Menginap Semalam di Hotel Santika Bengkulu

Menginap Semalam di Hotel Santika Bengkulu
Area penerimaan tamu di Hotel Santika Bengkulu

Ini adalah hari ketiga saya berada di Bengkulu. Sebuah provinsi kecil yang dulu sempat menjadi bagian dari Sumatera Selatan. Masih ada sisa satu hari lagi menyusur bumi Rafflesia ini. Dan itu akan saya manfaatkan semaksimal mungkin untuk menjelajah. Termasuk diantaranya mencoba akomodasi yang pilihannya sangat terbatas.

Mengikuti kesepakatan saya dan suami, selama empat hari perjalanan (termasuk hari kedatangan dan kepulangan), kami akan menginap di dua hotel. Dua malam di hotel bintang empat kemudian disambung dengan semalam di hotel bintang tiga. Setelah melewati berbagai pilihan dan pertimbangan, terutama review dari para pejalan, akhirnya kami memutuskan untuk dua malam tidur di Hotel Mercure dan disambung dengan menginap semalam di Hotel Santika Bengkulu. Keduanya mendapatkan ulasan yang baik dengan bendera grup yang cukup disegani di tanah air.

Tentang Bengkulu : Dua Malam Bertandang di Hotel Mercure Bengkulu

Sederhana, Bersih, dan Ramah

Saya tiba di Hotel Santika Bengkulu diiringi dengan rintik hujan yang hingga sore hari tak pun juga reda. Saya seharian itu sempat mendatangi beberapa tempat di tengah cuaca yang panas tapi mendadak harus terhenti oleh hadirnya hujan. Akhirnya saya memutuskan untuk mampir ke minimarket yang berada persis di depan hotel dan memutuskan untuk istirahat saja.

Dari depan minimarket ini saya tidak melihat bangunan Hotel Santika Bengkulu secara keseluruhan karena sebagian gedungnya, khususnya area kamar, ditutupi oleh sebuah bangunan kantor yang cukup besar. Dari jalanan depan yang terlihat adalah sebuah tenda permanen yang disanggah besi-besi besar dengan banyak meja dan tempat duduk. Areanya cukup luas dan tampak indah dihiasi oleh banyak tanaman dan lampu-lampu bulat berwarna-warni. Jika kita mendangak dari titik ini, akan tampak logo Santika dengan lampu neon yang bisa terlihat dari kejauhan.

Daniel mengendarai mobilnya pelan-pelan melewati sebuah lorong yang cukup besar. Antara gedung kantor dan bangunan di bagian depan hotel disambungkan oleh lorong ini dan atap semen permanen.

“Tenda besi depan dan bangunan di sisi kiri kita ini itu restoran Mbak. Nanti, besok, Mbak sarapan di sini,” ujar Daniel memberikan penjelasan di tengah kebingungan saya.

Setelah melewati lorong ini, di depan langsung terlihat sebuah struktur atap tinggi atau tempat khusus untuk menyambut kedatangan tamu. Drop on dan droff off tamu dilakukan di tempat ini. Dindingnya didominasi oleh kaca-kaca tebal berwarna gelap dengan dinding marmer yang juga sama gelapnya. Dinding kaca ini juga dilengkapi dengan ukiran yang memanjang. Motifnya seperti pepohonan dengan batang kayu yang tebal dan ranting-ranting yang meluas di samping-sampingnya. Kehadiran ukiran ini terlihat sangat mengimbangi fasad hotel yang terlihat kokoh. Persis di depannya dan di belakang gedung perkantoran tadi, ada sebuah tanah lapang luas untuk parkir mobil. Di ujungnya ada jalan khusus untuk keluar kendaraan. Jadi jalur masuk dan keluar dari hotel dipisahkan.

Menginap Semalam di Hotel Santika Bengkulu
Pemandangan lantai bawah yang saya potret dari depan lift di lantai dasar Hotel Santika Bengkulu

Saya memasuki ruang memanjang dengan sentuhan warna coklat yang dominan. Persis di depan pintu masuk tadi ada tiga receptionist yang bertugas yang bekerja di sebuah meja panjang dan tiga buah tempat duduk yang bermotif bambu artificial. Mereka duduk membelakangi sebuah guratan atau lukisan filigree di dinding yang panjang Tak jauh dari tempat mereka bekerja ada satu spot khusus atau gallery kecil yang menjual kain dan souvenir khas Bengkulu. Saya mendadak teringat dengan Butik Atik yang menjual Batik Besurek. Wastra asli Bengkulu dan indah dan cantik yang baru saja pagi tadi saya kunjungi.

Yang cukup menarik dari tempat penerimaan tamu ini lampu gantung yang terbuat dari kulit Lantung. Salah satu bahan yang sering digunakan oleh produsen untuk membuat banyak kerajinan tangan dan produk fashion. Kulit dari kayu yang juga sudah menjadi ciri khas dari Bengkulu. Lampu-lampu ini tergantung lumayan tinggi karena terhubung dengan tali yang titik cantol di lantai atas, lantai dengan selasar yang berfungsi sebagai mezzanine, berpinggiran dan berpagar kaca.

Karena suami telah check-in duluan, saya bersegera naik lift menuju kamar standard yang sudah dipesan. Di lantai tempat kamar saya ini, teras mezzanine yang saya lihat dari bawah tadi bisa saya jejaki. Di lantai ini, selain deretan kamar yang berjajar di depan lift, ada beberapa function rooms yang bisa disewa untuk publik. Dindingnya berhiaskan ukiran dan gantungan kain batik.

Tentang Bengkulu : Batik Besurek. Kekayaan Wastra Asli Bengkulu yang Memesona

Melewati pengalaman barusan saya mendapatkan kesan bahwa Hotel Santika Bengkulu yang saya pesan ini cukup sederhana untuk ukuran jenama grup Santika. Tapi tempatnya bersih, terawat, dengan atmosphere yang ramah.

Menginap Semalam di Hotel Santika Bengkulu
Lobby depan Hotel Santika Bengkulu

Menginap Semalam di Hotel Santika Bengkulu
Area lobby Hotel Santika Bengkulu yang saya foto dari lantai dua

Kamar Sederhana dengan Jejak Kenyamanan yang Asik

Setiap menginap di hotel bintang tiga, saya tidak pernah berharap akan menemukan kamar yang sophisticated. Dengan rate sekitar Rp600.000,00 – Rp700.000,00 per malam untuk kamar tipe terendah di Hotel Santika Bengkulu ini, kebersihan dan fungsionalitas semua peralatan serta fasilitas di dalam kamar sudah lebih dari cukup. Kasur yang nyaman dan toilet yang bersih jadi requirement penting adalah minimum syarat yang harus dipenuhi. Selainnya adalah bonus.

Dan saya menemukan itu di Hotel Santika Bengkulu.

Kamarnya sederhana saja dengan furniture yang terkesan tidak berat. Warna abu-abu mendominasi dengan tak banyak ornamen atau hiasan yang menyertainya. Hanya ada sebaris pahatan kayu dengan tema bunga dan rerumputan yang dibuat dalam satu warna, senada dengan warna yang ada di dalam kamar. Pahatan ini indah terpasang di atas bedhead. Saya jadi kepikiran untuk mencari art wall deco seperti ini untuk kamar pribadi. Simple tapi memberikan kesan dan sentuhan yang apik dan estetik.

Ukuran kamarnya sendiri tidak besar. Tapi cukup untuk memberikan keleluasaan. Layout nya mirip sekali dengan kamar kost saya di kawasan Setiabudi, Kuningan. Kost yang walking distance dari kantor. Di balik gorden abu-abu dan vitrase broken white ada sederetan kaca yang salah satunya bisa dibuka dengan sistem kunci tunggal di bagian bawah. Saya ingat sempat membuka ketika pagi di keesokan harinya. Hujan yang berterusan sejak sore kemarin dan masih berlanjut hingga pagi menuju siang, sudah meninggalkan rasa dingin yang menusuk tulang. Hingga akhirnya saya memutuskan untuk membuka jendela itu dan membiarkan udara luar masuk menggantikan hawa AC yang memeluk kamar. Lumayan untuk menghangatkan ruang tidur kami.

Oia, karena hujan yang tak berhenti di malam hari, suami memutuskan untuk berjalan sebentar ke luar hotel untuk melihat para pedagang pinggir jalan dan menemukan asupan yang hangat untuk makan malam. Ternyata di sepanjang jalan yang ada di depan hotel, banyak sekali pedagang yang tetap buka diantara hujan rintik tersebut. Suami menelepon dan memberikan opsi makanan yang sekiranya menarik hati saya. Akhirnya diputuskanlah untuk membeli sate dan lontong. Enak juga. Jadi buat teman-teman yang berminat untuk mencoba menginap di Hotel Santika Bengkulu, jangan takut untuk kelaparan. Selain sebuah minimarket yang cukup besar di seberang hotel, di sepanjang Jl. Jati, dimana hotel ini berlokasi, tersedia berlimpah sajian kuliner bisa memanjakan lidah kita. Dan hanya sekitar 200 meter dari hotel ada resto Solaria dengan ukuran outlet yang sangat besar, Pizza Hut dan Bakso Solo Simpang Lima.

Menginap Semalam di Hotel Santika Bengkulu
Kamar standard (tipe terendah) di Hotel Santika Bengkulu

Tentang Bengkulu : Menjelajah Keindahan dan Kemegahan Benteng Marlborough Bengkulu

Menginap Semalam di Hotel Santika Bengkulu
Ukiran di atas bed head yang estetik meski sederhana di Hotel Santika Bengkulu

Nasi Goreng yang Membuat Sarapan Begitu Berkesan

Saya jarang sekali menikmati nasi saat sarapan di hotel karena nasi selalu gampang membuat saya kenyang meskipun takarannya sedikit. Saya lebih memilih American Breakfast dengan pilihan bakery atau lauk pauk lainnya tanpa mengambil nasi. Tapi di Hotel Santika Bengkulu ini kondisinya jadi terbalik.

Meskipun sup dan soto dengan asap yang menari-nari saat saya lewati, kerompyang kerompyang (ini bahasa Indonesia apa ya?) salah seorang chef mempersiapkan nasi goreng di salah satu sudut resto lebih menarik perhatian saya. Dia cekatan mengolah masakan kegemaran sejuta umat ini dengan gerakan dan manuver yang jadi specialties para tukang masak.

Saya mendekat dan menikmati cooking show yang jarang bisa dinikmati secara langsung ini. Potongan bakso, telur, sedikit sayuran, kecap, penyedap masakan, dan bumbu khas (sepertinya olahan khusus dari hotel), semakin membangkitkan rasa. Wanginya, tanpa sopan, menerobos indera penciuman dan perasa saya. Langsung dong pesan seporsi. Pesan sponsor saya “gak usah banyak-banyak” ternyata tidak diperhatikan si bapak ini. Mungkin dalam hatinya dia bergumam “Jangan bilang dikit. Rasakan dulu nasgor buatan saya yang selangit mantabnya.” Tentu saja saya tidak mendengar itu karena sembari menunggu di antrian pesanan, saya mengumpulkan lauk lain yang sekiranya matching dengan sang nasi goreng. Lalu duduk dan menanti dengan sabar.

Alih-alih sempat berpesan kepada suami agar membagi nasi goreng ini untuk berdua, saya malah lahap gak noleh-noleh lagi. Lupa daratan ingat lautan. Khusuk menikmati sedapnya nasi goreng yang ternyata ditambahi pete. Salah satu unsur penyedap yang tak terbantahkan. Secara visual nasi goreng tidak estetik. Tidak tertata by details seperti standard hotel biasanya. Tapi tak mengapa kan? Yang penting rasanya maknyus tak terkira. And you know what? Langsung nambah dong. Sang chef pun langsung semangat. Bunyi prang preng prong pun kembali mengisi suasana sarapan pagi itu. Dan sama seperti di awal tadi, antrian pun bererot. Tapi saya dapat jalur prioritas dengan tentu saja kuantitas yang lebih banyak dari piring yang awal tadi dan jumlah pete yang lebih berlimpah.

Saya terduduk tepar kekenyangan tanpa menyisakan sebijipun butir nasi di piring kedua itu dan menyerah tanpa syarat (lebay). Beginilah sejatinya standard sarapan jaringan Hotel Santika yang terkenal dengan kehebatan kualitas sarapannya di lidah para travelers dan pemburu makanan lezat.

Setelah lambung mulai bangkit dari pingsannya, saya memutuskan untuk berkeliling di dalam Serunai Restaurant. Untuk hotel bintang tiga, sajiannya cukup beragam meski tidak dalam jumlah yang berlimpah. Saya melirik ada soto daging yang sempat dinikmati suami (kuahnya tasty banget), jajaran buffet dengan nasi, berbagai lauk, sayuran, acar, dan lain-lain. Tersedia juga salad dan potongan buah yang segar dan besar-besar. Kemudian ada juga masakan khas/tradisional Bengkulu seperti Pendap (ikan berbumu yang dikukus seperti ikan pepes) dan Gulai Unji Ikan Asap (ikan asap yang dimasak bersantan dengan campuran berbagai rempah, unji di sini berarti kecombrang). Serta opsi roti, sedikit jajan pasar, dan sebuah pancuran coklat yang tentunya diincar oleh anak-anak.

Seandainya yah seandainya lambung saya belum kisut, mungkin saya akan menunggu sedikit lagi, lalu mencoba beberapa yang ada. Khususnya masakan tradisional yang tidak akan atau tidak gampang ditemukan di daerah lain.

Menginap Semalam di Hotel Santika Bengkulu
Nasi goreng yang membuat saya mabuk kepayang dan teler berat

Menginap Semalam di Hotel Santika Bengkulu
Sebagian sarapan yang saya dan suami nikmati di Hotel Santika Bengkulu

Menginap Semalam di Hotel Santika Bengkulu
Cooking show nasi goreng yang jempolan. Wanginya bikin selera ikut meledak

Kenyang Sampai Siang

“Kebrutalan” makan nasi goreng di sarapan tadi, akhirnya membuat saya ngantuk, teler, dan mendadak harus “nabung” sepagian itu untuk kedua kalinya. Untung semua urusan koper, oleh-oleh, dan tetek bengek lainnya sudah beres. Jadi saya tinggal ngaso, minum teh hangat, baca buku, sembari menunggu Daniel untuk menjemput kami menuju bandara Fatmawati.

Meskipun sudah sempat mengurangi volume isi perut, ternyata kenyang yang saya rasakan kebawa-bawa sampai ke jam makan siang. Niatnya ingin mencoba pempek atau tekwan di salah satu restoran di bandara, ternyata gagal total. Kacau banget. Bibit-bibit kelaparan justru terasa saat kami tiba di bandara Soetta. Akhirnya menyempatkan makan sebentar sebelum menempuh perjalanan sekitar 2.5 jam menuju rumah di Cikarang.

Kesan saya untuk Hotel Santika Bengkulu? Recommended. Fasilitas yang ada tidak bermewah-mewah, kamarnya bersih dengan perangkat yang berfungsi dengan baik, dan makan paginya jempolan (di range angka 8/10). Petugasnya ramah. Dan yang penting adalah lokasinya yang dikelilingi oleh fasilitas umum, khususnya kuliner, yang dekat dan berlimpah. Pas banget untuk menikmati suasana malam disaat kita berkunjung ke daerah.

Menginap Semalam di Hotel Santika Bengkulu
Teras depan Serunai Restaurant Hotel Santika Bengkulu yang berada persis di pinggir jalan

Tentang Bengkulu : Menyesap Merdunya Deburan Ombak di Pantai Sungai Suci Bengkulu

Menginap Semalam di Hotel Santika Bengkulu
Pendap. Salah satu menu tradisional yang dihidangkan oleh Hotel Santika Bengkulu

Tentang Bengkulu : Danau Gedang. Salah Satu Destinasi Wisata yang Wajib Kunjung di Bengkulu

Menginap Semalam di Hotel Santika Bengkulu
Gulai Unji Ikan Asap yang juga menyelerakan

Menginap Semalam di Hotel Santika Bengkulu
Soto ini juga enak. Tapi perut saya terlalu teler untuk mencobanya

Menginap Semalam di Hotel Santika Bengkulu
Salah satu dederetan hidangan di Serunai Restaurant Hotel Santika Bengkulu

Blogger, Author, Crafter and Photography Enthusiast

annie.nugraha@gmail.com | +62-811-108-582

10 thoughts on “Menginap Semalam di Hotel Santika Bengkulu”

  1. Saya beberapa kali stay di hotel Santika Gresik untuk sekedar staycation sambil ngemal (hotel santika gresik menyatu dengan icon mall). Kesan saya kurang lebih sama sih… menyenangkan, nyaman dan pingin balik lagi rasanya. Kolam renangnya bersih dan breakfast nya juara…

    Reply
    • Paling enak nginep di hotel yang terkoneksi dengan mall. Acara jadi gak cuma nginep tapi juga shopping. Bahkan jika ada bioskop, bisa puas deh nonton berjilid-jilid. Plus jajan di mall sehabis tawaf hahahaha.

  2. Keren ih Mbak Annie, bisa bikin tulisan hanya dalam satu kunjungan

    greget banget, karena saya bolak balik mau menulis tentang pengalaman menginap ini namun selalu gagal

    Tentang Hotel Santika, saya baru tau kalo cikal bakal hotel di bawah grup Kompas-Gramedia ini terletak di Jalan Sumatra No. 52-54, Bandung

    tempat anak-anakku belajar renang, hehehe

    Ambience-nya khas, juga dekorasinya. Gak heran banyak yang fanatik cari Hotel Santika di setiap kunjungan

    Reply
  3. Khas Hotel Santika tuh ternyata makanannya tergantung dimana ia berada yaa..ka Annie.
    Kayanya pas menginap di Hotel Santika Sukabumi juga menyajikan aneka menu sarapan masakan Nusantara.

    Tapi memang jadi kepuasan tersendiri menginap di hotel berbintang. Hihihi~
    Kamarnya sungguh membuat nyaman dan istirahat jadi berkualitas.

    Reply
    • Betul. Sesuai dengan kelasnya. Tapi yang pasti kamarnya tetap nyaman dan lokasinya asik. Tetanggaan dengan banyak jajaanan dan minimarket. Banyak juga resto yang dijamin enak.

  4. Manajemen Hotel Santika keren yah. Konsisten memertahankan kualitas, walaupun cabang Santika di mana pun. Kamarnya selalu bersih.
    Kapan itu pernah menyambangi saudara yg menginap di Santika Bandung, trus ikutan sarapan deh.
    Kalau sarapan di hotel, saya pun selalu mencari stal omelet. Biasanya malah engga ketinggalan semangkuk corn flakes & susu.
    Noted yah, Santika Bengkulu pelayanannya bintang 5. Pengen ah…jelajah Sumatera.

    Reply
    • Kebersihan dan kualitas sarapan yang menurut saya jempolan untuk jaringan Santika. Kalau nilai fasilitas lain sesuai dengan kelas bintang tiga.

  5. Dari stasiun atau bandara, deket gak bun?

    Oh, iya. Sekalian mau tanya. Ada tempat gym nya gak ya? Karena kalau masalah sarapan dan makann, saya santai orang nya. Nasi goreng seperti di gambar itu saja sudah cukup bikin saya kenyang

    Reply
    • Ke bandara sekitar 30 menitan. Namanya kota kecil tetap aja gak jauh-jauh kok. Saya gak ngelihat kalo gym tapi kalo kolam renang ada. Kecil spacenya. Tapi cukuplah untuk anak-anak

Leave a Comment