamzah Batik. Pengen diborong semua deh.

Tentang Yogyakarta : Menyusur Cerita Lawas Pasar Beringharjo Malioboro Yogyakarta

Belanja di Satu Tempat Serba Ada di Yogyakarta? Hamzah Batik Malioboro Solusinya

12 thoughts on “Belanja di Satu Tempat Serba Ada di Yogyakarta? Hamzah Batik Malioboro Solusinya”

  1. Aku paliiiiing suka kalo belanja di one stop shopping begini mba. Semuanya ada. Jadi ga ribet cari sana sini lagi kaan. Apalagi makin kesini aku tuh udh ga demen compare harga. Kalo cuma beda tipis mah, hajar ajalah ๐Ÿคฃ๐Ÿคฃ๐Ÿคฃ. Ga sebanding Ama capeknya.

    Kalo Hamzah batik aku tau tp blm pernah kesana. Cuma ke raminten doang pas ke Jogja ๐Ÿ˜„. Ntr kalo ke Jogja lagi pasti aku mampirin deh beli oleh2 sinj

    Reply
    • Iiihh bener banget. Kalau sudah suka mah ngapain repot-repot nyari ke tempat lain ya Fan. Efisiensi tenaga juga.

  2. saya pas jalan di Maliooro, Hamzah Batik ini langsung menarik perhatian saya, Mbak. Ya, karena patung Raminten itu yang dandanan agak menor menurut saya dan tampang galak. Hanya saya tidak masuk karena tidak ada niat membeli.
    Padahal Hamzah Batik Malioboro ini sangat lengkap ya, Mbak. semua ada. Jadi kalau mau beli oleh-oleh tidak perlu mengunjungi banyak toko. Cukup Hamzah Batik Malioboro saja.

    Reply
    • Bener Mas Bambang. Ngider pelan-pelan aja di dalam. Biasanya nemu deh ide untuk oleh-oleh dengan segala rentang harga. Banyak yang murah meriah tapi ada juga yang harganya jutaan.

  3. Tagline “Lebih baik nyesel beli daripada nyesel gak jadi beli” ini persis banget tagline temen-temen kuliah kalo lagi jalan bareng. Soalnya engga bisa balik lagi…
    Saya pernah nih ke Hamzah Batik Malioboro. Beli yg kecil-kecil buat oleh-oleh banyak pilihannya. Tadinya engga niat beli, jadi beli. Bener-bener memanjakan mata lah kalau udah ke sini…

    Reply
    • Hahahaha tuuhh kaaann. Aku pun jadi berkiblat pada tag line ini Mbak. Apalagi merasa bahwa tempat yang saya kunjungi sepertinya bakal susah dikunjungi kembali. Bisa jadi karena jaraknya.

      Seneng ya Mbak Hani berada di satu tempat yang banjir printilan gitu. Apalagi kalau harganya ramah di kantong. Waaahh enjoyable banget dah. Bisa lupa daratan ingat lautan.

  4. Setiap ke Yogya, saya juga pasti mampir ke Mirota yang sekarang bernama Hamzah sesuai nama pemiliknya
    Dan nama Raminten itu merupakan nama panggungnya Hamzah, yang pastinya kaya “banci” wong dia laki-laki
    Terakhir ke Hamzah saya beli penggaruk punggung yang murah meriah untuk oleh-oleh :D

    Reply
    • Oalaaahh. Waaahh saya jadi penasaran dengan tokoh Hamzah ini Mbak. Pengen ngulik-ngulik ah.

      Penggaruk punggung seperti barang yang paling laris deh. Banyak banget yang beli.

  5. Aku sampai penasaran rupa dari Raminten yang ternyata ada sebagai cover. Hehehe..
    Unik yaa.. kayak Didik Nini Thowok, pada masa kejayaannya.
    Tampak luwes dan “Jawa” banget.

    Yang dipegang tasnya di foto pertama itu hasil berburu di Hamzah Batik di Malioboro, ka Annie?
    Modelnya mini-satchel bag gitu yaa..

    Aku juga gakuat iman kalo uda ketemu ama tas dan printilannya yang kiyowo kiyowoo.. rasanya suka addaaa aja alesannya buat beli.
    Wkwkkw.. “Lebih baik menyesal membeli daripada menyesal tidak membeli” yaaakk…

    Setujuu.. setuju..

    Reply
  6. Beneran deh kalau urusan cari oleh-oleh bareng teman tuh maunya ngirit jadi lost control dah. Ya, gimana. Wong, nanti teman bilang, duh lucu nih, mbak. Beli aja yuk! Ntar di Semarang nggak ada lho. Ampun dah.

    Reply
  7. Sudah mampir juga aku mba waktu ke Jogja ke Hamza Batik Malioboro banyak banget produk berkualitas jadi bisa milih2 lengkap dan lagi senangnya ada yg mbatik jadi kuta bisa lihat langsung

    Reply

Leave a Comment