Saya pernah menuliskan status “meriah” di wall FB saya. Isinya tentang meminta referensi teman-teman kira-kira film horor apa yang tampaknya menarik dan seru untuk ditonton. Iseng tapi serius itu statusnya. Karena selama pandemi dan “terkurung” di rumah, saya jadi lebih banyak waktu untuk melahap aneka tontonan. Mulai dari drama berseri sampai film putus. Satu kegiatan yang saat masih sering kelayapan jarang banget saya lakukan.

Seriusnya lagi, status itu lahir dari obrolan saya dengan seorang pembaca (loyal reader) blog ini dan menginginkan saya menulis tentang film horor. Kebetulan pula teman yang satu ini tau persis kalau saya itu penggemar berat film di genre ini. Jadi tanpa butuh waktu yang saya pun langsung menerima tantangannya. Dan daripada browsing bikin pusing, akhirnya muncullah ide untuk menampung pendapat lewat timeline FB saya.

Status itu, tanpa saya sangka, mendapatkan tanggapan yang begitu banyak. Bahkan ada yang saking antusiasnya, menghadirkan sederetan judul film, yang dikirim ke no whatsapp saya. Sayangnya 95% dari judul yang dia sampaikan sudah pernah saya tonton dan skala horornya nanggung banget. Sementara yang 5% sempat saya intip reviewnya dan nyatanya kurang begitu menarik.

Sampe akhirnya saya dapat inbox di messenger dari seseorang teman FB. Dia menyebutkan 2 film Indonesia dan 1 film Malaysia yang layak untuk saya tonton. Film yang cocok banget untuk orang-orang yang “doyan” sentuhan kengerian seperti saya. Ada 3 judul yang dia sebutkan. Perempuan Tanah Jahanam, Munafik (film pertama), dan Mangkujiwo. Saya mendadak terduduk. Ketiganya confirm belum pernah saya tonton, meski sebenarnya sudah (pernah) lewat telinga saya. Apalagi Perempuan Tanah Jahanam. Saya malah sempat melihat interviewnya di CNN Indonesia bahkan diajak teman wartawan untuk hadir di press conference nya. Tapi sayang waktu itu bentrok dengan jadwal saya ngebolang.

Saking semangatnya, ketiga film ini saya libas di hari yang sama. Baiklah. Alih-alih menonton dan menuliskan 1 film horor, saya pun menyampaikan kepada teman saya bahwa saya akan melakukan hal yang sama untuk ketiganya. Gak disangka, diapun tergerak untuk ikut menonton. Apa tanggapannya? “Edan. Aslik film horor yang keren habis. Ayok tepati janji kita masing-masing ya” (kamipun ngakak dari Sabang sampai Merauke)

Baca juga: Kisah Tanah Jawa Merapi. Petualangan Menjemput Seorang Teman di Dimensi Lain
Perempuan Tanah Jahanam. Sudahkah Kamu Mengenal Siapa Orangtua mu?
Rumah tua yang diceritakan sebagai rumah warisan Maya (Rahayu) (Sumber foto: Google)

Sekilas Tentang Film Perempuan Tanah Jahanam (PTJ)

Saya mulai ngoprek-ngoprek info soal film yang satu ini tepat di saat berita kesuksesannya pada Festival Film Indonesia 2020 mencuat. Dari 17 nominasi di ajang festival film bergengsi di tanah air ini, PTJ berhasil memenangkan 6 diantaranya. Yaitu penyunting gambar terbaik, penata suara terbaik, pengarah sinematografi terbaik, pemeran pendukung wanita terbaik, sutradara terbaik, dan film cerita panjang terbaik. Apalagi setelah pengumuman ini, PTJ terpilih menjadi wakil Indonesia dalam Piala Oscar atau 93th Academy Awards 2021. Prestasi yang patut diacungi jempol.

Lebih lanjut membaca berbagai informasi dari beberapa tautan, PTJ sebenarnya sudah dipersiapkan oleh Joko Anwar, sang sutradara, sejak 10 tahun yang lalu, sebelum benar-benar direalisasikan. Dan waktu selama itu juga bukan dibuang percuma. Dari pengakuannya, terkuak bahwa dia butuh ketelitian dan sentuhan penuh rinci untuk sebuah film yang mengundang kengerian. Termasuk diantaranya adalah memilih para pelakon. Bahkan saat merapihkan naskahnya pun Joko Anwar tak ingin sendirian. Harus ada yang mendampingi. Ah, saya membayangkan 10 tahunnya aja rasanya udah capek dan bergidik duluan.

Pemilihan lokasi shooting juga penuh cerita. Mengambil beberapa tempat seperti Malang, Gempol, Lumbang, Bromo, Lumajang, Ijen dan Banyuwangi, ada 1 desa yang belum tersentuh yang akhirnya menjadi venue utama. Untuk mencapai desa ini, tim harus berkendara sekitar 1.5jam dari Banyuwangi menuju jalan utama desa, lalu disambung dengan 2 jam berjalan sembari membuka jalur sendiri. Jalannya pun berlumpur, padat tanaman liar, yang tambah melengkapi makna terisolasi nya. Salut untuk yang menemukan lokasi ini. Siapa ya kira-kira?

Mengangkat IMPETIGORE sebagai judul lainnya, PTJ akhirnya released pada 17 Oktober 2019 dan ditonton oleh 117.001 orang di hari pertama pemutaran. Not bad untuk edisi premiere.

Baca juga: The Truth Beneath. Kuatnya Kasih Ibu yang Mampu Mengungkap Sebuah Misteri
Perempuan Tanah Jahanam. Sudahkah Kamu Mengenal Siapa Orangtua mu?
Maya dan Dini mencari makam orang tua Maya di sebuah pemakaman desa Harjosari (Sumber foto: google)
Baca juga: They Hymn of Death. Tragedi Cinta Seorang Soprano dan Sastrawan Korea

Review Pribadi

Film ini menghadirkan 5 tokoh yang memiliki peran besar untuk jalan cerita PTJ. Mereka adalah Maya/Rahayu, Nyi Misni, Saptadi, Ratih, Donowongso dan Dini.

Saya akan coba membahas penokohan ini satu persatu ya sembari nantinya akan menemani sinopsis PTJ itu sendiri.

Maya/Rahayu (Tara Basro)

Tokoh wanita yang menjadi bintang utama PTJ. Maya adalah nama masa kini. Sementara Rahayu adalah nama saat kecil yang kemudian berusaha dihapus jejaknya. Maya dikisahkan sebagai gadis berumur 25 tahun yang sedang mencari jati diri dan menggali siapa sebenarnya orangtuanya. Gadis ini sekaligus berharap bahwa kedua orangtuanya yang awalnya dia paham sudah wafat itu, bisa mewarisi kekayaan yang dapat membantu dia menghadapi kesulitan ekonomi.

Maya mendapatkan sekilas tentang dirinya dari seorang pria yang hendak membunuhnya saat bekerja sebagai petugas pintu jalan tol. Si lelaki ini menyebutkan nama asli Maya yaitu Rahayu dan bertanya apakah dia (Maya) berasal dari desa Harjosari dengan ayah yang bernama Donowongso. Dari mulut lelaki ini jugalah Maya tahu bahwa almarhum Ayahnya adalah orang yang menyebabkan desa Harjosari terkena kutukan. Berangkat dari informasi yang serba tanggung ini dan rasa penasaran untuk menggali lebih jauh tentang siapa dirinya sebenarnya, Maya ditemani Dini, sahabatnya, bergegas menuju desa yang dimaksud.

Tara Basro (Tara). Totalitasnya memerankan Maya/Rahayu mendapatkan pujian dari berbagai pihak. Seperti misalnya, bagaimana dia harus digantung terbalik berjam-jam dalam sebuah adegan yang menyebabkan pembuluh darah di matanya pecah. Ada beberapa shoot juga yang mengharuskan Tara berlari di dalam hutan. Pijakannya becek dan terlihat bagaimana dia bersusah payah menahan keseimbangan tubuh agar tidak jatuh. Terlepas dari 2 hal ini, menurut saya acting Tara cenderung flat meski juga tidak bisa dikategorikan buruk. Tara pernah jadi pemeran utama di film Pengabdi Setan yang juga disutradarai Joko Anwar. Di film itupun pendapat saya sama. Buat next movie, please deh Bang Joko, pilihlah artis yang lain ya hahaha.

Perempuan Tanah Jahanam. Sudahkah Kamu Mengenal Siapa Orangtua mu?
Tara Basro sebagai Maya/Rahayu (Sumber foto: google)
Perempuan Tanah Jahanam. Sudahkah Kamu Mengenal Siapa Orangtua mu?
Baca juga: THE CLASSIC. Takdir dan Warisan Cinta Ji-hye 지혜 dan Sang-min 노래 민

Nyi Misni (Christine Hakim)

Tokoh Nyi Misni diserahkan kepada Christine Hakim. Aktris kualitas A+ yang jadi langganan pemenang FFI. Pokoknya kalau ibu 63 tahun ini jadi candidate/nominasi piala Citra, orang pasti sudah yakin bakal dia yang menang. Seng ada lawanlah pokoknya. Christine Hakim kabarnya sempat berulangkali menolak peran ini karena dia pribadi kurang menyukai film horor dan gak suka dikagetin. Tapi akhirnya luluh juga setelah 2 tahun dirayu Joko Anwar.

Perempuan Tanah Jahanam. Sudahkah Kamu Mengenal Siapa Orangtua mu?
Christine Hakim sebagai Nyi Misni (Sumber foto: google)

Nyi Misni menurut saya sih bukanlah tokoh pendukung karena nyatanya perempuan renta inilah yang memegang atau mengetahui sekian banyak kejadian mistik yang terus berlanjut di desa Harjosari. Karakternya yang kejam dan penuh muslihat begitu sempurna diperankan oleh Christine Hakim. Meski sudah berusia lanjut, dikisahkan bahwa Nyi Misni sangat disegani dan ditakuti oleh seluruh warga desa, bahkan oleh anaknya sendiri, Saptadi, yang diangkat sebagai kepala desa.

Nyi Misni sejatinya adalah abdi dalem dari Ayahnya Donowongso, seorang ningrat yang juga adalah kepala desa Harjosari (jaman dahulu). Dari mulut Nyi Misni juga akhirnya diketahui bawah dia sering ditiduri oleh Ayahnya Donowongso, hingga akhirnya lahirlah Saptadi. Karena kepatuhannya, Nyi Misni tidak pernah menuntut apapun. Jadi sebenarnya Donowongso dan Saptadi adalah saudara seayah (bisa dikatakan sekandung kalau menilik dari aturan adat orang Sumatera).

Saat Donowongso menikah dengan sindennya, Nyai Shinta, dan lama tidak memiliki anak, sang istri ketauan selingkuh dengan Saptadi. Nyi Misni yang geram dengan peristiwa ini, akhirnya memutuskan untuk meneluh Saptadi agar lupa kepada Nyai Shinta. Termasuk saat Nyai Shinta kedapatan hamil dari hubungan terlarang itu. Nyi Misni membuat si jabang bayi, yang secara biologis adalah anak Saptadi, cucunya sendiri, lahir cacat tanpa kulit.

Kondisi inilah yang akhirnya berlanjut sebagai kutukan bagi warga desa. Jadi setiap anak yang lahir di desa itu, mereka akan terlahir tanpa kulit dan akhirnya terpaksa dibunuh.

Baca juga: THE LAST PRINCESS (Deok-hye Ongju). Mengungkap Kilas Sejarah Yi Deok-hye. Putri Bungsu Dari Kaisar Terakhir Dinasti Joseon, Korea.

Saptadi (Aryo Bimo)

Perempuan Tanah Jahanam. Sudahkah Kamu Mengenal Siapa Orangtua mu?
Aryo Bimo sebagai Saptadi (Sumber foto: Google)

Lelaki gagah dengan tampilan menawan yang juga adalah Kepala Desa Harjosari. Saptadi dipernakan oleh Aryo Bimo. Aktor yang hampir selalu mendapatkan peran penting di setiap film-film garapan Joko Anwar. Tampaknya diantara mereka ada gentleman agreement kali ya. Sampai Joko Anwar seperti kehabisan pilhan aktor yang pas untuk movie projects nya dan selalu mentok memilih Aryo Bimo. Wajah Mas Aryo menurut saya terlalu lembut untuk memerankan seseorang yang berjiwa keji.

Saptadi dikisahkan sebagai dalang yang terkenal dan selalu menurut setiap perkataan ibunya, Nyi Misni. Tidak ada jejak cerita tentang keluarga Saptadi kecuali hanya Nyi Misni. Saptadi inilah sebenarnya Ayah kandung/biologis Maya/Rahayu. Dan itupun baru dia ketahui di akhir cerita, setelah ibunya mengaku. Dia akhirnya bunuh diri dengan cara menggorok lehernya sendiri.

Ratih (Asmara Abigail)

Perempuan Tanah Jahanam. Sudahkah Kamu Mengenal Siapa Orangtua mu?
Ratih (depan) yang diperankan oleh Asmara Abigail (Sumber foto: Google)

Setelah Christine Hakim, 2nd lead actress yang menurut saya jempolan actingnya adalah Asmara Abigail yang memerankan Ratih. Garis wajahnya dan tatapan matanya pun tampak lebih mistis dibandingkan Tara. Asmara juga main di film Mangkujiwo. Dan actingnya di film horor yang satu itu, menurut saya, juga keren pake banget. Kalau saya jadi Joko Anwar, peran Maya/Rahayu akan saya berikan kepada Asmara.

Ratih dikisahkan sebagai warga desa yang sedang hamil dan hidup dari berjualan makanan. Ratih ini adalah istri dari lelaki yang berusaha membunuh Maya. Saat Maya berkata jujur tentang suaminya yang terbunuh ditembak polisi, Ratih tampak terpukul. Karena setahu Ratih, dia hanya meminta suaminya mencarikan obat untuknya di kota. Tapi ketika Maya bertanya kenapa Ratih tidak membencinya, saya cukup terhenyak mendengarkan kalimat jawabannya. “Membecimu pun tidak akan mengubah apa yang terjadi saat ini,” tapi nada bicara dan tatapan matanya tampak tidak seikhlas omongannya. Dari berbagai adegan dimana Ratih membantu Maya, sebenarnya dia tahu bahwa sumber segala permasalahan yang disebutkan Nyi Misni adalah Maya.

Kehadiran Ratih menjadi penguat Maya untuk tetap bertahan di desa Harjosari dalam mengungkap semua misteri. Apalagi setelah tahu bahwa sahabatnya, Dini, telah dibunuh oleh warga desa.

Donowongso (Zidni Hakim)

Tak banyak kalimat yang keluar dari mulut seorang Donowongso. Ekspresinya juga cenderung datar. Selempeng ekspresi wajah pemerannya. Tapi jangan salah, kekejaman lelaki yang satu ini luar biasa.

Berprofesi sebagai dalang yang sama terkenalnya dengan Saptadi, Donowongso menikahi Nyai Shinta, sindennya sendiri. Setelah hampir 10 tahun terikat pernikahan, Nyai Shinta akhirnya hamil. Donowongso diceritakan tidak mengetahui bahwa anak yang dikandung istrinya sesungguhnya adalah benih orang lain.

Saat anaknya lahir, tidak ada warga desa yang tahu bagaimana rupa si bayi, kecuali beredar bisikan yang menyatakan bahwa bayi yang lahir cacat dengan tubuh tanpa kulit. Dari sinilah kemudian yang dinamakan kutukan itu mulai merebak.

Ketegangan dan ketenangan hidup warga desa Harjosari semakin meningkat saat ada 3 orang anak perempuan berusia 5 tahun hilang. Pelakunya adalah Donowongso. Anak-anak itu dikuliti kemudian tulang belulangnya dikubur di lantai basement rumahnya. Selain kulit tersebut dijadikan wayang, tampaknya juga dijahitkan ke tubuh anaknya sendiri (Rahayu). Karena tampak setelah itu, Rahayu baru dimunculkan di depan publik. Entah bagaimana caranya, udah jangan dipikirkan ya. Karena kalo dipikir dengan logika dan teknik medis tentunya otak kita gak nyampe. Jadi anggap saja, kekuatan mistik Donowongsolah yang menjadikan semuanya mungkin.

Lanjut. Setelah berhasil “menyembuhkan” anaknya, Donowongso ternyata menjadi kehilangan akal sehat. Dalam sebuah pertunjukan wayang, dia mendadak mengamuk, membunuhi orang yang berada di sekitarnya, termasuk istrinya sendiri, Nyai Shinta. Donowongso menebas satu persatu korbannya menggunakan golok. Sajam yang akhirnya membunuh dirinya sendiri dan dilakukan oleh Saptadi.

Baca juga: VIP. Film Korea yang Sarat Ketegangan dan Kejutan.

Dini (Marissa Anita)

Perempuan Tanah Jahanam. Sudahkah Kamu Mengenal Siapa Orangtua mu?
Dini (Marissa Anita) dan Maya/Rahayu (Tara Basro) (Sumber foto: Google)

Dini adalah teman dekat Maya tapi karakternya bertolak belakang dengan sahabatnya itu. Kalau Maya cenderung pemikir, Dini dilukiskan sebagai cewek yang ceplas ceplos dan pemberani. Di awal film, kedua gadis ini dikisahkan hidup pas-pasan. Awalnya bekerja di loket tol sampai akhirnya sepakat berdagang baju di sebuah pasar. Dan itupun merugi.

Mendengar bahwa Maya ada niatan pergi ke desa Harjosari, Dini akhirnya memutuskan untuk ikut menemani. Mereka berhasil sampai di Harjosari setelah menaiki bis selama 6 jam dan dilanjut dengan delman hingga tiba ke desa. Keduanya memutuskan untuk menginap di rumah tua milik ayahnya Maya, Donowongso, setelah sebelumnya bertemu dengan Nyi Misni dan mengaku sebagai mahasiswa yang sedang melaksanakan tugas akhir membahas tentang dunia perwayangan.

Saat Maya sedang mencari sarapan untuk mereka berdua, Dini yang tinggal di rumah didatangi oleh 2 pria warga desa. Fatalnya saat kedua lelaki ini menceritakan tentang pewaris rumah yang sedang dia inapi, Dini mengaku sebagai Rahayu. Alih-alih diajak untuk bertemu Saptadi dan mengurus dokumen hak waris, Dini malah dipukuli hingga pingsan dan dibawa ke sebuah tempat di dalam hutan. Di tempat ini, Dini digantung (terbalik) dan disiksa. Saat kejadian itu berlangsung di sana ada Saptadi dan Nyi Misni. Dini langsung digorok oleh Nyi Misni untuk kemudian dikuliti.

Maya yang frustasi mencari Dini ke segala penjuru desa, akhirnya mengetahui bahwa temannya itu dibunuh, pada saat dia sembunyi di bawah meja, di rumah Ratih.

Perempuan Tanah Jahanam. Sudahkah Kamu Mengenal Siapa Orangtua mu?
Maya dan Dini tiba di rumah Saptadi (Sumber foto: Google)
Perempuan Tanah Jahanam. Sudahkah Kamu Mengenal Siapa Orangtua mu?
Dini yang digantung dan akan dieksekusi oleh Saptadi dan Nyi Misni

Bagaimana Akhirnya Seluruh Misteri Bisa Terungkap?

Semua langsung terungkap dan terbuka lebar saat tubuh Maya dirasuki oleh salah seorang dari ketiga arwah anak perempuan yang dibunuh oleh Donowongso. Saat itu Maya sedang menyelamatkan diri dari kejaran warga desa dan bersembunyi di bawah sebuah pohon.

Saat kerasukan inilah, Maya mendapatkan semua penglihatan atau peristiwa yang sudah terjadi. Utamanya saat anak-anak ini menghadapi sakratul maut. Arwah si anak juga membisikkan bahwa untuk menuntaskan kutukan Maya harus menggali tulang belulang mereka kemudian menggabungkannya dengan kulit mereka yang sudah dijadikan wayang. Arwah ini jugalah yang memberitahukan dimana letak wayang dan tulang mereka berada. Maya dengan bantuan Ratih akhirnya berhasil melaksanakan perintah tersebut. Tapi sayang, setelah itu Maya tertangkap warga kemudian digantung terbalik di hadapan Saptadi dan Nyi Misni.

Penglihatan Maya ini menjadi bagian dari pengakuan Nyi Misni yang turut menyaksikan penangkapan Maya, yang akan dieksekusi oleh Saptadi. Kejadian yang menjadi titik klimaks dari PTJ. Maya berusaha mempengaruhi Saptadi agar tidak membunuhnya dan menyakinkan Saptadi bahwa dirinya adalah anak kandung lelaki itu.

Kegigihan dan tangisan Maya lah yang akhirnya menggugah kesadaran Saptadi. Menghadapi Nyi Misni yang mengacungkan golok ke lehernya sendiri sembari berkata, “Pillih dia (Maya) atau aku ibumu?” Saptadi terlihat malah semakin melotot ke arah ibunya dan bergetar. Mendengar teriakan Ratih yang mengatakan bahwa kutukan telah terputus sambil membawa bayi sehat di pelukannya, Saptadi tanpa ragu menggorok lehernya sendiri. Nyi Misni yang terguncang akhirnya melakukan hal yang sama.

Ending yang menurut saya sesuatu banget.

Eh, baru mau bernafas sebentar, ternyata Joko Anwar tidak ikhlas membiarkan kita bahagia dengan tewasnya Saptadi dan Nyi Misni. Adalah setahun kemudian setelah peristiwa tersebut, seorang perempuan hamil yang hendak pipis didatangi oleh arwah Nyi Misni. Gak tanggung-tanggung jabang bayi yang ada di perutnya, diambil dan dikunyah oleh Nyi Misni. Halah halaaaaahhh.

Baca juga: SILENCED. Pupusnya Mimpi Menggapai Sebuah Keadilan

Beberapa Adegan dan Hal Terseru Menurut Saya

Dari sekian banyak adegan yang bikin menggigil, ada beberapa diantaranya yang terseru menurut saya pribadi:

  1. Setting tempat dan pakaian yang realistis dan disesuaikan dengan jalan cerita. Kilas balik jaman dulu ya pakaiannya mengikuti jaman itu. Begitupun ketika menampilkan masa kini. Tempat atau apapun yang menyangkut masa lalu dibuat dengan penampakan lama;
  2. Elemen tradisional yang mengiringi jalan cerita. Seperti gamelan dan suara sinden yang bikin merinding. Keduanya dihadirkan saat beberapa adegan menegangkan dihadirkan;
  3. Saat Nyi Misni dengan santainya mengayunkan golok ke leher Dini. Hal ini dia lakukan karena Saptadi terlihat ragu-ragu untuk membunuh Dini. Kengerian ini dilengkapi dengan adegan Nyi Misni menggantung kulit badan Dini yang sudah terbagi dua di depan rumahnya;
  4. Setiap adegan melahirkan yang kemudian diikuti oleh menenggelamkan bayi tak berkulit yang dilakukan oleh Saptadi;
  5. Saat Nyi Misni melakukan proses pengiriman dan pembuatan teluh untuk Saptadi dan anak yang sedang dikandung oleh Nyai Shinta. Kabarnya untuk melakukan adegan ini, Christine Hakim sempat merasakan sesuatu yang berada di luar nalar. Tapi akhirnya berhasil mendapatkan acting terbaik untuk potongan adegan penuh kengerian ini;
  6. Adegan bunuh dirinya Saptadi dan Nyi Misni. Tarikan golok yang pelan tapi mematikan dan menimbulkan efek muncratnya darah dari leher;
Perempuan Tanah Jahanam. Sudahkah Kamu Mengenal Siapa Orangtua mu?

Terlepas dari beberapa hal yang gak masuk akal, seperti banyaknya perempuan yang melahirkan dalam waktu yang berdekatan dan kemampuan Donowongso memasang kulit manusia lain ke anaknya, film Perempuan Tanah Jahanam atau Impetigore sudah melahirkan sebuah film horor atau lebih tepatnya gore thriller yang sangat berkesan, baik untuk kualitas cerita dan pengambilan gambar.

Alur ceritanya juga tidak tambal sulam. Tidak menghadirkan tokoh yang tiba-tiba nyelip. Bahkan meskipun ada scene bernuansa gelap, tidak memunculkan kepekatan yang menyulitkan kita menonton aksi apa yang sedang terjadi. Kan ada tuh film horor yang banyak adegannya digelapin eeehh tetiba ngagetin aja karena memunculkan wajah setannya. Takut enggak kaget iya.

Sukses untuk Joko Anwar berserta seluruh pelakon dan tim produksi. Semoga mampu membawa nama baik Indonesia di kancah Oscar tahun depan (2021). Saya pastinya turut berdoa.

Score saya untuk film ini adalah 9.5/10.

Sudahkah kamu mengenal siapa orang tua mu?

Perempuan Tanah Jahanam. Sudahkah Kamu Mengenal Siapa Orangtua mu?

#PerempuanTanahJahanam #FilmHororIndonesia #Impetigore #ReviewFilmIndonesia

22 COMMENTS

  1. Yang bikin deg2an nonton film ini, pas Nyi Misni. keluar.. gak Tau kenapa padahal dah sering lihat Christine Hakim tapi kok pas disini mukanya n suarannya bikin serem🤦 … suka sama alurnya kak

    • Bener banget Mbak Utie. Ekspresinya juga dapet banget. Memang lah ya, pengalaman dan kualitas acting Christine Hakim ini seng ada lawan. Fenomenal banget.

  2. Deretan pemerannya aktris kaliber Indonesia semua. Sutradaranya juga wahid. Otomatis salut karena jadi wakil Indonesia dalam Piala Oscar atau 93th Academy Awards 2021. Prestasi yang memang patut diacungi jempol. Aku cukup tahu info dan ulasannya aja, ga berani nonton haha malah stres nanti.

  3. Wah, kalau aku nonton sendirian, bakalan takut hahaha kudu ditemenin pokoknya 🤣🤣 Pemain film di sini kece2 terkenal yach, udah jaminan hasilnya terbaik dan penonton juga suka…Film2 serem seperti ini aku demen sih. Nyi Misni memang memegang peranan sempuran, cakep.

    • Wajib tonton Nur. Secara. Bakal mewakili Indonesia di ajang Oscar 2021. Jarang-jarang loh sebuah negara diwakili oleh film horor untuk festival dunia.

    • Film horor dengan sentuhan budaya mistis memang juaranya sinematografi Indonesia ya Mbak.

      Wajib nonton film ini Mbak Maria. Pantaslah para sineas Indonesia memilih film ini untuk mewakili Indonesia di kancah Oscar 2021. Semoga menang ya.

  4. Aku tahu PTJ malah dari instagramnya si Tara Basro mbak annie, awalnya gak tahu kalau dia main disitu lo, difeednya kan dia memamerkan ketidaksempurnaannya itu. Kita tahu tara basro itu juga sepertinya menggebrak doktrin bahwa wanita cantik itu harus langsing, endebre,,endebre,,,. Eh kok ngomongin Tara sih. Anyway, film yang dapet award gini masuk dalam daftar tontonanku lah

    • Film setahun lalu yang kembali naik karena FFI 2020 dan terpilihnya mereka untuk piala Oscar 2021. Semoga menang nantinya ya

  5. Aduh film ini, aku bacanya aja ngeri. Apalagi kalo nonton. Pengen deh nonton, tapi aku penakut banget. Gak punya nyali. Wkwkwkwk. Keren deh tulisannya Mbak. Saluuut. Semua dgambarkan detail tapi dengan sentuhan personal. Aku gak bisa deh nulis review sebagus ini. :)

  6. Mba, aku cukup baca reviewmu aja fix gak mau nonton, hahahha ampun dj deh sekarnag mah nonton film gore dan horror gini, tapi aku bangga loh krn PTJ ini mau jadi wakil Indonesia Academy Awards tahun depan. Keren banget!

  7. Saya belum nonton film ini, padahal nonton acara FFI di tv dan kemenangan yg berhasil diraih film Perempuan Tanah Jahanam ini. Salah satu alasannya itu, bakal ngelihat adegan gelap tetiba dikagetin gitu. Setelah membaca ulasan ini saya jadi yakin bakal nonton ini film.

    Semoga film ini sukses juga membawa salah satu piala di OSCAR 2021.

    • Beda Mbak sama film-film horor Indonesia jaman jadoel. Yg ini gak digelap-gelapin terus kita dikagetin. Cus segera nonton dan ikut mendoakan supaya sukses di piala Oscar 2021

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here