Menjelajah Kemegahan Big Apple Bersama Jung Hae-in’s Walk Cumentary (Bagian 3)

Hello everyone!! How’s life? So glad to have you in my blog again.

Saya mau ngelanjutin kisah perjalanan Jung Hae-in (Hae-in) bersama 2 orang temannya Im Hyun-soo (Hyun-soo) dan Eun Jong-geon (Jong-geon) selama mereka menelusuri New York City (NYC).

Bagian ke-3 ini berisi episode 5-6 dari rangkaian reality show Jung Hae-in’s Walk Cumentary yang berjumlah total 8 episode. Bagian ke-1/pertama (episode 1 dan 2) dapat dibaca di sini dan bagian ke-2 (episode 3 dan 4) dapat dibaca di tautan ini. Supaya teman-teman dapat mengikuti tulisan bagian ke-3 ini, sila berselancar dan baca dulu 2 bagian cerita yang sudah saya tuliskan sebelumnya ya. Jadi bisa mengikuti banyak keseruan yang dialami oleh ketiga aktor KDrama ini sebelum terngiler dengan beberapa keseruan di Bagian 3 nya.

Episode 5. How To Spend Weekend in New York

Hyun-soo Breakfast, Williamsburg, Smorgasburg, Bushwick, and Brooklyn Brewery

Menjelajah Kemegahan Big Apple Bersama Jung Hae-in's Walk Cumentary (Bagian 3)
Wall Mural di Williamsburg Brooklyn | Photo source : Brooklyneagle.com

Sabtu pagi di episode ke-5 ini dibuka dengan Hyun-soo memasak sarapan untuk kedua temannya. Menunya adalah sup rumput laut, daging sapi goreng dengan bumbu/saus khusus khas neneknya Hyun-soo yang sengaja dibawa dari rumah. Nama sausnya adalah saus ikan asin tombak pasir (namanya heboh bener yak hahaha). Saus turun temurun yang sudah ada di keluarga Hyun-soo dan (katanya) endes luar biasa. Bisa buat berbagai jenis masakan pulak. Wooaaa.

Semua menu yang dimasak Hyun-soo, layaknya orang Asia, dilengkapi dengan nasi putih. Karena tidak ada magic jar, Hyun-soo terpaksa memasak nasinya di panci. Dia sempat grogi dan gak percaya diri untuk masak nasinya karena memang gak pernah masak nasi di panci. Tapi mau gimana lagi wong gak ada peralatan lainnya. Oia, semua bahan-bahan ini sudah mereka beli semalam sebelumnya di supermarket khusus masakan atau bahan makanan Korea seputaran Manhattan, tempat mereka tinggal.

Baik Hae-in dan Jong-geon sangat menikmati apa yang dimasak oleh Hyun-soo. Hanya nasinya sepertinya kelembekan sampe Hae-in bilang bahwa nasinya mirip Risoto hahahaha. Tapi kalo ngeliat lahapnya mereka makan sih sepertinya enak banget. Sepertinyaaaaa. Soalnya semua habis, tandas, tak bersisa. Apalagi liat Jong-geon yang semangat mengangkat mangkok dan menghabiskan sup rumput lautnya. Atau bisa jadi gak terlalu enak tapi tetap mereka habiskan karena menghargai usaha Hyun-soo. Entahlah. Yang pasti jika tebakan ke-2 benar adanya, berarti that was gentleman respectful attitude. Sikap menghargai atas apa yang sudah dilakukan oleh teman kita.

Sambil menunggu ke-2 temannya bersiap-siap dan tak ingin melewatkan persiapan jalan kaki ke beberapa tempat seputaran Brooklyn, Hae-in menyiapkan kopi di sebuah termos kecil. Minuman hangat melengkapi sarapan yang sudah ngenyangin banget kata Hae-in. Biar jadi tambah semangat untuk menelusuri beberapa tempat di weekend pertama mereka di NYC.

By the way, mau kemana aja nih hari ini Mas Hae-in? Dari agenda yang sudah disusun, seperti yang disampaikan Hae-in sambil berjalan kaki, mereka akan mengunjungi Williamsburg, Smorgasburg, Bushwick dan Brooklyn Brewery. 3 tempat yang disebutkan pertama adalah sudut-sudut kreatif warga Brooklyn yang disajikan dalam bentuk grafitti, wall mural, street art dan para penjual jalanan (street seller) yang sebelumnya tidak mereka duga.

Yok kita ikut kisah perjalanan mereka kali ini.

Williamsburg

Menjelajah Kemegahan Big Apple Bersama Jung Hae-in's Walk Cumentary (Bagian 3)
Wall mural di Williamsburg, Brooklyn, NYC | Photo source : Malkinphoto.blogspot

Mengintip sebuah ulasan yang tertulis di laman Tripadvisor, ternyata Williamsburg ini terbagi atas 2 yaitu area lama yang banyak dihuni oleh orang Yahudi plus beberapa etnis lainnya. Mereka yang terlihat sering berpakaian tradisional. Sementara satu lagi adalah area yang sudah modern lengkap dengan toko dan bermacam-macam restoran yang berada di area Bedford.

Sejak akhir 1990-an, Williamsburg telah mengalami gentrifikasi (proses perubahan suatu tempat yang tadinya miskin menjadi maju atau lebih maju karena banyak orang kaya yang pindah ke tempat tersebut. Penduduk baru ini membawa bisnis baru, memperbaiki rumah dan lingkungan dan biasanya pelan-pelan akan menggusur mereka yang sudah tinggal di sana terlebih dahulu). Perubahan atmosphere di tempat ini ditandai dengan hadirnya berbagai seni kotemporer, budaya hipster dan kehidupan malam yang semakin semarak mewarnai lingkungan. Banyak etnis yang tinggal di daerah ini. Diantaranya adalah Italia, Yahudi, Hispanik, Polandia, Puerto Rico dan Dominikan.

Jadi gak kaget saat kita menyaksikan ketiga Oppa ini sangat menikmati waktu-waktu mengamati setiap karya seni yang mereka liat di sepanjang jalan. Termasuk diantaranya para penjual jalanan dengan pernak pernik beraneka ragam. Kalo saya ada disitu, musti deh bolak balik berhenti untuk mengamati. Secara ya ngeliat produk perintilan yang sejatinya minim kegunaan itu rasanya nyengengin banget. Kalau akhirnya membeli, sepertinya sih karena laper mata aja. Tapi tetap aja menghibur hati. Ya kan? (iya in aja deh hahaha).

Acara keliling Williamsburg kemudian ditutup dengan belanja topi di sebuah toko yang mereka lewati menuju Smorgasburg. Banyak banget pilihannya. Berbagai model, bentuk dan warna. Tapi ke-3 lelaki Korea ini memilih topi dengan jenis yang sama hanya berbeda warna. Kompakan nih ye. Lucunya lagi mereka membeli ornamen-ornamen topi yang bisa diselipkan di sebuah pita yang melingkari lipatan topi. Ada yang berbentuk bulu, ada yang seperti pendant berbentuk tengkorak, bebungaan dan lain-lain. Keren ih.

Baca juga: 25 Situs Purbakala dan Reruntuhan Bangunan yang Mengukir Sejarah Peradaban Manusia di Dunia

Smorgasburg

Saya terus terang penasaran dengan akhiran BURG yang tersemat di ke-2 nama tempat ini. Tapi tidak menemukan satupun petunjuk atau jawaban mengenai itu. Mungkin karena mereka sebenarnya terletak sangat berdekatan dan sama-sama menghadirkan street art di hampir setiap sudut area. Atau bisa jadi karena penyeragaman nama untuk satu daerah tertentu. Sama dengan yang terjadi di lingkungan kita. Seringkali dalam satu kompleks misalnya, semua nama jalan menggunakan nama bunga, nama sungai atau nama-nama lain yang menjadi ciri khas daerah itu. Gitu kali ya (udah iya-in aja).

Lewat tautan www.smorgasburg.com, kita dapat mengulik informasi bahwa ternyata Smorgasburg ini jadi tempat diadakannya festival/bazar makanan terbuka (open-air food market festival) yang diadakan di akhir pekan dan diikuti oleh setidaknya 100 penjaja makanan yang ada di NYC. Acaranya sendiri menarik banyak pengunjung. Bahkan penyelenggaranya meng-claim ada sekitar 20.000-30.000 pengunjung di setiap event. Keren bener.

Bazar yang sudah diadakan sejak 2011 diantara Maret sampai Oktober dan diprakarsai oleh Jonathan Butler dan Eric Demby ini, setiap tahun berpindah-pindah lokasinya. Saat Hae-in datang pun tidak disebutkan lokasi persisnya. Tapi saat itu, dengan duduk di salah satu meja dan bangku kayu ukuran besar, mereka dapat melihat pemandangan borough Manhattan dari pinggir sungai Hudson.

Kalau melihat tenda yang sebagian besar terlihat biasa saja dengan layout yang mepet satu sama lain, bener membuktikan bazar ini padat banget peminatnya. Banyak foto-foto yang bisa kita dapat via google yang menunjukkan kepadatan pengunjung. Jenis makanan yang ditawarkan pun beragam dengan deretan antrian di hampir semua stand. Tak ingin membuang waktu karena ngantri yang mengular, apalagi saat itu sudah terlalu sore dan mereka sudah kelaparan, ke-3 Hyung ini pun memutuskan untuk berpencar dan membelinya berbagai jenis makanan yang unik, jarang dilihat atau belum pernah dinikmati. Setelah, tentu saja, menghabiskan 2 mangkok oyster (tiram) yang hampir tiap hari mereka makan.

Hae-in memutuskan untuk membeli jagung bakar yang adalah referensi dari salah seorang pengunjung. Hyun-soo membeli sate udang dan mie ala Sinchuan. Sementara Jong-geon membeli burger ayam pedas dari jenama Blue Chicken. Lucunya di stand Blue Chicken ini, pengunjung diajak untuk menandatangani selembar surat pernyataan pengabaian (Sign Waiver) yang kalimatnya adalah “You are (customer) idiot for the damage you will be causing your mind, body and spirit for attempting to eat the Blue Chicken’s Nashville Extra Hot”. Satu tantangan yang membuat Jong-geon akhirnya memutuskan untuk membeli burger ayam goreng dengan level terjahanam.

Karena tantangan itulah, akhirnya mereka memutuskan untuk mencoba Blue Chicken terlebih dahulu diantara semua yang sudah dibeli. Hasilnya? Hanya Hae-in, si penyuka makanan pedas, yang berhasil bertahan dan menghabiskan burgernya. Sementara Hyun-soo dan Jong-geon langsung menyerah setelah gigitan ke-2. Duh mendadak ikut kepedasan dan mules saya ngeliatnya. Apalagi crew video sempat merekam bagaimana proses ayamnya digoreng lalu dicelupkan ke baskom berisikan sambal cair berulang kali sebelum ditaruh di dalam roti bulat itu. Edun ah. Untunglah hanya burger itu yang cukup menyiksa. Yang lainnya sih sukses enaknya. Kalo saya sih menetes liur melihat sate udangnya. Ukurannya gede-gede dan tampak menggoda dengan bumbu yang bolak-balik dioleskan. Tapi lucunya, ketiganya sepakat bahwa sate udangnya itu mirip sate ayam. Setidaknya mereka bilang rasa udangnya seperti rasa ayam hahahaha. Kok bisa ya? Kocak banget deh.

Menjelajah Kemegahan Big Apple Bersama Jung Hae-in's Walk Cumentary (Bagian 3)
Padatnya Smorgasburg Food Festival | Photo source : blog.jovempan.uol.com.br
Menjelajah Kemegahan Big Apple Bersama Jung Hae-in's Walk Cumentary (Bagian 3)
Nachos | Menetes liur liat fotonya aja ya | Photo source : Pinterest
Baca juga : Museum Nasional Indonesia (Museum Gajah). Kantung Peninggalan Sejarah Terbesar di Indonesia

Bushwick

Baca juga : Sepenggal Peninggalan Sejarah Kejayaan Imigran Tionghoa di Tjong A Fie Mansion, Medan

Dari beberapa artikel saya baru ngeh kalau Bushwick di Brooklyn ini adalah salah satu sudut kota yang pertama kali didirikan oleh Belanda. Negara yang sempat menjajah Amerika pada abad ke-17. Hingga 2 abad kemudian Bushwick tumbuh menjadi lingkungan yang diisi oleh para imigran Jerman dan keturunannya. Lalu masuk juga imigran Italia di 1970-an dan etnis Hispanik pada akhir abad ke-20. Dan bertambah lagi dengan kedatangan etnis Puerto Rico dan sebagainya. Jadi gak salah ya kalau kita berasumsi bahwa salah satu bagian dari NYC ini adalah ranahnya para perantauan.

Dinamika budaya pun berkembang di komunitas Bushwick. Dari sedikit penjelasan Hae-in kepada teman-temannya, dia mengutarakan bahwa area ini dulunya rawan sekali dengan kejahatan. Tapi akhirnya mulai membaik dan kondusif. Street art nya pun semakin berkembang karena 2 area lain yang berada di dekat Bushwick yaitu Williamsburg dan Smorgasburg sudah sangat padat.

Jadi saat menelusuri jalan di Bushwick, ketiga lelaki Korea ini menemukan lebih banyak wall mural yang jauh lebih bervariasi. Asiknya lagi mereka bertemu dengan Jeff yang mengaku sebagai guide grafitti tour. Keseruan pun sangat terasa dengan hadirnya Jeff. Mereka bisa lebih memahami berbagai lukisan yang mereka nikmati.

Beberapa yang tema lukisan yang dijelaskan Jeff antaralain adalah Phetus (monster face), Espatarco (people expressions), Space Invader (yang idenya diambil dari sebuah game on line berjudul World Invasion Map). Kemudian ada Bombing (paper and painting yang tidak hanya di dinding tapi juga di atas jalan setapak), Names Grafitti (sign of the artist), dan Notorious Big Face/Biggie (seorang rapper terkenal yang wajahnya dilukis dengan teknik 3D). Masih banyak lagi yang mereka lihat sesiangan itu di Bushwick. Bahkan sebagian besar diantaranya adalah collective works dari beberapa orang mural artist yang hasil karyanya bernilai seni tinggi. Sangat mengagumkan. Dan yang pasti instagramable banget untuk diabadikan di media sosial.

Oia, saat asik berjalan mereka bertemu dengan sekelompok anak muda yang akan membuat video (musik) dengan latar belakang sebuah lukisan. Mereka tampil dengan dandanan hip-hop yang cerah ceria. Beberapa dari mereka mengenak kalung rante tebal berwarna keemasan. Hyun soo sempat meminjam, mencoba dan berfoto mengenakan kalung itu. Dan gak berhenti tertawa saking senengnya. Tau bahwa Hae-in dan teman-teman datang dari Korea, mereka langsung mengucap BTS. Wow!! kalimat “Who doesn’t know BTS. They are very popular here” pun membuat saya terhenyak. Tapi emang mungkin sih pada kenal karena nyatanya fans base BTS atau anggota ARMY yang terbesar jumlahnya adalah di Amerika. Salut ah.

Baca juga : BANGTAN SONYEONDAN di mata READER’S DIGEST. A Force For Good BTS A.R.M.Y
Menjelajah Kemegahan Big Apple Bersama Jung Hae-in's Walk Cumentary (Bagian 3)
Salah satu wall mural di Bushwick | Photo source : Playgrounddetroit.com
Menjelajah Kemegahan Big Apple Bersama Jung Hae-in's Walk Cumentary (Bagian 3)
Wall mural di Bushwick | Photo source : Clydefitchreport.com
Menjelajah Kemegahan Big Apple Bersama Jung Hae-in's Walk Cumentary (Bagian 3)
Wall mural di Bushwick | Photo source : Trover.com

Brooklyn Brewery

Menjelajah Kemegahan Big Apple Bersama Jung Hae-in's Walk Cumentary (Bagian 3)
Attractive beer drums | Photo source : Enterpreneur.com

Sebagai salah seorang penggemar dan pecinta bir, sayang rasanya jika Hae-in melewatkan tempat yang satu ini. BROOKLYN BREWERY. Satu jenama produsen bir yang bermarkas di Brooklyn dan sudah berdiri sejak 1984. Brooklyn sendiri adalah pusat produksi bir di Amerika dengan berbagai jenis bir yang sudah menjelajah di hampir setengah bagian dari Amerika serta lebih dari 30 negara di dunia. Eksperimen yang berani, kolaborasi dengan para pembuat bir, inovasi yang terus menerus, membuahkan banyak prestasi untuk Brooklyn Brewery, khususnya bagi Garrett Oliver sang peracik utama untuk tempat ini.

Hingga saat ini, Brooklyn Brewery sudah menciptakan dan menghasilkan setidaknya 20 jenis bir yang dapat dinikmati oleh para pelanggan. Di mother store mereka, tempat yang dikunjungi oleh Hae-in dan temannya, tersedia ruang incip, factory outlet (souvenir, outfit, dan lain-lain), ruang duduk yang sangat luas, dan kesempatan untuk mengikuti factory tour khusus untuk akhir pekan. Ketiganya pun tak melewatkan kesempatan untuk menikmati layanan tur yang ada. Setidaknya bisa melihat bergentong-gentong besar bir yang sedang diolah dan langsung disajikan di tempat.

Decak kagum pun terus bermunculan dari mulut ketiganya terutama saat menikmati berbagai macam jenis bir yang mereka pesan. Dan para Oppa ini sepakat bahwa Brooklyn Larger lah yang terbaik. Pendapat yang jitu karena memang Brooklyn Larger sangat populer, paling digemari oleh para peninum bir sejati dengan tingkat penjualan yang tinggi. The best in taste and sales point.

Sungguh penutup acara jalan-jalan yang begitu sempurna untuk mereka bertiga.

Yang ingin mengetahui lebih lanjut tentang Brooklyn Brewery, silahkan meluncur ke official website mereka, www.brooklynbrewery.com. Banyak banget informasi tentang sejarah berdirinya, ragam pencapaian dan berbagai kegiatan mereka dari awal hingga kini.

Menjelajah Kemegahan Big Apple Bersama Jung Hae-in's Walk Cumentary (Bagian 3)
Bar dan area duduk yang terlihat sangat luas. Perhatikan deh tuas-tuas yang ada di dekat meja bar. Masing-masing tuas dilengkapi dengan nama jenis bir yang mereka sediakan. Efektif dan efisien banget untuk melayani tamu | Photo source : brooklynbrewery.com
Menjelajah Kemegahan Big Apple Bersama Jung Hae-in's Walk Cumentary (Bagian 3)
Gelas plastik yang digunakan untuk konsumen dan beberapa tuas keran bir dengan berbagai nama dan warna yang sangat menarik | Photo source : Yourbrooklynguide.com

Episode 6. Endless Saturday Night

Homemade Dinner, Driving on Rainy Day and Blood Manor

Setelah tadi pagi Hyun-soo memasak sarapan untuk mereka bertiga, kali ini Hae-in dan Jong-geon memutuskan untuk membuat makan malamnya. Heboh banget pokoknya. Dari semua bahan-bahan yang dibeli kemarin, mereka berdua membayar kangen akan makanan rumah. Ada Tteokbokki, iga dan daging sapi goreng, pangsit, sup Jjamppong dan Ramyeon. Buanyak pulak porsinya. Maklumlah standard quota 3 lelaki dewasa.

Oia, kalau Hyun-soo membawa saus buatan neneknya, Jong-geon sengaja membawa Kimchi buatan mertuanya. Ah serunya. Lengkap sudah menu Koreanya ya. Dan semakin menarik karena mereka melakukan kebiasan suap menyuap yang sepertinya, kalau saya tidak salah, sering banget dilakukan di Korea. Satu sentuhan yang menurut saya bisa melahirkan keakraban dan kedekatan. Di kita rasanya hampir gak pernah ya? Kecuali ya untuk bayi dan balita atau untuk orang sakit yang tidak bebas bergerak.

Makan malam di rumah ini menutup rangkaian kegiatan mereka di Sabtu itu.

Rampung melihat mereka yang begitu lahap, keesokannya, Minggu pagi, Hae-in memutuskan untuk mengajak kedua temannya berkendara di tengah hujan mengelilingi pusat kota dan menelusuri sungai Hudson, dari New Jersey hingga Manhattan. Menyewa MPV mewah (sepertinya merk Ford), Hae-in menjadi supir pribadi dan menikmati asiknya berkendara dengan udara yang nyaman di pagi hari.

Selama perjalanan inilah mereka bertiga, khususnya Hae-in dan Hyun-soo, mengulas tentang pengalaman mereka selama melaksanakan wajib militer. Hae-in yang ditempatkan di Angkatan Darat menceritakan bahwa dia ditugaskan untuk menjadi supir dari seorang Komandan Bintang 2 (sekelas Letnan Jendral). Sempat mengalami kecelakaan karena kelalaiannya. Sementara Hyun-soo bergabung dengan Marinir dan bertugas untuk menjaga mortir (yang bentuknya bulat-bulat dengan ukuran lebih besar sedikit dari bola bowling). Terus terang, sampe mereka selesai ngobrolin ini, saya belum kebayang gimana tugas menjaga mortir itu hahahaha.

Menyambung pembahasan di atas, frankly, saya pribadi setuju loh dengan program wajib militer ini. Malah berharap agar hal serupa bisa dilakukan di Indonesia. Diwajibkan untuk setiap pria selama 2 tahun sebelum mereka menginjak usia 30 tahun. Salah satu titik krusial yang bisa menumbuhkan rasa cinta akan tanah air dan tahu bagaimana rasanya bekerja dalam satu tim di bidang militer. Pengetahuan dan pengalaman yang mungkin suatu saat (sangat) dibutuhkan dalam bela negara.

Tidak ada kelanjutan tentang kemana mereka berkendara atau menghabiskan siang ke sore di hari itu. Tapi yang pasti Hae-in, selama di mobil, sempat mengungkapkan bahwa dia ingin menyempatkan diri untuk berbelanja. Dan sepertinya di-iya-kan oleh Hyun-soo dan Jong-geon.

Kegiatan berikutnya, tepatnya di malam hari, mereka mengunjungi Blood Manor The Haunted House. Rumah Hantu yang hanya dibuka di bulan Oktober, waktu-waktunya perayaan Halloween. Sebuah lorong meliuk di dalam dinding 359 Broadway, bangunan yang sekarang ditetapkan sebagai tempat atraksi hantu Halloween yang paling mengganggu dan paling mengerikan di NYC. Kalau ingin membaca cerita lengkapnya, mulai dari sejarah berdiri dan those incredible stories behind it developed, bisa teman-teman baca di kanal resmi mereka, www.bloodmanor.com. Info lengkap tentang harga tiket, waktu buka, events yang sedang akan akan mereka adakan, beberapa petunjuk resmi pun dapat ditemukan di website yang halaman depannya saja sudah banjir warna darah hahahaha.

Yang pasti The Hyungs ganteng-ganteng itu banjir kaget dan dikagetin zombie dalam berbagai bentuk dan jenis kelamin hahahaha. Nyaris tak ada jeda. Oia, sebelum mulai petualangan yang seru ini, ada satu aturan yang wajib dipatuhi selama di dalam arena adalah untuk tidak menyentuh semua hantu dan setiap aktor hantu pun tidak diperkenankan untuk bersentuhan dengan para tamu. Kalau disimak sih sebenarnya bukan rasa takut yang timbul tapi lebih pada kaget karena semua aktor/hantu itu sembunyi lebih dulu atau mereka acting jadi patung terus tetiba bergerak. Kalau ada yang latah nabok bahaya banget loh itu. Lucunya Hae-in, karena keliatan makin pucat, di pintu keluar sempat dikagetin lagi oleh salah seorang penjaga. Saya mendadak ketawa ngakak. Apalagi liat ekspresinya yang kaget luar biasa dan langsung lemes terduduk.

Saya rasa, dari pengalaman di atas, mungkin itulah kali pertama dan terakhir bagi Hae-in untuk mengunjungi Blood Manor (nulisnya sambil ketawa).

Wes aaahh. Sampai ketemu di episode 7 dan 8 yang akan menjadi bagian ke-4 (bagian terakhir dari rangkaian Walk Cumentary ini. See you!!

Menjelajah Kemegahan Big Apple Bersama Jung Hae-in's Walk Cumentary (Bagian 3)
Menjelajah Kemegahan Big Apple Bersama Jung Hae-in's Walk Cumentary (Bagian 3)

#JungHaeInWalkCumentary #WalkCumentary #JungHaeIn #ImHyunSoo #EunJongGeon #WalkDocumentary #TravelVlog

Related Stories

Menjelajah Kemegahan Big Apple Bersama Jung Hae-in's Walk Cumentary (Bagian 3)

Discover

KOREA WANDERER. Sebuah Perjalanan Untuk Kembali Pulang

Dua kata yang pas buat buku ini:...

SANTIKA Pasir Koja Bandung. Weekend Getaway di Awal...

Setelah 2 minggu yang lalu ke Bandung untuk koordinasi dengan kurir/jasa angkut...

ICA MARISA. Sebuah Cinta yang Hilang di Awal...

Saya tak pernah menyangka bahwa Jumat sore, 1 Oktober 2021, sekitar pkl....

HARPER Hotel Cikarang. Merenda Kenyamanan Menginap di Lippo...

Menginap over the weekend biasanya saya lakukan...

Popular Categories

Comments

    • Yup betul Mbak Dian. Dia juga jadi produser acara ini. Kalo ngikutin dari episode 1 – 4 (Bagian 1 dan 2) lebih seru lagi Mbak.

  1. Warna warni banget daerahnya. Aku juga suka acara seperti ini. Kalau Hae-in aku belum pernah nonton. Jadi penasaran pengen nonton. Kak kok gak ada foto mereka bertiga? hehe

    • Seru ya kalo nonton acara jalan-jalan. Kita jadi berasa ikutan traveling.

      Nah sayangnya aku gak menemukan foto-foto/jepretan resmi dari acara ini. Udah browsing kesana-sini gak nemu juga. Kalaupun ada, resolusinya kurang bagus karena hasil screen shot.

    • Iya. Lebih seru ngikutin mulai dari episode 1. Saya sengaja nulisnya per 2 episode supaya gak jenuh mbacanya.

  2. bacanya nambah wawasan banget. Galfok sama nama sausnya, langsung ngebayangin ikan asin berjajar lagi nancep di pasir wkwkwk.
    Btw, aku juga setuju seumpamanya ada wamil di Indonesia, biar rasa nasionalisme ank muda makin tebal. Enggak mikirin nongkrong sana sini aja…

    • Lucu banget memang bagian perkenalan saus itu Mbak. Saya bolak-balik ngekek waktu Hyun-soo ngomong panjang lebar soal saus itu.

      Ya Mbak. Bermanfaat menurutku wamil itu. Apalagi untuk anak-anak yg doyan tawuran itu. Mungkin dengan wamil, semangat mengeluarkan energi berlebih mereka bisa tersalurkan dengan baik

  3. Wah, seru banget jalan-jalannya mereka bertiga ya..bagian makan, makan dan makan,bikin ngiler aja. Liat tayangan orang Korea masak dan makan bersama selalu bikin iri, akrab dan hangat!
    Mata pun pasti dimanjakan keunikan wilayah Big Apple yang di episode ini dipenuhi mural dan graffiti cantik.
    Dan senangnya, obrolan kocak ngalir banget di walking report show seperti ini..penonton jadi menikmati dan ketawa-ketiwi sendiri hihii
    Dan, menyoal wamil, saya setujuuu!!

    • Iya Mbak Dian. Apalagi kalau perginya dengan teman-teman dekat yang sudah sehati dan mengerti kebiasaan satu sama lain. Pasti acara travelingnya tambah seru dan penuh kesan. Bondingnya juga pasti lebih baik. Acara-acara gini tuh inspiratif untuk group traveling ya Mbak.

      Nah. Toss kita. Secara anak-anak sekarang banyak yg makin gak peduli dengan isu kebangsaan dan cinta tanah air. Wamil salah satu cara yang pas ketimbang hanya dijejalin teori.

  4. duh aku tuh suka mupeng kalo nonton film barat tuh liat street foodnya kaya tadi difotomu mba, nachosnya looks yummy banget hahahha, seru yaaa menjelajah NY tuh

    • Nyenengin ya nonton program-program TV seperti ini. Ada 2 sisi yang menarik. Touristic venue dan kuliner nya.

  5. Aaaah aku terdampar lagi di Big Apple!
    You are such an amazing “storian: ayuk Annie! Really appreciate that!

    Aku bintangin nih, jadi pada saat lelah, tulisan tulisan di blog ini memang selalu membawa new spirit buatku hihi…. aku kayak di bawa jalan jalan beneran loh ini, ulalaaaaa

    btw terkikik geli baca saus ikan dan aku sampe googling – adanya Saus Ikan Nonghyup Areumchan – Saus ikan Nonghyup fermentasi Korea – so it is new experience for me, thanks!

    Besok aku mo dibawa jalan jalan ke mana lagi nih?

    • Wooaahh makasih untuk complimentnya Mbak Tanti. InshaAllah pengen bisa lebih baik lagi menghadirkan kisah-kisah perjalanan yang menyenangkan untuk dibaca dan melahirkan ide-ide untuk melakukan traveling.

      Tinggal menyelesaikan bagian ke-4 nih Mbak. 2 episode terakhir dari program ini.

  6. Sumpah ini postingan soal travel yang bikin aku ngiler banget.. It’s one of my big dream. Huhu… Ga kuat liat fotonya ih. BTW, aku bener-bener salfok sama fotonya. Sorry ya kak. Itu pakai preset kakak sndiri yg buat ya? Bagus banget.

    • Foto-fotonya saya ambil dari berbagai sumber kemudian saya edit sedikit biar kelihatan lebih enak buat dilihat. Ngeditnya di Macbook Mbak Nisa

    • Saya setuju Mbak. Dengan grentifikasi pemerataan akan lebih terasa. Tentu saja dengan catatan bahwa mereka yang pindah ke tempat baru itu mau menggalakkan roda perekonomian di sana. Efek positif yang tentunya diharapkan oleh mereka yang didatangi

  7. Hai mbak Annie, salam kenal… aku terpukau sekali dengan cerita dan foto2 yang mba annie sajikan..

    grentifikasi? aku baru dengar sih, mikirnya langsung gratifikasi malah tadi tuh. Bisa banget tema grentifikasi ini digaungkan lewat tulisan nih, menarik. Hasilnya juga positif untuk kehidupan sosial ekonomi masyarakat yaa nampaknya.

    • Hai Mbak Ghina, terimakasih juga sudah mampir.

      Yup setuju Mbak. Grentifikasi bisa jadi sarana untuk pemerataan kualitas hidup masyarakat. Bisa nih ditiru untuk beberapa provinsi di tanah air ya.

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here