Hiruk Pikuk Pasar Modern Santa, Tempat Belanja dan Nongkrong di Jakarta Selatan

Photo of author

By Annie Nugraha

Hiruk Pikuk Pasar Modern Santa, Tempat Belanja dan Nongkrong di Jakarta Selatan

Hiruk pikuk Pasar Modern Santa. Tempat belanja dan nongkrong di Jakarta Selatan | Travel & Featured | Maret 2026

Yak kiri kiri. Kanan dikit dikit. Yak lurus. Pelan-pelan Pak. Yak sip mantab.

Arahan kang parkir di Pasar Modern Santa mengakhiri rangkaian perjalanan saya dari Cikarang ke tempat ini. Bersengaja datang lebih pagi semata-mata agar mudah mendapatkan tempat parkir dan puas menyusur setiap sudut pasar karena waktunya lowong plus belum padat oleh pengunjung.

Dan ternyata saya salah menduga.

Sepagian itu Pasar Modern Santa ternyata sudah ramai bukan kepalang. Banyak orang yang lalu lalang. Rangkaian suara tawar menawar. Tawa riang. Senda gurau. Dan kebisingan-kebisingan lainnya.

Yang namanya pasar ya selalu penuh hampir setiap waktu. Setidaknya misi mencari beragam kebutuhan rumah tangga sehari-hari semua bisa kita dapatkan di satu tempat. Ya itu di pasar. Mulai dari bumbu dapur, bahan mentah (daging, ikan, ayam), perlengkapan masak dan rumah, semua disediakan di pasar.

Hiruk Pikuk Pasar Modern Santa, Tempat Belanja dan Nongkrong di Jakarta Selatan

Melongok ke Dalam Pasar

Setelah berulangkali melongok IG @officialpasarsanta dan banyak unggahan teman-teman pejalan, travel blogger, food blogger, akhirnya rasa penasaran itu pun bangkit dan semakin menggoda. Apalagi kemudian ada salah seorang teman yang berbisnis di dunia kopi mengatakan bahwa dia cukup sering mampir ke pasar ini untuk mencicipi kopi dan berniaga dengan beberapa kedai yang memang membangun bisnis di “dunia hitam kopi”

Saya mengangguk paham. Sebagai orang yang lahir di bumi Sumatera dan sudah mengenal kopi tubruk hitam sedari balita, berita ini tentunya sangat menggugah. Jadi saat tiba di Pasar Modern Santa, saya mengajak suami untuk melangkah ke basement terlebih dahulu. Tempat di mana banyak “sarang” kopi seperti yang telah saya dengar.

Sedetik melangkah masuk, suasana hiruk pikuk pun langsung menyeruak.

Wangi kopi yang diseduh menguar ke udara dan menembus indera penciuman saya. Bersengaja melewati rutinitas ngopi di rumah saat pagi hari, saya sudah mempersiapkan diri untuk mencoba secangkir kopi hitam di sini. Nyatanya salah satu kebahagiaan hakiki per-kopi-an itu memang ada di sini. Saya pun tergugu pada kenikmatan setiap seruput dari secangkir kopi hitam Sidikalang yang kemudian dilengkapi oleh semangkok baked potatoes dengan lapisan keju tebal di atasnya. Sepasang sajian nikmat dan lezat yang ditawarkan oleh kedai Sahabat Dunia Kopi. Penamaan kedainya tampak sangat cocok dengan apa yang mereka tawarkan. Banyak pilihan kudapan yang nyatanya memang begitu pas untuk dinikmati sembari ngopi.

Ah betapa beruntungnya saya, pagi itu hadir dengan begitu sempurna.

Sembari duduk menghabiskan kopi yang dipesan, saya membuang pandangan ke berbagai sisi rubanah ini. Selain beberapa kedai penjual biji kopi yang mengusung slogan “A Cup of Indonesia” saya melihat banyak sekali orang yang terlibat dalam percakapan seru dengan para penjual. Bahkan beberapa di antaranya terlihat membawa berbungkus-bungkus kopi yang sudah digiling dengan wajah ceria. Bisa jadi mereka memiliki kedai kopi seperti teman saya itu.

Sebelum beranjak ke lantai satu, saya memutuskan untuk berkeliling sebentar di bawah sini. Ada beberapa penjahit dan jasa vermak, toko kelontong, berbagai keperluan dan atau peralatan rumah tangga, khusus penjual bumbu masakan, dan beberapa penjual berbagai bahan masakan dan gulai seperti daging, ikan, dan masih banyak lagi. Bau khas kedai-kedai ini tampak bersusul-susulan dengan aroma kopi yang beberapa menit lalu saya nikmati.

Paham bahwa saya tak tahan dengan aroma ini, suami bergegas mengajak saya untuk pindah ke lantai satu. Di sini perdagangan kebutuhan rumah tangga pun lebih terasa. Semua tampak lengkap tanpa kecuali. Saya juga menemukan satu warung yang menawarkan banyak bumbu jadi. Cocoklah buat emak-emak banci dapur seperti saya. Gak perlu capek memotong dan menggiling rempah-rempah dengan pengerjaan dan komposisi sempurna. Saya yakin, utuk mereka yang pandai dan jago di dapur sekalipun, bumbu yang sudah terolah seperti ini tuh juga akan sangat membantu dan memangkas waktu memasak.

Saya kemudian bertemu penjual kain, baju, keperluan sekolah, dan jika tidak salah lihat ada juga toko kecil yang menjual bahan-bahan kreatif. Gemas pengen tak sambangi satu persatu. Tapi udara panas yang menyerang tak membuat saya betah.

Langkah saya, suami, dan si bungsu pun berlanjut.

Hiruk Pikuk Pasar Modern Santa, Tempat Belanja dan Nongkrong di Jakarta Selatan

Menaiki tangga menuju ke lantai teratas, saya menemukan daftar “penghuni” Pasar Modern yang ditulis di atas potongan kayu yang sudah dicat warna-warni. Menarik banget visualnya.

Daftar ini membagi para tenant dengan dua golongan. Food & Beverages dan Shop Market. Saya menyempatkan diri untuk membaca dan memotret. Banyak juga ternyata para pebisnis di Pasar Modern Santa ini.

Di antaranya adalah Aku Kamu, Kopi Tunca, Bale Hejo, Matcha Nata Stand, Sabiq! Smash Burger, Toastie, Reaper Coffee, Kemenkan Compound, Nasi Kuning Santa, Little Pho, SGPC, Jivana Tea Lab, Betutu Mengwi, Siomay Mbak’yu, Kopi Senen, Meathology, Ayam Pancasona, Si Hoodie Kuning, Mie Kari Medan 26, Soto Babalong, Dendeng Crispy Indud, Warung Jangkung, Bebek Gosong, Bubos, BISIK Ice Cream, Bakmie Asta, Dis is Thaican!, dan Nuestad. Ini semua adalah layanan makan dan minuman.

Sementara untuk Shop Market ada Konkubin, Soba-Soba, Kawaru Goods, Juragan Kacamata 86, Utama Lab, POST Bookshop, Fightback, Black Bridge, Cute Monster, Fine Grain, Blinder Room, Ocra, Posum Tattoo, Laidback Blues, dan Cigar Man.

Sebagian besar tentu saja tidak saya kenali karena memang belum pernah saya temukan sebelumnya.

Yuk lah. Coba kita telusuri satu persatu. Khususnya yang ada di lantai tiga, di mana menurut infonya adalah tempat untuk makanan, minuman, toko kreatif, produk fashion, koleksi vynil dan kaset-kaset lama, dan surganya produk thrifting. Untuk tiga yang terakhir ini infonya saya dapatkan dari penelusuran ke berbagai tautan dan atau tulisan reportasi dari mereka yang telah lebih dulu menyusur Pasar Modern Santa.

Jadi gak salah ya jika sebagian besar dari mereka ini menjuluki Pasar Modern Santa sebagai salah satu tempat belanja dan nongkrong di Jakarta Selatan. Letak atau posisi nya pun ada di tengah kota. Di antara kesibukan warga selatannya Jakarta yang sarat dengan kepadatan dan kesibukan termasuk perkantoran. Seperti halnya Pasar Cihapit yang berada di tengah-tengah kota Bandung.

Hiruk Pikuk Pasar Modern Santa, Tempat Belanja dan Nongkrong di Jakarta Selatan

Di lantai 3 saya menemukan rangkaian keindahan dan kenyamanan yang berbeda karena di sini suasana dan nuansa nya sangat menghibur mata serta sangat berbeda dengan dua lantai sebelumnya. Jika di rubanah dipenuhi oleh komoditas kopi dan sebagian besar adalah sumber konsumsi basah, kemudian di atasnya dialokasikan untuk komoditas perlengkapan rumah tangga dan kebutuhan primer lainnya, di lantai teratas ini sarat dengan sentuhan kreatif.

Setengah area digunakan khusus untuk perdagangan makanan dan minuman. Baik yang menawarkan menu nusantara hingga yang kekinian dan ide sajiannya berasal dari beberapa negara. Salah satu tempatnya persis seperti foodcourt sementara beberapa yang lainnya menyewa satu hingga beberapa kios khusus dengan area tempat duduk yang cukup terbatas. Saking banyaknya saya mengalami kesulitan untuk memilih. Semua tampak begitu menggoda dengan foto presentasi yang menarik minat.

Setiap tenant yang menyewa petakan unit seukuran kira-kira 3x3m, tampil dengan sangat semarak dan aplikasi warna yang mencolok. Sebagian besar hadir dengan mural yang tampak dikerjakan oleh professionals. Keistimewaan itu juga menjadi sesuatu yang pantas untuk dipuji dengan kehadiran produk yang ditawarkan. Produk handmade kreatif, fashion lawas dan thrifting (baju-baju bekas dengan harga murah) koleksi vinyl dan kaset-kaset lawas, dekorasi rumah yang produk vintage, dan masih banyak lagi.

Menyusur setiap jengkal, setiap kios, saya merasakan bagaimana atraktifnya tempat ini. Bahkan hingga saya menemukan toko buku Post yang rada nyempil di bagian belakang. Kios nya tak begitu luas tapi sang pemilik begitu bijak menaruh display buku. Semua menempel di dinding supaya area umum dan pergerakan para tamu tak terhalang oleh apa pun. Saya sempat ngobrol sebentar dengan sang pemilik (dalam dugaan saya) tentang membangun kerja sama penjualan buku. Jawabannya sungguh diplomatis bahwa semua buku akan melewati kurasi terlebih dahulu. Nantinya bisa berupa consignment atau beli putus. Menarik juga.

Oia, di toko buku ini saya mengadopsi beberapa buku. Salah satu di antara nya adalah Ensiklopedia dari Bumi Nusantara ke Piring Kita yang diterbitkan oleh Guru Bumi. Buku yang menghadirkan banyak informasi tentang pangan lokal dari 7 wilayah nusantara. Ulasannya akan saya buat dalam artikel terpisah ya.

Di satu kesempatan. Sambil mengaso sebentar dan duduk di dekat toko yang menawarkan vinyl, saya membangun obrolan dengan dua orang pemuda yang jadi SPB (Sales Promotion Boy) untuk kedai di sana. Mereka merasakan sendiri bagaimana dulu Pasar Santa harus berhenti beroperasi selama pandemi berlangsung. Tentu saja hal ini dialami oleh banyak fasilitas publik. Sempat juga sepi bak kuburan karena biaya sewa kios melonjak.

“Semoga kembali populer ya Bu. Apalagi kan sekarang dunia medsos geliatnya luar biasa.”

Saya tersenyum penuh arti. “Medsos itu hanya salah satu alat promosi. Bagian terpenting adalah menjadikan Pasar Santa terus lebih baik. Kerja sama erat antara pengelola dan para penyewa harus konsisten dengan semangat yang sama. Dan bentuk kerja sama ini mencakup banyak bidang, banyak ide, dan banyak cara.”

Dari obrolan ini juga saya mengetahui bahwa Pasar Santa juga cukup sering mengadakan banyak kegiatan promosi seperti yang dilakukan oleh banyak pusat perbelanjaan di ibu kota. Tapi kegiatan ini sifatnya musiman dan butuh lebih banyak atensi umum. Sosialisasi makna “pasar modern” baiknya sih lebih digaungkan kembali. Tentu saja dengan mengangkat “plus poin” atau kelebihan berbelanja di pasar modern. Lebih sering angkat keunikan dan keistimewaan serta ciri khas yang membedakan Pasar Modern Santa dengan pusat pertokoan bahkan dengan banyak pasar sejenis lainnya.

Tenant nya sendiri pun harus ikut bergerak. Tidak hanya mengandalkan gerakan pengelola yang mungkin terbatas dalam berbagai hal seperti dana, personal yang bekerja, dan skill. Ikut membantu promosi segencar mungkin, mengenalkan Pasar Santa dalam lingkup networking mereka. Ini juga menjadi salah satu bukti bahwa sense of belonging bisa bekerja dengan semestinya.

Anggukan keduanya menjadikan diskusi kami semakin seru dan berlangsung hingga belasan menit kemudian. Dan menjadi semakin asyik saat diskusi santai itu menarik minat beberapa orang lagi. Canda, tawa, dan keseruan pun makin menjadi-jadi. Anak-anak muda seperti mereka yang hidup dan besar dengan fasilitas sosial dan jaringan komunikasi yang jauh lebih baik dibandingkan di jaman saya, seharusnya bisa menjadikan mereka lebih kreatif dengan forecasting review akan banyak hal yang tentunya lebih mumpuni.

Sayang kan tempat seseru ini hanya jalan di tempat?

Hiruk Pikuk Pasar Modern Santa, Tempat Belanja dan Nongkrong di Jakarta Selatan

Mengenang Cerita Lama Tentang Pasar Santa

Pasar ini sejatinya punya catatan sejarah sendiri buat saya karena saat masih ngekos di seputaran Setiabudi, tepatnya di belakang gedung Sentra Mulia – Kuningan, saya lumayan sering diajak teman untuk mengunjungi kawasan Blok Q di mana Pasar Santa berada. Saya tak pernah masuk ke dalamnya karena memang saya kurang menyukai aroma pasar tradisional. Tapi ketika itu saya dan teman-teman sering kali jajan sate yang warungnya hanya beberapa langkah dari Pasar Santa. Saya lupa nama kedai sate ini. Yang pasti dia berada di pojokan dan laris luar biasa. Parkiran kendaraan di depannya selalu padat dengan asap pembakaran yang terus mengepul tanpa henti.

Lingkungan di sekitar pasar ini dipenuhi oleh rumah-rumah mewah dan besar. Dulu sekali saat saya pertama kali menginjakkan kaki di kawasan ini, sekitar pertengahan 80-an, kehadiran Pasar Santa seakan melengkapi dan memenuhi kebutuhan ruang publik bagi lingkungan ini. Berdiri di salah satu titik strategis di antara deretan rumah kelas atas.

Dibangun sekitar tahun 70-an, Pasar Santa yang awalnya hanya satu lantai kemudian dirombak menjadi tiga lantai pada 2007. Saya mendengar berita ini dari seorang teman yang kebetulan rumahnya ada di seputaran Blok S. Area yang persis berdampingan dengan lokasi di mana Pasar Santa berada.

Dulu sekali, seingat saya, kawasan Kebayoran Baru ini dipadati oleh nuansa hijau, jalan-jalan yang lega, fasilitas umum dan fasilitas sosial yang lengkap, dan tentu saja sederetan rumah mewah dengan ukuran luas tanah setidaknya 350m2, bahkan mungkin lebih dari itu. Penamaan kompleksnya menggunakan kata Blok. Blok A, Blok M, Blok S, Blog Q, Blok B, Blok D, dan sebagainya. Dan ketika itu jika kita mengucapkan nama Kebayoran Baru diiringi dengan kata blok, dan dia tinggal di sana, publik akan langsung paham di mana kasta yang bersangkutan harus diletakkan.

Hiruk Pikuk Pasar Modern Santa, Tempat Belanja dan Nongkrong di Jakarta Selatan

Bagaimana Kondisinya Sekarang

Semenjak pindah ke Malang di 1985, balik lagi ke Jakarta di 1988, dan bekerja di beberapa tempat, di antaranya adalah di seputaran Blok M, Sudirman, dan Kuningan, saya beberapa kali berkunjung ke Pasar Santa dan Blok S. Tahun demi tahun yang saya lewati, Pasar Santa yang sekitarnya kerap berubah dengan begitu cepatnya.

Rumah-rumah yang dulu berdiri tegak di seputaran pasar berubah menjadi bangunan bisnis. Ada yang menjadi kantor, resto, dan berbagai usaha lainnya. Satu demi satu rumah berubah fungsi dengan penghijauan yang terus berkurang. Di sebuah jalan utama, di mana Pasar Santa pertama kali terhubung, sudah berdiri jalan layang untuk mengurai kemacetan. Pembangunan dan ubah fungsi kawasan yang mengejar kebutuhan kekinian.

Menyusur kawasan Petagogan, dari sebuah kejauhan saya bisa melihat bangunan tinggi dengan cat yang didominasi oleh warna kuning dan biru. Terang dan menyala. Saya mendadak terpaku bahkan hingga melangkah turun dari mobil. Berusaha mengingat kapan terakhir kali menginjakkan kaki di pasar ini. Dan itu ternyata di akhir 1998. Ya ampun. Jadi gak heran jika saya hampir tidak lagi mengenali kawasan ini.

Pasar yang tadinya dikepung oleh banyak rumah besar dan pohon-pohon serta taman hijau, sekarang diganti oleh sederetan ruko dengan rangkaian teras konblok dan dikeliling oleh pagar besi. Saya seakan terlempar ke halaman 50 setelah sebelumnya baru membuka halaman 5. Pasar yang tadinya satu lantai, luas melebar, sekarang diganti dengan bangunan tiga lantai dengan pilihan warna yang mencolok mata.

Dan berita tersedih yang saya sadari saat itu adalah bahwa tukang sate langganan sudah tidak beroperasi. Saat saya bertanya kepada beberapa orang, ternyata mereka tak tahu persis tentang itu. Duh sedih deh. Padahal kedai sate itu, menurut saya, adalah salah satu yang terbaik di Jakarta. Bahkan masih mondar-mandir dalam ingatan saya betapa umaminya potongan ayam, daging kambing, kulit ayam, usus ayam, bahkan uritan (telur ayam yang belum jadi/belum berkembang). Kuah kacangnya pun terolah dengan kematangan yang sempurna. Saya ingat, saat makan sate di sinilah, saya jadi gandrung dengan sate kulit ayam dan uritan. Ya ampun.

Saya tentunya berharap bahwa eksistensi Pasar Santa beserta hiruk pikuknya tetap menjadikan pasar ini sebagai tempat belanja dan nongkrong yang begitu dicintai oleh warga Kebayoran Baru dan masyarakat dengan cakupan yang lebih luas. Terus beroperasi dengan baik meski di kawasan ini bertebaran pusat perbelanjaan yang lebih wah dengan presentasi kekiniannya.

Kapan yok janjian ngopi dengan saya di Pasar Santa?

Hiruk Pikuk Pasar Modern Santa, Tempat Belanja dan Nongkrong di Jakarta Selatan
Hiruk Pikuk Pasar Modern Santa, Tempat Belanja dan Nongkrong di Jakarta Selatan

Hiruk Pikuk Pasar Modern Santa, Tempat Belanja dan Nongkrong di Jakarta Selatan
Hiruk Pikuk Pasar Modern Santa, Tempat Belanja dan Nongkrong di Jakarta Selatan

Hiruk Pikuk Pasar Modern Santa, Tempat Belanja dan Nongkrong di Jakarta Selatan

Hiruk Pikuk Pasar Modern Santa, Tempat Belanja dan Nongkrong di Jakarta Selatan

IG @annie_nugraha | Email: annie.nugraha@gmail.com

8 thoughts on “Hiruk Pikuk Pasar Modern Santa, Tempat Belanja dan Nongkrong di Jakarta Selatan”

  1. wah ternyata bisa kulineran di Pasar Santa

    saya pernah ke sini sewaktu ada undangan talkshow (lupa dari mana, mungkin Kompasiana atau Danone) trus ke sini karena letaknya gak jauh

    Pas sampai Pasar Santa, hujan turun dong. Andai tahu ada tempat kuliner mending nunggu hujan reda sambil kulineran ya? maklumlah kudet :D

    Reply
    • Next time kudu masuk dan menyusur bagian dalamnya Mbak. Mbak Maria kan suka masak tuh. Bisa deh beli bahan-bahan di sini atau mencoba kuliner yang begitu beragam di lantai 3. Pasti dah seru betul.

  2. Sering mendengar Pasar Santa ini tapi belum pernah masuk ke dalam. Eh malah baru tahu tepatnya di seputaran daerah jaksel2, Petogogan situ, yang lebih deket Kebayoran.
    Tahu dari konten2 org2 di Tiktok kalau di sana banyak kedai2 kopi juga soal toko2 bukunya.
    Semoga kapan2 bisa mampir.
    Kyknya semakin ke sini menjadi salah satu tempat nongkrong anak muda yang asyik juga gak sih mbak?
    Mau donk ngopi dan kulineran bareng, hayuk haha :D

    Reply
    • Yok. Kapan-kapan ngumpul rame-rame di sini sambil ngopi dan ngobrol berpanjang-panjang. Bakalan seru banget pastinya. Obrolan rekan-rekan sefrekuensi tuh gak bakalan gagal deh. Nyambung aja dari awal sampai akhir.

      Yok lah direncanakan sekalian halbil.

  3. Gak jauh-jauh dari dunia kopi, as usual, Mbak Annie. Sampai nemu kopi Sidikalang di sana. Fix, jadi surganya pecinta kopi. Ditambah baked potatoes keju, fix combo yang bikin betah duduk lama.

    Menarik juga ya kontras tiap lantainya, Mbak Annie. Dari yang benar-benar โ€œpasarโ€ di bawah, sampai yang artsy dan kreatif di lantai atas. Aku suka nih tempat kayak gini.

    Reply
    • Hidup tanpa ngopi tuh bakal garing banget Mbak. Apalagi buat aku yang sedari balita sudah menyeruput kopi hitam dengan hanya secuil gula. Rasa dan lidah tampaknya sudah terlatih sejak kecil.

      Iya Mbak. Lantai teratas itu beneran bikin kita betah untuk menyusur sudut demi sudut. Puas banget memotret di semua sisi. Gak ada yang gagal potret pokoknya.

  4. wedeeeew ajakannya menggodaku sungguh! Hayuk aja aku mah diajak kopdar ngopi cantik sama Bu CEO eeeeh.. owner PAPI yang juga ga kalah cantik ;)))

    Mana tau abis kopdar bisa terinspirasi untuk bikin antologi Pasar Santa terus Passer Baroe terus Pasar Blok M dst wkwkkkwkk.. ide loooh iniii … nyumbang ideee…

    Reply
    • Hahahahaha. Gak bosen apa ngebahas pasar lagi? Gue mah hayuk aja kalau yang lain berkenan. Ye kan?

Leave a Comment